Wednesday, October 9, 2013

Karena


Hmm, bercerita tentang Amii, hal yang sudah lama tidak aku lakukan di sini. Ya, bagaimana aku mau mengungkap kalau rasanya bagaikan mengupas luka-luka yang sedang kuusahakan mengering? Aku jadi ingat betapa dulunya aku teramat berat meninggalkan dia. Namun setelah kupahami hakikat move on, aku jadi berniat untuk save my life dari jeratan masa lalu. Dari kontak yang selama ini masih terjalin, aku menilai bahwa he’s not worth to fight. Yeah, mau gak mau aku harus rela menerima faktanya, kan?

Kamu tau, pikiran bodoh apa yang sebelumnya mengakar di benakku? Aku gak mau kontak sama dia lagi. Toh aku sudah gak ada artinya kan buat dia? Konyol. Atau, lihat ya, pokoknya aku gak mau ketemu face to face sama dia sebelum aku berhasil jadi orang sukses! Biar tau rasa dia udah nyia-nyiain orang kayak aku. Huh! Alay banget, kan?

Tapi perbuatan bodoh yang malah aku lakukan adalah mengingkarinya. Gak kontak? Preet, liat aja di inbox, thread-ku lumayan panjang tuh. Buang nomernya dari daftar kontak? Iya, tapi buktinya malah aku masukin lagi.

I do the opposite. Sebenarnya itu lho, solusi brilliant di saat-saat kritismu menjalani move on. Kenapa?
Karena dengan cara yang biasa, tak usah alay buat sok ngelupain dia, hal yang masih menggelayutimu akan lepas perlahan. Kontak dia, kalau kamu ingin dengar kabarnya gimana. Tapi jangan keseringan ya, sekadarnya aja. Inget, statusnya udah berubah. Hak dan kewajibannya juga. : ) Pengen jalan bareng ama dia, gak dilarang kok. Orang yang statusnya cuma temen berhak kok buat ngajak jalan. Tapi yang perlu diingat, gak usah ngarepin dan ngelakuin sikap mesra.

Ngelupain dia? Gak usah. Buat apa, toh dia nggak membebani hidupmu secara lahir. Yang perlu kamu lupakan adalah apa yang belum pernah terjadi. Jadi, lupain kalo dia punya janji di masa depan sama kamu dan lupain angan yang pernah kamu buat untuk masa mendatang. Seperti aku, yang juga harus melupakan angan memberinya kaos lukis buatanku untuk hadiah ultah Amii selanjutnya.

Pernah terpikir nggak sih, kenapa aku selalu mengingkari tekad untuk berjarak dengannya? Karena aku tetap menginginkannya ada sebagai teman. Ya, bagaimana kalau aku ingin share sesuatu? Bagaimana kalau aku ingin ditemani nonton ke bioskop? Bagaimana kalu aku pengen pinjem buku? Mau bagaimanapun juga, dulunya sebelum rasa itu ada, dia merupakan temanku. Dan perlakuanku ke dia selama ini nggak hanya mencinta yang berakibat kebencian nyata kala tidak berakhir bahagia, tapi bagaimana aku bisa menjadi teman yang membuatnya nyaman kalau aku berada di sisinya.

So, Amii masih teman baikku. Best friend ever.

2 comments :

  1. kalo menurut kamu..cara bahagiain cewek gimna siih??aku pingin sekali bahagiain dia..tapi aku gak mau dia kecewa :(

    ReplyDelete
  2. Ya kamu kudu ngerti apa yang dia mau. Tapi enaknya sih kalo ada apa-apa ya diomongin biar gak ada salah paham. :)

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))