Monday, July 21, 2014

Wishing Another Birthday Story


Hihi, selamat bertemu kembali, Kawan! Kali ini aku jamin suasana hati sedang netral sehingga tidak akan tercipta postingan yang ‘nyampah’. Duuuh malunya diriku ketika postingan Fake a Smile yang sudah kuhapus itu terlanjur dibaca oleh orang lain yaitu mas WihikanWijna yang juga sering mampir ke blog ini. Makasih banyak atas nasihatnya di kolom komentar ya… bisa jadi masukan berharga kok. :)

Buat yang beruntung belum sempat membaca Fake a Smile, aku jabarkan sedikit intisarinya, ya. Jadi kemarin di hari ulang tahunku itu, aku sama sekali tidak bisa merasakan kebahagiaan dari apa yang diberikan oleh my hunny kemudian aku merasa amat kecewa. Tapi ternyata aku hanya menahan kekecewaan itu, bukan mengendalikannya, sehingga pada akhirnya emosiku pun meledak bagai rudal yang menyerang pesawat MH17.

Sebenarnya apa yang salah? Harusnya gak ada. Ini mungkin hanya buah kekecewaan dari apa yang kita ekspektasikan tidak berujung nyata. Padahal aku juga mengharapkan hal yang standart-standart saja tapi ternyata… untuk hal sestandart itu pun my hunny tak bisa memberikannya.
Aku kecewa saat makan di Carpentier menunya itu-itu saja dan porsi pancake-nya yang gede bikin aku eneg. Aku kecewa saat ia tak memberiku cake dengan lilin-lilin kecil di atasnya. Aku kecewa dengan kado jam beker-nya, salah satu barang pemberian orang yang tidak kusuka selain pigura. Aku kecewa seolah hari itu biasa-biasa saja. Sampai-sampai aku sempat berpikir, tak usah kau ingat lagi. Anggap saja aku berulangtahun di tanggal 30 Februari.

Berkat kekecewaan itu aku jadi terisak terus di malam hari dan bertengkar hebat dengan my hunny. Setelah beradu argument begitu lama, aku pun menyerah. Aku memilih untuk instropeksi diri. Ya, harusnya aku bersyukur ia masih peduli dengan ulang tahunku dan berusaha membahagiakanku. Aku benar-benar tak tahu diri lalu malah meminta lebih dan lebih. Tapi akhirnya aku tahu, inilah salah satu resiko menjalin hubungan dengan orang yang beda dimensi. Maksudnya dengan jarak usia yang cukup jauh, terciptalah sebuah gap.

Gap seperti apa? Jadi begini, baginya kado berupa boneka, jam beker, dan pigura sudah merupakan barang istimewa bagi orang-orang seusia jamannya. Sedang bagiku dan orang-orang yang terlahir di jaman sekarang, barang-barang seperti itu sudah amat klasik dan terlalu usang. Kami lebih suka benda-benda yang bermanfaat/diperlukan atau yang unik dan lain daripada yang lain.

Sadar akan perihal ini, my hunny try to fix it. Dia menghadiahiku salah satu buku yang terdaftar di wishing list ‘Receh untuk Buku’-ku. But it doesn’t fit. He forget about the simply thing that meaningful: cake dengan lilin-lilin kecil di atasnya. Aku sudah lelah, bahkan terlalu lelah untuk meminta lagi. Kubiarkan saja, lebih baik aku berusaha untuk memperbaiki diri sendiri. Kutinggalkan saja hal kelam itu belakang dan melupakannya. Tetapi sesuai dengan salah satu kutipan, “Forget what it hurt you, but never forget what it taught you.”

Nah, mungkin kalian bertanya-tanya, sesungguhnya apa sih yang kuinginkan?

Yang kuinginkan, jelas sudah kusebutkan tadi, cake dengan lilin-lilin kecil di atasnya. Bagiku itu merupakan pemanis hari ulang tahun yang sayangnya seumur hidup belum pernah aku dapatkan. :'( Tak perlu cake sebesar ban yang menempel di truk-truk gandeng. Mini cake saja sudah cukup kok, yang penting kualitas rasanya enak. Hehehe.


Aku boleh saja bermimpi mengenai candle light dinner, ada tempat makan di Ranch Market yang menurutku sweet full of romance. But he still goes wrong, yasudahlah. :3 Tapi sebenarnya di tempat yang tidak semewah atau seelegan itu aku gak papa sih. Pengin kuliner yang manis ya gak masalah. Yang penting varian menu gurih dan salty-nya ada banyak dan harganya gak begitu meroket. Jadi biar gak sungkan kalo nambah lagi. Haha.

Mengenai kado, sebenernya aku gak neko-neko juga kok. Buktinya aku suka sama cute note yang dia kasih. Selain itu aku juga suka buku bacaan (buat yang gak tau seleraku mending jangan deh :D), gelas tumbler yang bagus-bagus, mug yang lucu-lucu,de el el. Dikasih tas, baju, ato sepatu pun aku gak nolak lhoo. (≧◡≦)

Eh, ada yang mau berkomentar dengan apa yang kualami? Mungkin ada di antara kalian yang pernah merasakan hal yang sama. Menurutmu hal kayak gini wajar terjadi gak sih? Tanggapi di kolom komentar yuk. ♪(´ε` )

9 comments :

  1. nggak ada yg salah bila kecewa kalo apa yg diinginkan nggak kesampaian... yg penting jangan sampai jadi pemicu retaknya sebuah hubungan.
    semoga dengan wishing list ini bisa jadi remainder buat yg pingin ngasih hadiah k kamu :)

    ReplyDelete
  2. kalo dulu suami aku yang masih jadi pacar aku tiap aku mau ulang tahun dia tanya dulu mau kado apa? jadi barangnya sesuai yg aku mau,,tapi sekarang udah jadi suami istri nggak pake acara gitu2,,palingan sholat tahajud ma ngaji bareng,,,terus besoknya makan bakso yg emang makanan favoritku,,,usia kami terpaut hampir 7tahun loh,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh gitu.. wah kalo aku mah sukanya ama yang surprise mbak.. jadi kalo udah digituin ya gak surprise lagi dong :D
      Hihi, saya 9 tahun malahan mbak :D

      Delete
    2. hahaha,,iya sih,,sebenarnya itu suka2 masing2 orang ya,,,wah,,,9tahun,,,busyet dah,,hebat tuh,,,semoga langgeng ya,,,

      Delete
  3. kalau saya cenderung cuek urusan kado selama org terdekat masih inget sama ulang tahun saya :D

    ReplyDelete
  4. sama wkwkw sering kadang penginnya ulang taun dapet kado banyaaak banget, nyatanya cuma beberapa, itupun dari orang yang dulu saya pernah kasih kado, coba ada yang kasih karena ikhlas dan inget spesial buat hari tsb hahah curcol :D

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))