Thursday, August 20, 2015

Little Reunion

Little Reunion

Jadi, keinginan untuk bertemu dengan little-girl-who-turn-into-beautiful-lady seperti yang kutulis di postingan Sahabat Kecil ini akhirnya terwujud. Sekitar awal Agustus lalu, aku janjian buat main ke rumahnya dengan niatan menjalin silaturahmi. Udah 6 tahun gak ketemu, kebayang gak tuh gimana kangennya.

Awalnya dia nawarin buat ketemu di luar tapi karena aku takut ngerepotin dia mending di rumahnya aja lah. Itung-itung silaturahmi ama keluarganya juga kan. Toh aku lumayan akrab dengan mamanya, juga dengan papanya yang seorang polisi. Ah kalo ketemu papanya aku bakal diledekin gak yaa? Jadi keinget kejadian memalukan beberapa tahun silam saat aku naik sepeda ontel dan nabrak motor, ditolong oleh beliau yang kebetulan sedang bertugas di situ. Digendongnya aku ke pinggir jalan dan dicarikan tumpangan menuju sekolahan (kejadiannya emang pas berangkat ke sekolah sih). Nah sejak kejadian itu kalo ketemu beliau, kadang diungkit-ungkit. Kan jadi maluuuu. :’3

Sekitar jam 11an aku dateng ke rumahnya dan nih anak masih aja jadi sleeping beauty. Rumahnya sepi banget. Bahkan cuma mamanya seorang yang menyambut kedatanganku. Aku pun menghampiri Shinta yang tengah mulet di sofa ruang tengah. Sembari menunggu nyawanya terkumpul, aku memandang sekeliling rumah. Nggak banyak yang berubah. Tata letak foto keluarga sejak aku terakhir berkunjung ke sini masih tetap sama. Yang berubah hanyalah pajangan foto yang bertambah dan televisinya yang berganti flat screen.

Beberapa saat tinggallah kami berdua di ruang tengah karena mamanya tengah sibuk mencari dompet yang lupa ditaruhnya di mana. Berhubung sepinya rumah mengusik pikiranku, aku pun bertanya, “Shin, Papamu di mana?”

Dan jawabannya sungguh tak kusangka.

“Lho Ka, Papaku kan sudah nggak ada,” jawabnya setengah berbisik.

JEDAAR! Berasa kena geledek di siang bolong. “Eh maaf ya, aku nggak tau,” ujarku pelan setengah berbisik pula. Shinta cuma memandangku maklum. “Udah lama banget Ka… masa kamu gatau sih?”
Sumpah ye… namanya juga udah lost contact sekian tahun. Wajar dong kalo aku gatau. Lagipula selama ini kita hidup di dunia berbeda—dan yah, aku laksana di negeri antah berantah.

Ternyata Pak Kurin—Papanya Shinta—ini telah tiada sejak Shinta duduk di bangku kelas 2 SMA. Duuh udah lama banget. Ya ampun tiwas sebelum berangkat aku udah ge-er duluan bakal diledekin Papanya Shinta. Dan kukira hari itu aku bakal bertemu dengan beliau, ternyata udah duluan pergi ke rahmatullah. :( Setauku Papa Shinta ini belum sepuh-sepuh amat. Pastinya bukan karena faktor U, dong?

“Iya, waktu itu Papa tiba-tiba sakit DB. Tiga hari kemudian udah nggak ada (meninggal dunia),” imbuh Shinta.

Uh, syediiiih. Seingatku Papanya ini orang baik. Bukan tipe polisi gahar dan ramah serta murah senyum. Semoga bahagia di alam sana ya Pak. :’)

Pantes rumah Shinta sekarang sepi begini. Nggak ‘sehidup’ dulu. Praktis sejak kepergian Papanya, rumah berlantai dua ini hanya ditinggali oleh Shinta dan Mamanya. Itu pun Shinta kuliah di Malang kan. Untung kakak perempuan Shinta satu-satunya yang udah berumah tangga tinggal di dekat situ. Jadi seringkali rumah ini diramaikan oleh kehadiran cucu-cucunya.

Selanjutnya gantian Shinta yang nanyain kabarku. Apa ibuku masih jualan peyek, bla bla bla. Ayahku gimana. Ya aku cerita sejujurnya kalau saat ini ayahku nggak punya pekerjaan tetap. Sehari-hari ya kerjanya turut mengurus toko kelontong satu-satunya sumber kehidupan keluarga kami. Meski kelihatannya sepele, alhamdulillah bisa membiayai pendidikan anaknya tanpa harus terlilit utang sana-sini.

Aku pun berkaca ke diri sendiri. Bersyukur sekali masih punya ayah meski kehidupan kami tidak berlimpah ruah. Kehadiran ayah laksana cahaya dan nakhoda di keluarga kecil kami. Hidup sederhana dengan adanya ayah lebih berharga ketimbang berkecukupan tanpanya. *apalagi kalo tadinya berkecukupan kemudian pas-pasan* #eaaa

Oya, aku pernah ngasih kado istimewa untuk Shinta di ulang tahunnya yang keempat belas silam. Kado itu kusebut ‘buku kenangan’ karena memuat kenangan-kenangan kisah persahabatan masa kecil kita. Jangan bayangin rupa dan bentuknya kayak scrapbook, lha wong ini cuma buku tulis biasa. Tapi isinya…. FULL! Tulisan tangan dan tempelan nyomot dari berbagai majalah. Sampe doodling bikinanku juga ada. Kalo jaman sekarang ngebikin kek gitu gak bakal sanggup deh aku haha. Itu kan aku garapnya pas masih di pondok dan butuh waktu setahun hingga benar-benar rampung. :D

Aku seneng banget deh kadoku itu masih disimpan baik ama dia. Waktu aku minta dikasih lihat keadaannya gimana sekarang, duuuh agak geli-geli gimana gitu waktu Shinta nyodorin bukunya padaku. Maklum tulisan jaman alay euy, gaya bahasanya bikin guling-guling yang baca *barangkali yang baca kena alergi tulisan alay huehehe*.

Bisa dibilang pertemuan kami kali ini cukup singkat *tapi sempet juga makan nasi bebek :v* karena lebih sering terjebak dalam keheningan yang lama. Well apapun itu aku sih hepi-hepi aja, yang penting dia nggak lupa padaku dan tetap menganggapku sebagai teman (meski statusnya tak lagi teman dekat) apalagi sikapnya pun nggak annoying kek kebanyakan teman-teman lamaku lainnya. Doaku untukmu manis, semoga selalu dilimpahi rahmat dan berkah dari Allah. Lancar kuliahnya, bermanfaat ilmunya dan sukses selalu. ( ˘)ะท┌◦◦◦♥


Salam persahabatan,
-Hilda Ikka-

4 comments :

  1. semoga di lancarkan dalam segala halnya yah mbak :)

    ReplyDelete
  2. Semoga doanya Mba Hilda terkabul, amiin.. ^_^

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))