Karena


Hmm, bercerita tentang Amii, hal yang sudah lama tidak aku lakukan di sini. Ya, bagaimana aku mau mengungkap kalau rasanya bagaikan mengupas luka-luka yang sedang kuusahakan mengering? Aku jadi ingat betapa dulunya aku teramat berat meninggalkan dia. Namun setelah kupahami hakikat move on, aku jadi berniat untuk save my life dari jeratan masa lalu. Dari kontak yang selama ini masih terjalin, aku menilai bahwa he’s not worth to fight. Yeah, mau gak mau aku harus rela menerima faktanya, kan?

Kamu tau, pikiran bodoh apa yang sebelumnya mengakar di benakku? Aku gak mau kontak sama dia lagi. Toh aku sudah gak ada artinya kan buat dia? Konyol. Atau, lihat ya, pokoknya aku gak mau ketemu face to face sama dia sebelum aku berhasil jadi orang sukses! Biar tau rasa dia udah nyia-nyiain orang kayak aku. Huh! Alay banget, kan?

Tapi perbuatan bodoh yang malah aku lakukan adalah mengingkarinya. Gak kontak? Preet, liat aja di inbox, thread-ku lumayan panjang tuh. Buang nomernya dari daftar kontak? Iya, tapi buktinya malah aku masukin lagi.

I do the opposite. Sebenarnya itu lho, solusi brilliant di saat-saat kritismu menjalani move on. Kenapa?