Memo-Labilia Marshanda


Beberapa waktu lalu santer diberitakan bahwa Marshanda tak lagi mengenakan hijabnya di foto profil akun berbagai social medianya. Beragam reaksi pengguna dunia maya pun ramai menghiasi fanpage Marshanda di Facebook. Banyak yang menghujat, ada pula yang mendukung bahkan tak sedikit yang malah berkomentar tidak penting. Aku sendiri yang mendapatkan kabarnya langsung fresh from the oven (karena hanya berselang 3 jam setelah diuploadnya foto-foto tak berhijab) pun ikut tercengang. Marshanda yang di mataku telah melalui perubahan dengan baik… betapa cepatnya terjungkir 180 derajat.

Ah.. wanita yang belum genap berusia 25 tahun itu, membuat perubahan kontroversial di tengah semaraknya bulan suci Ramadhan. Bulan yang harusnya membuat umat lebih dekat pada Rabb-nya.

Kalo Jodoh, Takkan Kemana


Eaaa, masih ingat dengan postinganku yang berjudul BaladaKetemu Idola? Sempet loh jadi popular post nomer satuku sampai akhirnya harus tergerser di posisi kedua oleh postingan yang kuikutkan GA *yang pada endingnya aku gak terdaftar sebagai peserta….ngenes! T^T

Okey, berhubung kemarin adalah tanggal 22 Juli yang tidak akan aku kaitkan dengan hasil pilpres ataupun skandal lepas hijabnya Marshanda, aku bakal cerita mengenai hadiah ulang tahun terindahku pada usia ketujuh belas. ^^

Wishing Another Birthday Story


Hihi, selamat bertemu kembali, Kawan! Kali ini aku jamin suasana hati sedang netral sehingga tidak akan tercipta postingan yang ‘nyampah’. Duuuh malunya diriku ketika postingan Fake a Smile yang sudah kuhapus itu terlanjur dibaca oleh orang lain yaitu mas WihikanWijna yang juga sering mampir ke blog ini. Makasih banyak atas nasihatnya di kolom komentar ya… bisa jadi masukan berharga kok. :)

Buat yang beruntung belum sempat membaca Fake a Smile, aku jabarkan sedikit intisarinya, ya. Jadi kemarin di hari ulang tahunku itu, aku sama sekali tidak bisa merasakan kebahagiaan dari apa yang diberikan oleh my hunny kemudian aku merasa amat kecewa. Tapi ternyata aku hanya menahan kekecewaan itu, bukan mengendalikannya, sehingga pada akhirnya emosiku pun meledak bagai rudal yang menyerang pesawat MH17.

Sebenarnya apa yang salah? Harusnya gak ada. Ini mungkin hanya buah kekecewaan dari apa yang kita ekspektasikan tidak berujung nyata. Padahal aku juga mengharapkan hal yang standart-standart saja tapi ternyata… untuk hal sestandart itu pun my hunny tak bisa memberikannya.

Thanksgiving for 19th


“HBD Kawaann… barakallah fii umriik. :D”
“Ika, selamat ulang tahun… semoga barokah usianya, dimudahkan jalan menuju cita-cita, selalu dalam lindungan Allah. :))”
“Happy birthday Ika… Semoga makin menjadi insan yang lebih baik di bulan yang penuh barokah ini dan tetap langgeng terus hehe”
Ucapan dan doa dari kawan, kerabat, dan orang terdekat terus membanjiri inbox sms, chat BBM, serta social media. Aku senang sekali mendapat ucapan sebegitu banyaknya karena hal itu menandakan masih ada yang peduli dengan ulang tahunku meskipun berkat reminder social media. :D Soalnya ada loh, ada orang yang kuharapkan tapi belum pernah sekalipun memberikan ucapan untukku padahal jelas-jelas ia sedang online! (╯҂ ‵□′)╯

Wishing List of Receh untuk Buku


By the way, aku ikutan challenge ‘Receh untuk Buku’ di blog-nya Maya Floria Yasmin. Lumayan lho, challenge ini memberiku solusi mengenai belanja buku yang sudah tidak ada lagi anggarannya semenjak kuliah. Dulu sewaktu masih SMP, aku punya penghasilan 50 ribu per semester tiap kali dapat peringkat. Saat SMA meski tak punya peringkat, aku masih punya sisa-sisa dikit lah dari uang saku ditambah penghasilan dari jualan bross saat kelas sebelas. Nah, setelah lulus aku pun jadi kere maksimal. -_- Gak pernah nambah koleksi baruuu, hiks.

Tak ada persyaratan khusus untuk mengikuti challenge ini. Yang terpenting hanyalah menabung. Karena untuk sebagian orang (yang kebanyakan boros kayak saya :D) menabung itu perkara yang sulit, cara nabungnya diganti dengan mengumpulkan uang recehan yang ada. Misal habis belanja di In**mart kembaliannya berupa receh, nah masukin saja ke celengan. Atau pas nyapu sore-sore di rumah nemu duit recehan, boleh juga. Dijamin makin rajin bersih-bersih rumah. :p

Dilla, Semangat Berbagi di Usia Muda


Sekilas bila dilihat, nampak biasa saja. Wajah polos tanpa make up dan jilbab yang membalut kepalanya tidak dililit aneh-aneh. Pakaiannya juga senantiasa bersahaja. Begitulah penampilan mahasiswi jurusan kebidanan Universitas Airlangga ini sehari-hari. Tapi siapa kira di balik kesederhanaannya, ia menyimpan hati seluas samudera.

Mahasiswa yang tidak tinggal bersama orang tua atau kos, kebanyakan dicap hidup serba pas-pasan. Begitupun dengan Dilla yang dijatah uang saku per bulan secukupnya. Namun baginya itu bukanlah alasan untuk pantang berbagi. Mahasiswa boleh saja kere, tapi untuk berbagi maupun bersedekah tak perlu menunggu tua dan kaya.

Tips Menulis dari Ollie (Talkshow by Hijab and Dream)


Oiya, mbak Ollie juga berbagi tips menulis buat kita:

#What’s Story. Tentukan ide cerita yang kamu buat. Bisa dari pengalaman pribadi, orang lain, atau imajinasimu tiap sebelum tidur. (˘ε˘ƪ)

#What’s Motivation. Siapakah motivasimu dalam menyelesaikan cerita? Yang benar-benar membuatmu berhasil menggarapnya sampai finish? Sebagai contoh, Andrea Hirata ngebut penulisan naskah Laskar Pelangi hanya dalam hitungan hari karena ia ingin mempersembahkannya pada Bu Muslimah, guru SD yang ia ceritakan dalam novelnya, yang sudah berusia senja.

#Let’s Make a Story!
--Sediakan pulpen dan kertas. Cara ini masih terbukti efektif membangun kerangka cerita. Oya, kalau bisa, coba buatlah mind map! Cara ini akan membuat kisahmu makin terkonsep dan plot-mu lebih asyik!

--Googling. Cari topik apa yang sedang hangat atau data-data penunjang ceritamu.

--Sharing outline ke orang yang killer. Jadi ia akan memberi penilaian yang objektif. Beda kalau kamu minta pendapat teman baikmu atau pacarmu, pasti mereka bakal bilang bagus.

--Bikin deadline. Tentukan kapan karyamu harus selesai. Deadline itu bukanlah semisal, setelah lulus SMA, setelah skripsi selesai, atau selesai dapet jodoh. Bikin yang jelas, seperti tanggal 1 Oktober atau berapa, sesuai jangka waktu yang kamu butuhkan.

--Write first, edit later. Fokuslah dengan apa yang kamu tulis, tak usah hiraukan dulu diksi dan tanda bacanya. Baru setelah tulisanmu utuh, periksa kembali. Tambahi yang kurang, buang yang tidak perlu. Kalau aku biasanya menulis menjelang tidur, esoknya pasti bakal aku periksa kembali.

--Manfaatkan aplikasi. Mbak Ollie sih pakai Evernote. Aku sih kurang paham aplikasi beginian, tapi orang-orang yang hidup dengan gadget dan gak memungkinkan buat langsung ngetik di laptop, pasti bakal terbantu dengan aplikasi ini.

--Touch reader’s feeling. Apakah cerita yang kamu bikin bernuansa menyedihkan? Berhasilkah orang yang membacanya menangis tersedu-sedu? Atau kamu bikin cerita kocak, sudahkah pembacamu berhasil terhibur atau bahkan tertawa geli? Kalau ternyata belum, berjuanglah lebih keras lagi!

--Kalau lagi nulis cerita, mbak Ollie biasanya menaruh 10 buku favoritnya di dekatnya sebagai tombol ‘on’ motivasi. jadi ketika mbak Ollie lagi buntu atau jenuh, ia buku salah satu tumpukan bukunya untuk sekadar menilik gaya bahasa si penulis atau bahkan malah mendapat inspirasi.

--Have a social media? Share! Misal kamu nulis status di Facebook: “Fiuh.. novelku udah dapet 25 lembar. Masih kurang banyak. :3” Nah, mungkin ada temenmu yang bakal komen ngasih semangat. Itulah fungsinya, agar orang lain bisa men-supportmu.

#What’s Next? 

Publish it! Kamu bisa mengirimkan karyamu ke berbagai penerbit. Atau kalau kamu masih belum pede, kamu bisa kok self-publish karyamu lewat nulisbuku.com misalnya.

Nah, itulah tips yang kudapat selama mengikuti talkshow bersama mbak Ollie. Semoga bermanfaat, ya!

Talkshow bersama Ollie by Hijab & Dream (part 1)


Bismillahirrahmanirrahiim…

Sabtu kemarin (12/7) aku mantap mengikuti sebuah talkshow yang diselenggarakan oleh Hijab and Dream dengan guest star Ollie (writer & technopreneur), Hanum Rais (99 Cahaya di Langit Eropa’s novel writer), dan Asma Nadia (writer of Catatan Hati Seorang Istri). Acara bertempat di Grand Square Ballroom ICBC Center Surabaya, yang lokasinya dekat sekali dengan kosan-ku. So, no excuse deh bagiku untuk tidak ikutan. Apalagi dengan guest star mbak Ollie yang menurutku tuh inspirasional banget bagi dunia literasi.

OH-EM-JII, emang apa hebatnya, sih?

Lho, belom tau yah? Mbak Ollie tuh selain penulis juga merupakan pebisnis. Di usianya yang relatif muda, ia sudah memiliki beberapa usaha yang berkembang bagus. Sebut saja toko buku online kutukutubuku.com dan usaha percetakan print on demand nulisbuku.com beserta usaha lainnya. Kenapa saya menebali huruf nulisbuku.com? Karena berkat nulisbuku.com yang digagas mbak Ollie, banyak para penulis yang terbantu untuk membukukan karyanya secara independen tanpa memerlukan modal yang banyak. Sebuah kontribusi nyata yang mulia, kan?

Mbak Ollie hadir dengan busana yang sudah jadi ciri khas berpakaiannya. Tampil chick dengan dress hitam dipadu blazer floral dan berhijab pashmina pink yang dihiasi bros beruntai. Look stylish and classy!


Mbak Ollie pun mulai berbincang mengenai semua usaha yang telah ia capai sekarang. Segalanya berawal dari mimpi. Mimpi yang sederhana saja mulanya: ingin punya web sendiri. Ya, mbak Ollie yang saat itu berstatus mahasiswi jurusan IT mengaku punya situs pribadi merupakan hal keren. Sembari mempelajari dunia web lebih dalam, mbak Ollie pun mulai merambah dunia kepenulisan. I believe within trying something new, mimpi yang kita punya pun bisa berkembang. Dan mbak Ollie pun percaya bahwa menulis bisa mewujudkan impian.

Apa buktinya?

Mbak Ollie diundang ke berbagai talkshow baik dalam maupun luar negeri, jalan-jalan kesana kemari dengan gratis, mencicipi suatu produk secara cuma-cuma, dan banyak hal lainnya yang bila disebut bakal membuat kita ngiler saking penginnya.

So, bagaimana mbak Ollie memulai semuanya?

Untuk mendapat lebih banyak ilmu, mbak Ollie apply beasiswa pelatihan menulis di Gagasmedia. Untuk aplikasinya, mbak Ollie aktif menulis di blog. Mulai dari curhatan pribadi, lalu berkembang jadi semacam opini, kemudian seringkali ia berbagi tips-tips dan dari kegiatan inilah mbak Ollie Gain Trust alias meraih kepercayaan. Gain trust maksudnya membangun kepercayaan dari para pembaca blog-nya atas image mbak Ollie sebagaimana yang ia branding dalam blog-nya. Makanya kenapa ada orang yang minta dibikinkan product review atau mengundang Mbak Ollie ke acara talkshow karena mereka tahu persis kualitas mbak Ollie berkat blog-nya.

Selain itu mbak Ollie juga rajin menulis buku dan bisa kelar dalam 2-3 bulan. Ia serahkan pada berbagai penerbit dengan jalan berliku. Setelah jatuh bangun sekian lama, akhirnya ia telah mendapatkan kepercayaan berbagai penerbit dan bisa meluncurkan karyanya dengan mulus. Sampai suatu ketika ia menulis sebuah buku yang diberinya judul Inspirasi.net ditolak berbagai penerbit dengan alasan karyanya tidak komersil.


Mbak Ollie tidak berkecil hati, ia tidak merasa bahwa karyanya dibilang jelek. Mbak Ollie justru berpikir bahwa karyanya yang bermanfaat ini sayang sekali bila tidak sampai ke tangan pembaca tanpa mementingkan urusan komersil. Akhirnya bermula dari kasus inilah mbak Ollie mendirikan usaha printing on demand bernama nulisbuku.com. Berkat nulisbuku.com pula, banyak para penulis yang terbantu untuk mewujudkan impian untuk menerbitkan bukunya secara mudah. Sesuai dengan tagline nulisbuku.com : publish your dream!


Namun terkadang kita juga berpikir, “Penting gak sih karya kita ini buat orang lain?” Mbak Ollie kemudian mengutip perkataan Stephen King,
“If it matters to you, it matters.”
Kalau kamu berpikir itu penting, maka itu menjadi penting. Kalau kamu merasa orang lain perlu karyamu, maka mereka akan menghargai karyamu. Begitu kira-kira.

Kini usaha nulisbuku selalu kebanjiran order setiap harinya dan punya komunitas di berbagai daerah sebagai wadah kekuatan para penulis dalam memperoleh inspirasi dan motivasi. Alhamdulillah ya, semoga bisa dihitung sebagai amal kebaikan dan selalu mendatangkan berkah.

Ketika ditanya mengenai apa projek untuk ke depan, mbak Ollie menjawab mantap ingin melahirkan 1.000.000 penulis Indonesia di tahun 2020. Wah! Saya sudah pasti akan ambil bagian. Hehehe. Selain itu mbak Ollie pengin bikin Jakarta sebagai objek wisata literasi. Mungkin dengan mendirikan bangunan yang berkaitan dengan buku dan kegiatannya. Sekaligus bikin hotel bernuansa literasi yang tiap kamarnya diberi nama penulis kenamaan. Misal kamar Goenawan Muhammad, di dalamnya bakal dilengkapi koleksi buku-buku Goenawan Muhammad. Atau kamar Pramoedya Ananta Toer? Andrea Hirata? Boleh-boleh saja. :D

Terakhir penutup kata dari mbak Ollie, “Kalian semua harus tahu apa yang kita inginkan dan kalian harus tahu itu akan bermanfaat bagi orang lain juga.”

Jurusnya: Pura-Pura Bego

Ekspresi saya saat sadar baru saja bertindak bodoh 
Aku punya sekelumit pengalaman konyol yang kualami bersama pasanganku sewaktu awal pedekate. Saking konyolnya, cerita ini amat membekas di benak kami berdua dan sukses bikin ngakak acapkali mengingatnya. (≧◡≦)

Kejadian ini bermula dari ajakan dia (panggil: Abang) untuk nonton film Comic 8 berdua. Siapa yang tak girang, pucuk dicinta ulam pun tiba. Momen jalan bersama yang kuharapkan akhirnya datang juga. Lalu kami sepakat untuk nonton di Tunjungan Plaza dan ia memintaku untuk membeli tiket terlebih dahulu. Sedikit informasi: kost-ku dekat sekali dengan TP sehingga aku bisa memesan tempat sepulang kuliah siang hari. Aku membeli tiket film Comic 8 yang diputar pada jam selepas maghrib berkat si Abang baru pulang kerja jam 5 sore.

Pukul 6 lebih kami sudah berada di Tunjungan. Film baru dimulai pukul 18.55 WIB sehingga kami memilih untuk menghabiskan waktu terlebih dahulu dengan mengitari mall dan mampir beli es krim di A&W corner. Kami juga telah berada di seat masing-masing tepat sesaat setelah pintu teater dibuka. Sembari menunggu komplitnya penonton lain, kami menikmati beragam trailer film yang masuk dalam daftar coming soon.

Kenyamananku sedikit terusik berkat munculnya sekelompok anak ABG yang sedang mencari-cari seat-nya. Suara mereka bising sekali seolah sedang meributkan sesuatu. Ternyata dua orang dari mereka kebingungan tak mendapatkan tempat. Lalu dengan ragu salah satu dari mereka menanyakan seat kami berdua. Segera kuambil tiketku dari dalam tas dan barulah kami tahu sumber masalahnya adalah seat dua orang ini sama dengan seat yang kami tempati. Kemudian terdengar gerundelan kecil, “Duh bagaimana ini… kok bisa sih seat-nya dobel? Aneh banget.”

Iya aneh banget menurutku. Akhirnya kupandangi tiketku sekali dan barulah aku tersadar waktu yang tertera pada tiket adalah pukul 16.55 WIB. Astagaaaa…. Aku SALAH BELI TIKET. Omaigad… terus bagaimana ini. Kuawasi dua anak ABG itu yang sedang mengadu pada mbak-mbak twentyone. Akhirnya dengan senter di tangan, mbak-mbak itu menghampiri kami berdua dan mengecek tiket. Kulirik si Abang di sebelah. Dari gelagatnya aku tahu, ia sepenuhnya sadar apa yang sedang terjadi dan memilih bersikap sama denganku: pura-pura bego!
Kira-kira beginilah ekspresi kami berdua begitu sadar bahwa kami sendirilah biang keroknya 
Dahi si mbak berkerut sambil bergumam, “Aneh ya, harusnya hal ini tidak mungkin terjadi.” Nah lho, gak sadar dia. Kemudian tiket kami dibawanya pergi keluar dan kembali untuk memanggil kami berdua. GAWAT! Oh tidak, rugi banget kalo kami gak jadi nonton gegara diusir. Alamak, malu-maluin. (ಥ ̯ ಥ)

Kami berdua pun digiring menuju lokasi pembelian tiket. Si mbak penjual tiket mengenali wajahku dan berseru, “Lho, mbak kan yang tadi siang beli tiketnya, kan? Kok bisa keliru, toh?”

Aku meringis kecil sambil menerangkan bahwasanya kesalahan fatal ini terjadi berkat angka 16.55 yang tertera di display jadwal film saat membeli tiket, entah aku lagi gak fokus atau otakku waktu itu sedang korslet, bisa-bisanya kuterjemahkan pukul 18.55 WIB. Jelas saja aku menganggap jadwal film-nya selepas maghrib. Angka 6 pada pukul 16.55 lah yang meracuni konsentrasiku dan membuatku mengartikannya sebagai pukul 6 petang.

Setelah diomeli panjang lebar, beruntung kami diperbolehkan nonton film dengan syarat boleh duduk di bangku yang tersisa. Walah, tidak diusir saja aku sudah bersyukur kok. Sementara si Abang cuma bisa geleng-geleng kepala mendapati kecerobohanku yang luar biasa akut. Hehe, ampuuun….

Toh berkat kejadian konyol tersebut, masa pedekate kita jadi sedikit lebih berwarna, kan? (^o^)V

525 kata

Tulisan ini diikutsertakan dalam The Silly Moment Giveaway

Let’s Make a to-do-list!



Sejak bulan Juli atas saran Sister Prima, aku mulai membiasakan diri untuk mencatat segala sesuatu yang akan menjadi agenda kegiatan dalam waktu dekat maupun jangka panjang dan berkelanjutan. Terkait dengan hal ini, aku sudah sedikit bercerita di postingan ini. Kemudian atas permintaan mbak Rosa, akhirnya aku membikin postingan khusus mengenai gambaran to-do-list yang kubuat berikut penyusunannya berdasarkan versiku sendiri.

In Relationship part 4


Hari berganti hari hingga tak terasa bilangan kalender berposisi di awal bulan Juli. Ini artinya hubunganku dengan my sweetheart-Radik sedang menjajaki bulan kelima. Syukur Alhamdulillah hubungan kami baik-baik saja (aku sih merasa begitu, gatau lagi apa yang dia rasakan. Lho? :D) Sungguh aku tak menyangka, atau lebih tepatnya tidak berani menyangka, akan punya hubungan sejauh ini meski teman-teman sebayaku banyak yang bertahan lebih lama dariku. Maklum, aku belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun sebelumnya. Hubungan yang berdasarkan komitmen lo ya, bukan yang berdasarkan ngarep. :3 Soalnya aku pernah punya hubungan di pernyataan kedua.

Masjid Al Falah, Setia Melayani Jamaah


Ramadhan tahun ini aku sedikit bersedih. Aku tidak bisa menjalankan ibadah tarawih bersama keluarga dan melewatkan puasa plus berbuka di rumah. Rencanaku untuk pulang jadi tertunda akibat tugas-tugas kuliah yang diberikan menjelang UTS. Padahal niatku hendak mengulas masjid Nurul Islah di kampungku atau kalau bisa sih masjid di pesarehan Sunan Giri, kebetulan sudah lama aku tak berkunjung ke sana.

Namun syukurlah, kebetulan saya punya agenda kegiatan organisasi yang lokasinya kebetulan berdekatan dengan masjid Al Falah. Akhirnya saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat dan mengumpulkan informasi untuk #1Hari1Masjid.

Welcome July



*Aku bikin blog post ini karena terinspirasi dari post blog salah seorang member KEB. :)

Selamat datang bulan Juli. Selamat datang bulan untuk sebuah perubahan. Sejujurnya di bulan ini memang aku mendapatkan banyak pencerahan. Mulai dari soal masalah pelikku tentang masa depan, hubungan percintaan, motivasi untuk membangun konsistensi menulis lagi, dan harus lebih optimis lagi menghadapi segala bentuk rintangan.

Bulan Juli lebih dari sekadar nama yang dicantumkan dalam akte kelahiranku. Berikut beberapa hal yang kudapatkan bulan ini:

Solusi untuk masalahku—antara lanjut kuliah atau resign. Akhirnya aku berkesempatan untuk curhat ke SisterPrima di sela-sela kesibukannya. Mbak Prima memintaku untuk menuliskan plan A dan B. Membikin alternatif yang harus kuambil bila kemungkinan terburuk terjadi. Gara-gara Mbak Prima pula, aku pun kembali bersemangat membikin daily list, to-do-list, dan list-list lainnya. Aku harus membiasakan seperti itu agar kegiatan lebih tertata dan tidak wasting time sometimes.

Makin giat menulis. Bbeuh, akibat metode konsistensi menulis yang dianjurkan mbak Prima, aku jadi keranjingan menulis. Karena setiap hal yang terlintas di pikiran akan langsung kucatat. Dengan demikian aku bisa menimbun banyak ide dan topik untuk di-share lewat blog. ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ

Berniat mengikuti Ubud Writers&Readers Festival 2014. Sumpaaah, awalnya aku pesimis banget buat berpartisipasi tahun ini. Bahkan selalu mikir kapan-kapan aja kalo ke sana. Namun berkat Sister Prima (again!) aku jadi tersugesti untuk berangkat ke Ubud Oktober ini. Katanya tarif untuk pelajar itu murah. Setelah aku cek emang jauuuuh lebih murah dari harga untuk umum. Lagipula kartu mahasiswaku cuma berlaku sampai September 2015. So, hanya tahun ini kesempatanku untuk ikutan dengan harga miring.

Upgrade hubungan percintaan. Yeah, we’re just leveled up to 5th month. Aku beryukur dan bahagiaaaa sekali masih ditakdirkan bersamanya. Hubungan kami juga tetap harmonis. Harmonis dalam artian bukan tanpa pertengkaran, tapi bagaimana kita bertumbuh dan makin kompak dalam bekerja sama membina komitmen yang telah dijalani.(ɔ ˘⌣˘)♥(˘⌣˘ c)

Demikian beberapa hal pembuka di bulan ini. semoga bulan Juli ini penuh berkah, seberkah bulan Ramadhan yang melekat padanya. ƪ(^⌣^)ʃ ƪ(ˆ⌣ˆ)ʃ

Ramadhan di Pondok



Assalamualaikum ya akhi1 wa ukhti2…
*sambutannya edisi Ramadhan pula*

Gimana puasanya? Lancar kah? Semoga gak ada yang kecolongan mokel ya. :D Oya, bagaimana menurutmu bulan Ramadhan tahun ini? Masih semarakkah dengan tahun sebelumnya? Kalau masih, alhamdulillah ya. Tidak sepertiku yang makin surut euforia-nya. Aku mengalami tiga suasana berbeda tiga tahun terakhir ini. Yeep, tahun ini aku menjalankan ibadah puasa di kost sejak hari pertama! Oh God…. Melas sekali. (╥_╥) Padahal momen awal puasa itu indahnya dinikmati bersama keluarga. Apa daya… tugas UTS mengharuskanku menetap di Surabaya.

Bulan puasa di kos itu berasa gak jauh beda sama hari biasa. Suer dah! Secara kosku berdekatan dengan mall Tunjungan Plaza. Wih, gak kebayang deh di sepanjang jalan gang kan banyak depot-depot gitu, kalo pas lewat siang-siang baunya eh semriwiiing. :3 Meski tempatnya udah ditutup pake selusin tirai, tetep aja aroma masakannya menggoda iman.

Tahun kemarin sih aku menjalani ibadah puasa sejak hari pertama mudik di rumah sampai detik-detik terakhir mudik ke Jombang. Fulltime with family! Dan bulan puasaan yang harusnya bisa menurunkan lemak pun tidak berlaku saking makmurnya sajian makanan di rumah. Tiap buka puasa pun selalu tersedia es. Di kost boro-boro minuman dingin, air putih aja gak pernah berganti jadi sirup. ┒(⌣˛⌣)┎

Setahun lagi sebelumnya, aku masih tercatat sebagai siswi kelas XII MBI Amanatul Ummah. Ramadhan terakhir yang kulalui di pondok. Jujur waktu itu aku kadang berharap agar waktu cepat berlalu akibat padatnya aktivitas di bulan Ramadhan yang amat melelahkan, terlebih bagi siswi tingkat akhir sepertiku. Eh begitu sudah bebas dari ‘holy jail’, baru deh kerasa nikmatnya melewatkan bulan penuh berkah ini di pondok. Sooo much the things that I missed about. Hiks. Dan inilah beberapa hal yang mewarnai Ramadhan kami:

1. Tradisi makan bersama dalam satu nampan.
Hal inilah yang paling kita kangenin. Ya, tradisi ini cuma dilaksanakan tiap bulan Ramadhan atau kalo pas lagi ada banca’an aja. Jadi beberapa anak dibentuk dalam satu grup secara random dan kita makan bareng dengan orang-orang itu terus. Biasanya tiap grup membentuk sistem bergiliran mengambil nampan dan mencucinya. Oya, menu makan kita itu melas sekali loh. Porsi nasi 5 orang untuk 8 orang. Kalo sahur ya menunya cuma tahu atau tempe goreng sepotong per orang trus nasinya dikasih kecap murahan (kebayang kan rasanya). Beruntung kami kalo tersentuh batinnya ya beli kerupuk diremes-remes biar rata. Kalo menu buka puasa masih mending, ada variasi tiap hari. Maka dari itu tiap bulan puasa kita selalu menyiapkan lumbung padi berlebih (baca: jajan dan makanan awetan).

2. Bikin ta’jil minuman per kelas.
Kita bisa dapet minuman gratis untuk berbuka dari kegiatan ini. Tapi jangan harap dapet banyak ya, minumannya dijatah berdasarkan grup nampan. Jadi satu minuman untuk satu grup. Pihak pondok hanya menyediakan beberapa kerat sirup sedang kelas yang kebagian tugas berhak membikin es dalam varian apa saja dengan biaya patungan kelas itu sendiri. Kadang es kopyor, es teh, es nutrijel, es cao, dan lain sebagainya. Oya, kelas putri menyediakan ta’jil hanya untuk penghuni asrama putri sedang kelas putra juga menyediakan ta’jil hanya untuk penghuni asrama putra.

Antri ngambil ta'jil *uh ambilnya sampe pake gayung segala*
3. Buber per kelas
Ini bukan hal wajib yang rutin sih. Tergantung anggota dan wali kelasnya. Aku pernah ngadain sekali pas kelas X soalnya wali kelas kita, Ustadz Mirzaque, rumahnya agak dekat dengan asrama. Jadilah kita masak-masak di rumahnya. Menunya merupakan makanan favorit ustadz Mirzaque, yakni kerang!! Kita masak dengan cara direbus. Sialnya, hasil jadinya keasinan! Aku termasuk yang ikut masak malah jadi korban tuduhan kebelet kawin (soal masakan yang keasinan). (۳˚Д˚)۳

4. Kultum
Hal ini berlaku wajib untuk siswa-siswi kelas sepuluh aja. Yang bikin berkesan itu karena deg-degannya kita saat harus tampil memberikan tausiyah di depan orang banyak. Berasa ustadz-ustadzah gitu. :D

Kira-kira seperti inilah suasana saat kultum sore *eh ada aku loh :p
5.Molornya kegiatan ubudiyah (ibadah)
Sudah tak disangsikan lagi kalo lagi puasa kita jadi lemes. Bawaannya pengen tiduuuur mulu. Aku juga makin parah ngebo. Susah dibangunin pas sahur, habis sahur langsung tidur lagi, telat berangkat ke masjid, dan seterusnya. Hoaaahm.

Selepas salat Subuh di masjid utama
6.Sensasi salat Tarawih
Karena pondokku beraliran NU, jadi jumlah bilangan rakaat tarawihnya sebanyak 20 rakaat. Dengan area musolla asrama yang luasnya tidak seberapa, jadilah kita salat dengan kondisi berdesak-desakan. Oya, santri putra kelas XII-lah yang menjadi imam salat tarawih dan witir. Kita yang santri putri selalu kepo akan identitas si imam. Siapatahu ada yang bacaannya fasih dan caranya mengimami salat bisa diacungi jempol, akhirnya dapat dipertimbangkan sebagai imam di masa depan. #Eaaa (/‾▿‾)/

7.Mokel/Gak puasa gara-gara datang bulan
Haha, ini nih. Kita kalo yang datang bulan itu mesti disisain makanan sahur buat sarapan pagi (tergantung kebijakan grup nampan masing-masing). Trus mereka bakal bergerombol makan di pojokan kamar. Yang mangkelin, mereka bisa makan dari lumbung padi masing-masing yang pasti bikin ngiler anak-anak yang puasa. Soalnya udah pasti gak kebagian kan. :3

8.Baksos di Panti Asuhan
Ini kegiatan angkatanku di kelas akhir. Program ini kita namakan “PUMPKIN”. Aku lupa kepanjangannya apa. Jadi kita mengunjungi panti asuhan yang memprihatinkan nasibnya. Kita ajak bermain anak-anak panti sejak pagi hari dan kita buka puasa bersama.

Dari kegiatan tersebut kita jadi bersyukur dengan apa yang kita punya dan nasib kita ternyata jauh lebih baik dibanding dengan apa yang anak-anak panti itu rasakan.

Berpose usai buka bersama
So, that’s all the things that memorized me. Bagaimana dengan kalian? Hal apa yang membuat bulan Ramadhan-mu semakin berkesan? ƪ(˘⌣˘)┐"ƪ(˘⌣˘)ʃ"┌(˘⌣˘)ʃ

1 akhi = saudara laki-laki dalam bahasa Arab
2 ukti = saudara perempuan dalam bahasa Arab

Menjelajahi Ice World


Orang Surabaya dan sekitarnya tentu tak asing lagi dengan Taman Remaja Surabaya. Ya, TRS yang lebih dikenal dengan THR alias Taman Hiburan Rakyat ini merupakan arena wisata lokal yang menawarkan aneka wahana bermain seperti komidi putar, perahu kora-kora, bom-bom car, mini jet coaster, dll. Karena permainan yang tersedia lebih banyak didesain untuk anak-anak, maka sering diadakan event untuk murid taman kanak-kanak. Dulu aku pun pernah terdaftar lomba grup menyanyi yang berlokasi di sana. Selain itu istimewanya, setiap libur kenaikan kelas selalu ada hadiah bagi pelajar berprestasi yang mendapat rangking skala 3 (ato lima, ya?) besar untuk bermain di wahana TRS secara gratis! Caranya dengan menunjukkan rapor sebagai tanda bukti. Sayang sekali aku bukan warga Surabaya, jadi orang tuaku gak pernah berminat untuk menghadiahkanku bermain di TRS. :D

Sexy Red Lips