Ready to be a Mom

Masih ingat dengan sekelumit ceritaku saat menjenguk Mbak Betha, sepupu my hunny yang habis lahiran?

Karena kemarin sewaktu di rumah sakit kita masih belum bisa menengok si bayi, akhirnya my hunny ngajak main ke rumah Mbak Betha seminggu kemudian. Tapi sesampainya di sana kita belum bisa langsung menjumpai adek bayi, soalnya masih bobok siang dengan ibunya. Yang terjadi berikutnya malah kita numpang tidur siang di ruang TV lantai 2 karena kecapekan habis jalan-jalan seharian.

Persalinan Gak Neko-Neko

Credit: Google Image
Minggu lalu aku diajak my hunny mengunjungi saudara sepupunya yang usai melahirkan anak pertama dan masih tinggal di RS. Dari luar, RS yang kami tuju itu terlihat biasa saja. Begitu masuk ke dalam, suasananya boleh juga. Terlebih kamar inap mbak Betha, begitu nama sapaannya, merupakan kelas VIP. Bbeuh, berasa di kamar sendiri dengan pelayanan full service. Kami berdua menyalami mbak Betha yang duduk di sofa, tampak kelihatan baik-baik saja dan sehat. Wajahnya juga tak menyiratkan kepayahan yang sangat, bahkan terkesan rileks. Ketika usai dipersilakan duduk, pandanganku tak lepas dari perut mbak Betha yang masih membuncit. Aku cuma bisa bertanya-tanya dalam hati, “Itu kenapa, ya? Masa masih ada isinya?” Dan dengan polosnya my hunny melontarkan tanya, “Lho itu perut kenapa, Beth? Kamu masih hamil?” Deng dong! (¬_¬") Tampang mbak Betha langsung berubah konyol.

Menantang Fobia

Fobia. Kalian sendiri pasti sudah tak asing mendengar kata fobia. Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian yang dipandang sebagai emosi-emosi substitusi dan seringkali disebut neurosis yang ditekan (repressed neuroses). Selain itu, pengertian lainnya, fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada suatu hal. *dikutip dari sini* Nah, di antara kalian sendiri adakah yang memiliki fobia pada hal-hal tertentu? Seperti fobia pada kegelapan, fobia pada jalan raya, atau bahkan mengalami philophobia? Yaitu rasa takut untuk mencintai ataupun dicintai. *aneh banget, kan?* ┐(´_`)┌

In Relationship part 3

Cinta itu sederhana. Yaitu ketika kau senang dan merasa nyaman. –Hilda Ikka

Ya, simple saja sih menurutku. Quote di atas merupakan rumus pribadi dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis yang kuanggap spesial. Di postingan ini, aku ingin membidik kata ‘nyaman’ yang tercantum dalam quote tersebut. Rasa nyaman yang bagaimanakah? Kan banyak sekali jenisnya. Mulai dari perhatian yang diberikan, perlakuan istimewa yang tak pernah ditunjukkannya pada orang lain, sampai ibarat dua dunia berbeda yang entah bagaimana caranya bisa menyatu seolah ada formula khusus untuk mengemulsikannya.

Dan kali ini aku membahas rasa nyaman tersebut dari sisi persamaan yang dimiliki. Bagaimana kita merasa cocok dengannya saat-saat menyambung obrolan, selera kesukaan, atau bahkan visi misi hidup di masa depan.

Mimie: Cute Meow-Meow


Menurut pendapatku, salah satu dosa terbesar selain tidak suka es krim dan coklat adalah fobia terhadap kucing. Yeah, because cat, they’re soo lovable. Heran deh kalo ada orang yang takut kucing ato jijik gitu. Hey, they’re cute, aren’t they?. Kalo ada yang bilang alergi, aku maklumin deh. Tapi kalo udah nyebut-nyebut si pembawa penyakit tokso, ya… kan ada pencegahannya. ┌("˘o˘)┐

Oke deh, terlepas dari itu semua, I tell you I’m a cat lover. Acute. Addict. Freak. Tapi betapa sedihnya… aku gak pernah bisa pelihara. Soalnya ibuku gak suka kucing dan rumahku terlalu sumpek untuk ketambahan makhluk satu ini. oke deh, satu-satunya kesempatan yang pernah aku punya adalah… pelihara kucing di asrama. :3

Maksudku di sini, you know lah, cat is everywhere. Dan udah berapa kali ada momen kucing beranak selama aku nyantri dari SMP sampe SMA. So, sang induk mesti naruh anaknya di asrama. Kalo lagi kasihan, anak-anak masih mau nyumbangin kardus bekas. Inilah yang aku sebut memelihara: nengokin mereka tiap hari, ngasih nama, terus main-main deh. Tapi mesti deh, ntar lama-lama satu per satu pasti pada mulai menghilang. (╥_╥)

In Relationship part 2


Ini lanjutan dari postingan In Relationship.

Jadi ceritanya, aku terakhir kali pacaran itu ya pas kelas 6 SD (pertama kalinya juga sih. :D ) dan baru pacaran lagi ya sekarang ini, abis lulus SMA. Luar biasa jaraknya. Terus enam taun selama SMP-SMA itu ngapain aja? *belajar :p* Ato mungkin cinta monyet yang terlalu berkesan? :D

Haha, gak lah. Cinta monyet ya cinta monyet. Udah. Gak bakal bertumbuh sampe segede brontosaurus, bagiku. Kalo pas SMP tuh gak pernah bener-bener jatuh cinta ya, cuma sekadar kagum. Baru deh pas kelas 3-nya aku ngerasain cinta pertama (cieeeh, yang katanya kan terkenang selamanya…) dan mencintai dalam diam sampe kelas 3 SMA. Sebenernya udah ketauan si do’i sih pas aku kelas 2, tapi masih kuterusin aja. Begitu aku sadar kalo perasaan ini gak bisa diperjuangkan lagi, akhirnya aku move on dan sempet ada ehem-ehem gitu sama temen seangkatan. Gitu doang terus buyar gara-gara ujung-ujungnya aku di-PHP.

In Relationship


One day I woke up and realize… that I’ve taken already.

Ini tak sealay bayanganku, di mana saat momen itu datang aku bakal berseru kegirangan gara-gara terbebas dari status jones alias jomblo ngenes dan memekik keras. “YEEEY, AKU PUNYA PACAR! Buset, masih gak percaya getooh.” No. I’ll never supposed to be this freakist one. Ini bukan soal status yang bisa dipamerin di muka umum, bukan soal akhirnya-aku-laku-juga-kirain-bakal-jomblo-seumur-hidup whatever.

Tapi ini soal komitmen.

So I stay calm, knowing if there is someone who does love me and will try to take me in better life. I trust him.

Well, sebenernya aku masih tak menyangka sih. Semuanya terasa begitu cepat dan ini.. tidak seperti kisah cintaku sebelum-sebelumnya. Sebelumnya yang gimana? Sebelumnya yang hanya mampu meraba hati, memakan jangka waktu, menafikkan diri untuk banyak hal.. dan lainnya.
Sexy Red Lips