Tuesday, February 10, 2015

Let’s Talk about Selfie!

credit: www.zazzle.com
Suatu hari aku menemukan status salah seorang kawan SMA di recent updates BBM. Kira-kira seperti ini:
“Selfie 4 Siauw (sambil pake emoticon sebel gitu)”
Kalo nama ustad kontroversial satu ini dibawa-bawa, pasti ada apa-apanya. Langsung deh aku tanya temenku perihal statusnya. Sudah kutebak, jawabannya pasti, “Ya ampuuun kamu ke mana aja. Ini udah jadi trending topic di twitter. Yah intinya Ustad Felix bilang kalau selfie itu haram.”

Tuh kan.

Begitu aku punya kesempatan tersambung dengan internet, langsung deh aku cek hashtag #selfie4siauw di twitter. Wihh, banyak juga respondennya. Gak hanya dari Indonesia, pengguna dari luar negeri pun banyak yang memakai hashtag ini. Kebanyakan orang yang memakai hashtag ini melontarkan pernyataan negatif. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku pun kepoin twitter ustad yang lumayan aktif berkicau di ranah dunia maya ini.


Berikut kicauan Ustad Felix yang mengundang reaksi keras dari publik:

Selfie itu kebanyakan berujung pada TAKABBUR, RIYA, sedikitnya UJUB

Buat cewek apalagi cowok, lebih baik hindari yang namanya foto selfie, nggak ada manfaatnya banyak mudharatnya

Bila kita berfoto selfie lalu takjub dengan hasil foto itu, lalu mengagumi hasilnya, mengagumi diri sendiri, maka khawatir itu termasuk UJUB

Bila kita berfoto selfie lalu mengunggah di media sosial, lalu berharap ianya di-komen, di-like, di-view atau apalah, bahkan kita merasa senang ketika mendapatkan apresiasi,

Lalu ber-selfie ria dengan alasan ingin mengunggahnya sehingga jadi semisal seleb, maka kita masuk dalam perangkap RIYA

Bila kita berfoto selfie, lalu dengannya kita membanding-bandingkan dengan orang lainnya, merasa lebih baik dari yang lain karenanya, merasa lebih hebat karenanya, jatuhlah kita pada hal yang paling buruk yaitu TAKABBUR

Ketiganya mematikan hati, membakar habis amal, dan membuatnya layu bahkan sebelum ia mekar

Memang ini bahasan niat, dan tiada yang mengetahuinya kecuali hati sendiri dan Allah, dan kami pun

Tiada ingin menelisik maksud dalam hati, hanya sekedar bernasihat pada diri sendiri dan juga menggugurkan kewajiban

Begitulah kicauan yang menjadi bulan-bulan pengguna sosial media, twitter khususnya. Aku coba mencerna terlebih dahulu, agar tidak ikut termasuk golongan para penghujat yang seringkali tersulut emosi tanpa mau menelaah intisarinya dulu. Mari kita coba uraikan pelan-pelan.

Bicara tentang Selfie
Arti selfie yang aku ketahui secara umum adalah teknik mengambil foto diri sendiri tanpa menggunakan bantuan orang lain. Seingatku, selfie mulai booming pada jaman aku masih di bangku SMA. Sekitar 2010 ke atas. Terus, ada Nadya Hutagalung pada waktu itu mengunggah foto selfie di instagram langsung masuk acara infotainment, haha. Bener-bener masa-masa selfie belum semarak ini.

Dewasa ini, selfie memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan aktivitas masyarakat modern. Mau berangkat sekolah, selfie dulu. Jalan-jalan bertamasya, gak lupa foto selfie. Kumpul bareng kawan-kawan lama, pake selfie juga. Ada nih pas kondangan, si pengantinnya diajak selfie bareng pake tongsis! *true story :D
Ampuni kelakuan kawan-kawan SMA-ku Tuhan :D

Selfie dalam kehidupanku
Buatku, selfie punya banyak arti dan fungsi. Manfaat dan mudharatnya memang bergantung pada tujuan pemakaian.

Selfie sebagai kebutuhan:
-Saat travelling sendirian. Foto selfie selalu jadi solusi untuk mengambil gambar diri kita tanpa harus merepotkan orang lain.
Pas lagi sendirian di Museum Puri Lukisan :3 (Ubud, Bali)
-Karena emang gak ada yang motretin. Ada lho, momen di mana emang sama sekali gak ada orang buat dimintai tolong.
Ini ikutan event sendirian. :(
Semua orang pada sibuk sendiri-sendiri :|
-Untuk seru-seruan dan rame-rame. Biasanya terjadi pas kita lagi kumpul ama banyak temen. Gak lupa pake tongkat narsis alias tongsis. Entah mengapa aku merasa foto selfie pun juga bisa bikin hepi.

-Untuk menunjukkan keakraban. Bisa jadi, kan? Toh sejauh ini aku masih sering merasakan unsur akrab yang kulihat dalam beberapa foto selfie.
Keliatan akrab, kan? :D
-Ikutan kontes. Kan banyak tuh kontes berhadiah dalam bentuk selfie. Aku kan quiz hunter, jadinya gak mau ketinggalan. :3

Selfie sebagai keinginan:
Nah, pada sisi ini lah sumber dari segala yang dimaksud oleh Ustad Felix Siauw. Coba ingat kembali, rata-rata kita berfoto selfie untuk apa?

Aku ingat, pernah setelah mandi dan berdandan cantik, aku jadi kepingin foto selfie. Begitu banyak hasil fotonya, aku pun memilah-milah mana yang cantik dan mana yang tidak. Bukan mana yang BAGUS dan mana yang tidak. Miris, kan? T.T

Seringkali kan, kita melihat hasil-hasil foto selfie kita sendiri lalu bergumam, “Wah, aku cantik/ganteng juga ya ternyata!” Lalu jadi mengagumi diri sendiri secara berlebihan atau bahkan merasa lebih cantik/ganteng dari pada lainnya. Syukur-syukur sih, ketika kamu memandang hasil fotomu, kamu bersyukur kepada Allah telah dikaruniakan rupa yang indah.

Ustad Felix Siauw dan pandangannya tentang selfie, dalam pandanganku
credit: felixsiauw.com
Menurutku, Ustad Felix sama sekali tidak mengatakan bahwa selfie itu haram ataupun dosa. Ia hanya mengimbau agar kita lebih berhati-hati dalam selfie, karena bisa menimbulkan penyakit hati seperti ujub, riya’, dan takabbur. Ujub adalah suatu kekaguman pada diri sendiri secara berlebih. Riya’ adalah mengharapkan pujian dari orang lain. Sedangkan takabbur adalah menganggap diri kita lebih baik dari pada orang lain. Dan penyakit hati tersebut bisa muncul secara bertahap. Misal, awalnya kita hanya merasa ujub. Namun kemudian kita pun jadi riya’. Bahkan selanjutnya bisa kena takabbur.

Meski, memang secara subjektif Ustad Felix terang-terangan menyatakan bahwa dirinya tidak setuju terhadap selfie. Ya biarkan saja, toh itu haknya untuk berpendapat. Haknya untuk menyatakan suka dan tidak suka. Sama halnya dengan kita yang juga berhak menyatakan suka atau tidak suka. Yang namanya opini itu kan menyangkut selera, jadi mau diapa-apakan ya percuma. Kalau memang seleranya Ustad Felix tidak suka selfie, ya maklumi saja. Namanya juga selera.

Yang seharusnya kita lakukan sebagai responden adalah menyaring informasi tersebut secara objektif. Tidak main hajar saja dengan berbagai hujatan. Kita cerna dulu apa maksud yang disampaikan oleh beliau. Lalu kita juga harus bisa membedakan bagian mana yang objektif, mana yang subjektif. Untuk bagian subjektif, hal itu terserah pada diri masing-masing mau diikuti atau tidak.

Sekali lagi, mohon diingat juga, mengimbau/memperingatkan sama sekali berbeda dengan mengeluarkan fatwa. :)

Pendapatku tentang reaksi keras dari publik
credit: flickr.com/creativecommons by ncomment
Jujur, aku amat menyayangkan reaksi publik yang hanya bisa menghujat dan melecehkan, terlebih pada orang Indonesia yang merupakan kaum muslim. Aku cuma bisa mengelus dada saat kudapati para pengguna hashtag #Selfie4Siauw malah mempergunakannya untuk meledek Ustad satu ini dengan berbagai foto selfie yang bombastis sampe banyolan selfie dalam bentuk meme.

Kalo aku sih ya, jangan cuma bisa menghujat dong! Harus berani berpendapat juga! Mengapa kamu tidak setuju dengan beliau, jelaskan! Beri bukti-bukti kuat kalau kamu mau pendapatmu dianggap benar. Asal kalian tau para penghujat, berkat ulah kalian, nama bangsa Indonesia dan agama Islam jadi ikut tercemar tau! Kalian yang gak tau apa-apa cuma bisa menodai bangsa dan agama kami. Aku sedih sekali.

Coba lihat lebih seksama, ada banyak sekali pihak yang memanfaatkan kesempatan ini. Headline berita-berita di berbagai portal online dibuat sedemikian rupa. Dibuat seolah-olah seorang pemuka agama di Indonesia menyatakan berfoto selfie merupakan dosa!
“A young Indonesian cleric has declared selfies to be a sin.”


*sigh* *ngenes* #DasarTuhOrangGagalFokus

Sedangkan kita sebagai orang Islam khususnya, bukannya membantu meluruskan, malah ikut-ikutan memperkeruh suasana. Sedih aku. Mereka para nonmuslim, khususnya yang di luar sana (selain Indonesia), sama sekali tidak mengerti pelajaran akhlaq yang diajarkan pada umat muslim. Ujub, riya’, dan takabbur bukanlah menjadi bagian dari ajaran mereka. Jelas saja bila mereka tidak mengerti. Namun parahnya, mereka hanya berani berasumsi mengungkapkan hal itu termasuk dosa, tanpa mau mengkonfirmasi terlebih dahulu. Dan kita sebagai umat muslim, alangkah baiknya mau mencoba meluruskan itu.

Wahai generasi muslim masa kini, jangan cuma bisa berbangga diri sebagai pemeluk agama Islam. Cobalah untuk memberikan sesuatu bagi agamamu ini, yang harusnya bisa kamu jaga sampai mati.

Dan kalian sadar gak sih, semakin orang menyangkal, sesungguhnya semakin benar pernyataan tersebut. Logikanya, kayak kamu lagi suka sama orang. Terus ada temen kamu ngeledekin kamu sama si dia. Kamu pasti bakal menentang mati-matian kan karena takut ketahuan? Bisa jadi orang-orang ini menyadari adanya sifat-sifat buruk yang disebutkan Ustad Felix ini, hanya saja mereka tidak mau mengakui. :)

(Tetap ada) Masukan untuk Felix Siauw
credit: twitter.com/felixsiauw
Begini ya Pak Ustad, ini cuma sedikit saran aja sih. Melihat kondisi Ustad yang dikenal sebagai orang yang penuh kontroversi, ada baiknya lebih berhati-hati dalam menyusun kalimat. Atau bahkan menyusun alur kalimat-kalimat yang mau disampaikan. Mungkin di bagian pembukaan, Ustad Felix sudah terlanjur membakar emosi di sana-sini. Jadinya ya publik langsung bereaksi keras begitu, deh. Coba kalo di bagian pembukaan Ustad kasih sesuatu yang adem ayem dulu, kan insya Allah mampu menarik simpati banyak orang.

Oya satu lagi, karena mayoritas pengguna sosial media banyak yang suka berfoto selfie, ada baiknya Ustad juga ngasih solusi bagaimana mereka tetap bisa berfoto selfie namun bisa meminimalisir dampak-dampak negatifnya. Seperti Dian Pelangi yang pernah menyarankan pada para Muslimah, untuk jangan berfoto selfie sambil menjulurkan lidah. Karena hal itu bisa membentuk citra negatif pada pelakunya.

Semoga Ustad sempat membaca bagian ini, ya. :)

In the end…
Ini bukan foto selfie kok :p
Kalo buat aku, selfie itu sah-sah aja dan pada akhirnya, semua memang kembali pada diri masing-masing. Kembali pada niat dan tujuannya. Aku tahu, tak mudah untuk benar-benar bisa terbebas dari penyakit hati. Namun alangkah baiknya bila kita mau mencobanya pelan-pelan. Seperti, menahan diri untuk tidak mengunggah foto selfie saat kita mengharapkan banyaknya like yang diterima atau pujian orang lain kepada kita. Bagaimana? Bukan suatu ide buruk, kan?

Yah, semoga kita bisa jadi pribadi yang mampu menyaring segala sesuatu yang kita terima. Terlebih pada era sekarang ini, semakin sulit membedakan mana yang benar dan tidak. Kalau menurut kalian sendiri, bagaimana? (˘⌣˘)

NB: Harap diketahui, tulisan ini aku buat bukan karena murni pendukung Felix Siauw, melainkan demi meluruskan salah kaprah yang terjadi. :) Untuk penjelasan langsung dari Pak Ustad, bisa kamu simak di http://felixsiauw.com/home/tentang-selfie/

70 comments :

  1. kalau aku lihat ust. Felix Siauw ini kadang terlalu frontal.. dan pernah membuat blunder pas ditanya pendapatnya tentang masalah Copyright/hak cipta.. :(

    aku kira salah satu alasan banyak haters ust. Felix Siauw karena beliau orang HTI, tau sendiri gimana pendapat orang2 tentang HTI, tapi walau begitu, aku menilai beliau ngga terlalu keras dan bisa masuk di lingkungan anak muda... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah... tapi ini kan topiknya beda lagi.. Ya mungkin beliau-nya kurang halus aja yang ini nyampeinnya :))

      Delete
  2. GOOD!!! ika memberikan opini dari 2 sudut pandang. hal yang sulit untuk dilakukan (y) :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak sulit kalo sudah terbiasa. :)) Ini masih latihan :D

      Delete
  3. kalo aku sih selfinya paling2 sepatu,sandal,tangan,jarang wajah..nggak tau,nggak suka aja,tapi kalo di foto suka hahahaha....*maksudnya??* xixixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoho, selfie selain wajah? Yaaa... kan berarti Mbak Hanna lebih suka fotografi ^^

      Delete
  4. Jarang banget selfie, kecuali diajakin sama anak-anak :)
    Kadang, orang membaca dan mencerna setengah-setengah, nggak utuh, akhirnya malah jadi debat kusir enggak keruan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, jadinya welfie lah yaw Makpuh :D
      Iyah.. jadinya malah gak berujung, gontok-gontokan gak jelas :3

      Delete
  5. Yah, menjaga hati itu penting. Aku lebih suka kalau welfie, foto bareng2 gitu. Kalo cuma sendirian kan kesepian *deuh apaan :D. Aku sih gak termasuk yg ngefans atau haters Ust. Felix. Aku udh gerah sama yg kontroversial di sosmed sehingga muncul respon yg tambah bikin gerah krn ada yg kasar, bahkan menghujat, jdnya ya citra ngomongin Islam itu yg pada berantem, kan gak oke... Aku sepakat aja sih, kalau berpendapat setuju atau tidak sebaiknya nyampeinnya baik2 jgn pakai emosi. Efeknya jd gak bagus & manjang... *Kangen sama para ulama jadul yg meski tak sependapat, tp bisa diskusi santun & intelek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, iyaa. Welfie lebih seru Mak ^^
      Jaman sekarang semua orang bebas berpendapat. Ulama mah dihujat2 mulu sekarang sama orang2. Padahal kalo bisa sampein agak alusan ya.. :)

      Delete
  6. Saya jarang banget selfie :D
    Dulu saya sempat follow ustadz felix ditwitter. Tapi sekarang sudah enggak. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya gak follow soalnya emang bukan penggemar dia :))

      Delete
  7. Aku jarang selfie sih mak...jarang difoto juga
    Maklum gak bisa begaya hehehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, selfie emang butuh banyak latihan Mbak :D:D

      Delete
  8. org kita suka bacanya separoh2 sih yaaaa....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jadi gak sampek kan maksud dan tujuannya :((

      Delete
  9. Kebanyakan orang melakukan selfie sebenarnya untuk menyimpan momen, misalnya ya seperti saat traveling. Sedikit orang yang selfie untuk memamerkan fisiknya atau ingin dipuja karena fotonya. Walaupun sedikit, orang-orang ini sangat intens dalam mengupload foto2ny, Jadilah terlihat banyak :)

    Aku sendiri orang yang jarang berfoto, ketika travel atau melakukan kegiatan tertentu seringkali aku terlalu asik dan menikmati kegiatan itu. Sering juga terpaku dengan keindahan alam, hingga lupa segalanya. Aku bingung juga ketika orang bisa teringat untuk mengabadikan pemandangan yang begitu indah, kalau aku sih terpana dan meresapinya. Hehe.

    Ya setiap orang pada akhirnya akan menanggung perbuatannya sendiri, dan bebas juga berpendapat seperti Pak Felix :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Ron, saya juga tipe penghobi selfie macam itu :)
      Buatku gak sedikit juga, banyak kok cewek-cewek yang begitu. Seneng banget upload foto selfienya secara berkala yang isinya muka dia melulu. Kan bosen ya liatnya :3

      Iya Mas, buatku menikmati momen dan banyaknya foto bagus yang dipunya itu berbanding terbalik. Aku merasakannya :D

      Delete
  10. Aku cuma dua kali selfie gegara ikutan kuis haha. Setelah itu nggak pernah lagi, karena klo selfie kok hasilnya melenceng kiri melenceng kanan, kadang dagu kepotong, susah banget mau selfie :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiaa.. pake kamera depan dong Mbak Lianny, dijamin aman :D:D

      Delete
  11. memang kita harus objektif dan melihat dari segala sisi mengenai segala sesuatu jangan langsung menghujat sebelum menelaah lebih dalam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buetull banget Mbak Harie.. Barulah setelah itu kita bisa menarik kesimpulan :))

      Delete
  12. Duh, mana gue bikin Lomba Selfie Bareng Lusi lagi buat GA novel gue. Semoga gak dengan niat tak baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo Mas Dani kan selfie-nya sesuai kebutuhan, bukan buat cakep2 an. Kan gapapa lah :))

      Delete
  13. orang kadang cuma baca judul berita langsung komen. kelihatan kl kurang bnyk belajar. sesekali kita perlu juga kok 'dihajar' oleh ustadz. biar nggak kebablasan. saya kira cara ngingatkan ustadz felix ini masih sopan kok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ustadz Felix ini kan niatnya cuma mengingatkan. Eh.. orang-orang pada asal nuduh aja XD

      Delete
  14. Really great blogpost (♡˙︶˙♡)

    ReplyDelete
  15. hahaha iya, bener..tapi kalo aku selfie sendiri nggak pede...biasanya kalo ada yg motretin baru deh aku nyengir hehehe

    ReplyDelete
  16. aku juga jarang sih selfi tapi aku juga tak pernah melihat orang yg selfi itu jelek karena belum tentu tujuan mereka untuk takabur atau riya. Mungkin untuk seru2an atau lucu2an selama masih dalam batas yg wajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, Selfie itu sebenernya sah-sah aja kok. yang penting gak berlebihan. Kan segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik :))

      Delete
  17. selfi seneng banget menghilangkan rasa jenuh :D

    ReplyDelete
  18. kalau saya sih selfie tetep jalan mbak. tapi share nya cuma ke suami aja. hehehe. mulai dikurangi intensitas sharing ke medsos nya.
    good post mbak :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah.. kalau share ke suami mah malah borong banyak pahala :D
      Sukaa sukaaaa ^^

      Delete
  19. kadang Selfie itu memang bisa menjadi Riya. Tergantung cara pandang orang lain juga gimana hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, hati kan cuma diri sendiri yang bisa menilai :)

      Delete
  20. Tergantung pada niat dan penyampaiannya mungkin ya, Mba , Selfie bisa jadi fun atau Riya :D
    Saya juga suka banget selfie hehehe.....
    Bisa bikin rame suasana, apalagi kalo pas ngumpul

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak.. Selfie kan sah-sah aja. Asal gak berlebihan gitu :)
      Apalagi kalo welfie, rame-rame emang seru Mbak :D

      Delete
  21. Replies
    1. Sipp Mas, semoga maksud saya nyampek ya :)

      Delete
  22. Aih, suka deh paparan Hilda... Aku juga termasuk yg suka selfie, narsis dan bahkan ratusan foto selfie kuuh. Gimana dunk...hehehe..

    Tapi, bener sih, ustad Felix gak bilang kalau selfie itu haram, cuma dia takut kita jadi Ujub, riya dan ujung-ujungnya takabur....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi.. Aku yakin Mbak Eka kan sudah dewasa, sudah bisa menilai sendiri mana yang pantes dilakukan ato enggak .. :))

      Iya, beliau maksudnya baik kok. Sayang, banyak orang yang salah tangkap aja :(

      Delete
  23. Tulisannya bagus banget. Tertata rapi. Bravo.
    Aku sebenernya gak pernah mau ikut2an soal pendapat yang bernuansa agamis karena aku sendiri blm ngerti sejauh itu. Sensitif, gitu... Tapi post ini ngingetin aku sama salah satu kolega di kampus. Ada benernya juga sih, himbauan itu. Jgn sampe riya & takabur. Balik lg ke orangnya masing2 kan :----)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak ^O^
      Hihi kalo aku mah cuma meluruskan saja apa yang aku tahu dan orang lain perlu tahu :)
      Iya, himbauan itu kan nantinya juga tergantung pada diri masing-masing yang menerima. :))

      Delete
  24. Kalau saya sih karena nggak pernah mendengarkan ceramahnya ustad-ustad jadinya nggak terlalu mikirin soal kayak ginian. Lagipula buat saya masih banyak urusan orang banyak yg perlu ditangani daripada urusan selfie, hehehe.

    Eh, tapi kalau cowok bukannya memang cenderung cuek soal masalah kayak ginian ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, saya ini juga biasa-biasa aja sih. lha ini sampe booming banget, gimana mau gak mau tau? :D Lagian saya nulis gini soalnya gak mau ada yang judge Islam dan orang Indonesia macem-macem :(

      Haha iya. Kalo cowok yang terlaluuu doyan selfie ya bikin ilfil mas :D

      Delete
  25. Memang ada coklat yang gak Gosong? Hmmmm mikir ni jadinya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang bener harusnya, emang ada coklat yang gosong? :D

      Delete
  26. Hihi kadang seneng selfi sich karena gak ada yang fotoin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya mbak, daripada gak ada kerjaan juga :D

      Delete
  27. Secara pribadi, aku ada yang setuju dan enggak dengan ustadz felix. Soal selfie ini? aku milih netral aja hihihi... lagian aku juga ga pede foto sendiri. Beraninya rame2 minimal berdua (sama cewek lah, kalau sama cowok nanti jadi fitnes :D). Sukaaa, HIlda bisa mengemas postingnya jadi tetep adem. Saya juga males berantem di sosmed, kesannya gimana gitu.... kayak main hakim sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, aku juga :) Itulah perlunya memilah dan memilih :)
      Makasih Mbak.. saya juga gak suka bikin hati panas. :D

      Delete
  28. Foto2 bareng aku oke aja, Tapi selfie udah jarang. Anak2ku yg ABG malah nggak punya akun medsos (FB, twitter) utk memajang foto selfie, pdhl aku nggak melarang, pilihan mereka sendiri. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pajang foto selfie di sosmed sah-sah aja sih Mbak, asal ada batas kewajarannya :)

      Delete
  29. suka baca postingannya Hilda..selfie perlu sih untuk identitas di sosmed, oh ini yang namanya A hehe..asal jangan berlebihan saja...sampai penuh di TL hihihi...aku ngga bisa selfiee makanya foto profil jarang ganti..hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mbak Dedew.. Aku juga perlu foto selfie buat kepentingan profil juga. Iya, yang jelek itu kan yang menuhin sosmed :D

      Delete
  30. Selfie..saya demen lho, tp ya ga senarsis abg gitu, masalah haram ato tidak tergantung niatnya. N kayaknya selfie ga berdampak buruk ato berbahaya kan. Banyak hal lebih urgent utk dikomentari lho sebenarnya ama pak ustad drpd sekedar hal #selfie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ada pernyataan kalo selfie itu haram kok Mbak :)
      Ya.. gak juga sih Mbak, buatku yang dilakukan Pak Ustad baik untuk kebaikan akhlak :)

      Delete
  31. menarik...betul ya..kita diingetin malah ngeyel...harus belajar terima dan introspeksi..bersyukur masih ada yg mengingatkan...suka tulisannya dilihat dari berbagai sisi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak.. Namanya reaksi ya beda-beda.. Kalo soal kebaikan ya kadang banyak ngeyelnya hehe

      Delete
  32. pernah denger sih katanya "ustad yang menghimbau untuk tidak foto selfie ini" pernah jadi juri untuk kontes foto selfie, entah benar atau tidak,

    miris sih ngelihat yang ikut-ikutan ngebully tanpa tau maksud si penghimbau,

    maksudnya si ustad mungkin baik tapi menghimbau di tempat orang nyebar foto selfie ya jelas banyak yang protes :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi selfie yang dimaksud itu bukan dalam artian mentah, melainkan muhasabah diri. hanya meminjam istilah selfie :)

      Iyaah :'(

      Delete
  33. Happaaaaahh? 2010 masih SMA? *langsung berasa tua. Wkwkwk*
    Iiihh tulisan Hilda (manggilnya apa sih?) lebih bagus. Dikasih alasan juga sarannya ke ustad. Trimsss sudh ikut meluruskan ttg selfie. Sesama muslim emang harus meluruskan, apalagi ustad dihina dg alasan gak jelas :)

    ReplyDelete
  34. bukan masalah Ustad Felix menghimbau untuk berhati-hati atas selfie nya yang dipermasalahkan. yang jadi masalah adalah setelah menghimbau begitu, beliau sendiri mempromosikan event istrinya (yang membuka butik hijab jika tidak salah) dengan cara mempersilakan orang-orang yang mengikuti event tersebut untuk berselfie dengan istrinya tersebut. beliau ngomong A tapi perilakunya B, bagaimana orang-orang tidak lantas berpikir yang tidak-tidak? cmiiw :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyess, tapi pemaknaan publik terlalu sempit. Karena selfie yang dimaksud Pak Ustad ini selfie yang kadarnya berlebihan kayak satu frame isinya 9 gambar selfie semua.. Lidah dimecucuin dll.. Gitu. :)

      Delete
  35. sebelumnya salam kenal mbak, mengenai pernyataan ustad felix siauw tentang selfie, awalnya ane juga gak mikirin, karna terlalu lebay menurut saya. tapi setelah membaca artikel yang disodorkan temen saya, saya skarang lebih berhati-hati untuk selfie.. karena memang pebjelasannya masuk akal juga sih. kalau mau tau artikelnya copy aja link ini [ http://rislah.com/ini-alasan-foto-selfie-dilarang-islam-baca-dan-renungkan-sendiri/ ]

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))