Tuesday, November 3, 2015

Bertandang ke Kediaman Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto

credit: ceritasby (dot) com
Bertandang ke Kediaman Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto

Selama ini, aku taunya Kota Surabaya berjuluk Kota Pahlawan karena pertempuran 10 November 1945 yang melibatkan perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mepertahankan kedaulatan RI. Kemudian untuk mengenang jasa-jasa pahlawan tersebut didirikan Tugu Pahlawan, yang berdiri kokoh menantang langit hingga sekarang. Sesimpel itu. Lhadalah setelah bergabung dengan organisasi GMS, aku jadi tau kalo Surabaya ini rupanya menyimpan banyak peradaban sejarah era pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sebut saja makam dan museum WR Supratman, makam dan museum dr. Soetomo, rumah kelahiran Bung Karno, hingga kediaman guru bangsa HOS Tjokroaminoto.

Di postingan #SelasaSurabaya sebelumnya kan aku cerita jalan-jalan ke kampung kelahiran Soekarno. Karena daerahnya nggak jauh dari rumah HOS Tjokroaminoto, jadinya sekalian deh ke sana. Malahan ini yang aku kunjungi terlebih dulu sebelum bertolak ke Kampung Soekarno.

Sebagai bekal, aku tanya-tanya ke temen-temen soal teknisnya berkunjung ke rumah yang telah disahkan sebagai cagar budaya pada tahun 2009 tersebut. Kata senior GMS-ku, untuk bertandang ke sana ada baiknya rame-rame sekalian. Karena apa? Rumah itu nggak selalu dalam keadaan terbuka dan untuk masuk ke dalamnya, perlu menemui ketua RT setempat yang merangkap sebagai juru kunci. Nah kalo datang berdua aja katanya nggak direken. Duh, padahal rencanaku mo pergi berdua aja ama Muffin. Kalo janjian ama orang lain banyak mbuletnya. -____-

Yaudalah aku bondo nekat ke sana, tetep di plan A: cuma sama Muffin. Plan B: semoga bisa ketemu Pak RT. Minimal kalo nggak dibolehin masuk, bisa menggali sejarahnya. Plan C: kalo nggak ada ya buyar aja. :v

Rumah HOS Tjokroaminoto ini tepatnya berada di Jalan Peneleh VII no. 29 – 31. Kenapa nomor rumahnya banyak sekali? :O Nanti aku jelasin di belakang yah. :D Pokoknya untuk menuju ke tempat ini sama sekali nggak ribet. Patokannya adalah Jembatan Peneleh yang menghubungkan Jalan Gembong dengan Jalan Peneleh. Gangnya tepat di seberang ujung jembatan ini. Lalu ada semacam tiang penanda untuk menuju rumah HOS Tjokroaminoto benar adanya melalui gang ini.

Jarak rumahnya dari mulut gang pun hanya sekian meter. Lalu betapa bahagianya aku mendapati rumah bersejarah ini dalam kondisi terbuka, karena sedang ada pengecatan untuk revitalisasi. Yuhu asiiik. Tapi sayang aku nggak bisa berfoto dengan maksimal karena you know lah, banyak kaleng cat dan peralatan berserakan. Ditambah lagi ada terop bekas acara Idul Qurban yang terpasang di depan rumah. -_____-




Rumah ini punya ruang depan yang luas, gang yang lebar serta dua kamar berpintu. Bagian belakangnya juga lumayan luas karena tanpa sekat. Kamar mandinya berada di pojok dan udah direnovasi menjadi lebih modern untuk kebutuhan air yang memadai. Sepenjuru dinding rumah banyak dipajang pigura berisikan informasi sejarah mengenai kiprah Pak Tjokro beserta foto-fotonya. Nggak ketinggalan juga foto murid-murid beliau yang dulunya kos di sini semasa melanjutkan pendidikan di Hogere Burgerlijks School (HBS). Tebak dong siapa aja? Yakni Muso, Alimin, Sema’un, Kartosuwiryo, bahkan Soekarno! Chocoreaders harusnya nggak asing kan dengan nama-nama tersebut karena kesemuanya punya andil besar dalam menorehkan tinta sejarah. Soekarno yang dikenal sebagai orator ulung pun didapuk sebagai presiden pertama RI. Sedangkan Muso, Alimin, Semaun dan Kartosuwiryo lebih dikenang sebagai pejuang ideologi mereka masing-masing, yakni PKI dan NII, yang berakhir pada kasus pemberontakan.

Hebat, nggak heran jikalau Pak Tjokro berjuluk sebagai guru bangsa. Pemikiran-pemikirannya sungguh luar biasa. Sejak Sarikat Dagang Islam diubahnya menjadi Sarikat Islam dan diangkat sebagai ketua, kiprahnya semakin bersinar. Ia memperjuangkan hak-hak pribumi yang sekian lamanya ditindas oleh kolonial Belanda. Beliau juga selalu meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan pemuda-pemuda yang kos di tempat tinggalnya. Dan dari situlah Pak Tjokro lambat laun menyadari kecerdasan Bung Karno yang berbeda, sehingga beliau amat menyayanginya. Puncaknya beliau amat bersuka cita tatkala Soekarno meminang putri pertama Pak Tjokro, yakni Siti Oetari. Sayang pernikahan itu hanya bertahan selama dua tahun.

Ruang tamu
Berfoto di kamar Pak Tjokro dan istri

Tidak banyak perabotan yang dapat dijumpai di sini. Kebanyakan pun merupakan sumbangan dari ahli waris Pak Tjokro. And surprisingly, rumah ini berlantai dua loh! Aku amat terkejut sewaktu mendapati tangga besi menuju ke arah plafon rumah. Begitu sampai di atas sana, yaelah ternyata cuma loteng dengan langit-langit yang rendah. Ternyata oh ternyata, ruangan ini dulunya dipakai Pak Tjokro untuk menjalankan kegiatan spiritual. Entah apa. :3

Kiri: tangga menuju ke atas | kanan: situasi dan kondisi bilik
Surat kabar yang memuat tulisan HOS Tjokroaminoto

Berada dalam rumah sejarah ini mebuatku ‘bergidik ngeri’. Bukan konotasi negatif yah, maksudku merinding aja gitu tempat kakiku berpijak saat itu merupakan saksi bisu perjuangan pelopor kemerdekaan Indonesia. Andaikan punya mesin waktu, ingin sekali rasanya lompat ke jaman dulu untuk menonton peristiwa-peristiwa yang terjadi di rumah ini.

Bagian tengah/gang rumah
Berfoto di salah satu sisi ruang tamu, yang dulunya merupakan kamar

Aku sengaja nggak berlama-lama karena hendak menemui Pak RT-nya juga. Meski keturutan menjelajahi isi rumah, tentu dong aku mau tau lebih soal sejarah rumah tersebut. Apalagi nih ya, rumah berukuran 9 x 13 ini sempat ‘hilang’ dan baru diketahui keberadaanya pada tahun 1996.
Adalah Pak Eko Hadi Ratno, ketua RT setempat yang berjasa besar dalam pelestarian cagar budaya rumah HOS Tjokroaminoto. Syukurlah tidak sulit menemui beliau, terlebih di hari libur dan kebetulan beliau sedang ada di rumah. Bertempat di rumahnya yang sederhana, ia menyambutku ramah meski dalam kondisi sedang tak enak badan.

“Maaf ya Mbak saya nggak bisa menemani keliling rumahnya,” ujarnya. Oooh… rupanya beliau selalu menjadi guide bagi siapa pun yang berkunjung ke rumah HOS Tjokroaminoto. Ikhlas dan sukarela, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Luar biasa. Menyesal sekali aku kemarin nggak bawa apa-apa. :( Kalo Chocoreaders berkesempatan bertemu dengan beliau, bawakan oleh-oleh ya. Beliau ini orang baik, tidak mau menerima pungutan untuk masuk saku pribadi, jadi alangkah baiknya kalo bisa memberinya hadiah. :) Bawain brownies atau kue pia aja udah nyenengin. :D

Ternyata Pak Eko ini asli orang kampung Peneleh. Beliau tinggal di rumah neneknya menghabiskan masa kecil dan remajanya. Pak Eko semasa mudanya aktif dalam berbagai kegiatan sosial, bergabung dengan karang taruna setempat, dan gemar membaca buku-buku sejarah. Beliau amat mengidolakan Soekarno beserta pemikiran-pemikirannya. Lelaki yang bekerja di perusahaan AMDAL ini amat peduli terhadap eksistensi peninggalan sejarah. Karena menurutnya, apalagi yang bisa kita perbuat selain menjaga warisan para pahlawan untuk terus dikenang dan dipetik pelajarannya? Katakanlah sebagai salah satu bentuk rasa terima kasih kita terhadap para pahlawan pejuang kemerdekaan. :)

Pak Eko :)

Pak Eko juga menjadi saksi saat rumah ini pertama kalinya diketahui oleh publik sebagai rumah HOS Tjokroaminoto. Jadi rumah ini setelah tidak lagi ditempati oleh keluarga Pak Tjokro, pada jaman Orde Baru diambil alih oleh TNI AD dengan membawa ‘surat sakti’. Taulah pada jaman itu para penguasa dikit-dikit pake ‘surat sakti’. Padahal dulu rumah ini oleh Soekarno dititipkan pada tetangga depan rumah. Namun karena lama putus kontak, rumah ini pun dengan mudah berpindah tangan. Setelah sekian lama dihuni para TNI AD, rumah ini dikoskan untuk mahasiswa yang kebanyakan berasal dari ITS.

Lalu suatu malam pada tahun 1996, tiba-tiba salah seorang puteri Soekarno yakni Rahmawati, mendatangi kampung Peneleh. Setelah meminta izin pada ketua RT waktu itu, ia pun bersemedi sebentar di depan rumah seolah berkomunikasi entah dengan siapa. Usai semedi, beliau meminta seluruh warga untuk berkumpul dan pada detik itu juga masyarakat yang tinggal di gang tersebut BARU TAU bahwa bangunan ini merupakan rumah bersejarah milik HOS Tjokroaminoto. Ckckck, luar biasa rezim Soeharto dalam menutupi jejak-jejak perjalanan Soekarno.


Oya, kenapa rumah Pak Tjokro ini bernomor ganda? Karena memang sebetulnya rumah Pak Tjokro luas sekali hingga ke bagian belakang. Bagian belakan rumah dulunya merupakan kos yang ditempati oleh Soekarno dkk. Namun pada masa ke masa patokan tanahnya tidak jelas sehingga bagian rumah yang dulunya kos itu dicaplok untuk pembangunan sekolah dasar. Bagian dalam rumahnya pun mengalami banyak perubahan sejak diambil alih TNI AD. Ruang tamu yang teramat luas itu, ternyata salah satu sisinya merupakan kamar juga.

Rahmawati sendiri mengetahui perihal rumah ini dari biografi bapaknya yang menyebutkan pernah kos di situ semasa menuntut ilmu di HBS. Selanjutnya untuk dilestarikan dan dirawat sebagaimana mestinya, rumah ini melalui hambatan yang berliku. Pak Eko lah yang selama ini memperjuangkan nasib rumah bersejarah ini. Beliau menyurati dan menemui pihak pemkot, dinas pariwisata, dan lainnya untuk meminta hak-hak revitalisasi. Oya, dulunya rumah HOS Tjokroaminoto juga dilengkapi oleh koleksi buku gubahan sang guru bangsa. Tapi hilang semua gara-gara tangan pengunjung yang tak bertanggung jawab. :(

Yah, semoga Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan ato Dinas-Dinas lainnya bisa peduli terhadap cagar budaya yang menyimpan banyak sejarah dan pelajaran untuk generasi sekarang. :')


Kini Pak Eko hanya mampu berharap pemuda-pemuda jaman sekarang bisa meneladani perjuangan pahlawan, dari sosok Pak Tjokro misalnya. Beliau juga ingin sekali para pemuda dapat aktif berdiskusi, bertukar pikiran layaknya para pemimpin jaman dulu agar wawasan makin luas dan mampu mengkritisi hal-hal yang menyimpang. Oleh karena itu Pak Eko membuka pintu selebar-lebarnya bagi yang ingin mengadakan acara diskusi kepemudaan atau kegiatan sosial di rumah HOS Tjokroaminoto.

Haduh, usai berbincang-bincang dengan Pak Eko ini aku merasa malu sekali. Kontribusi apa ya yang sudah aku lakukan untuk Indonesia? Minimal untuk membalas jasa-jasa para pahlawan, karena tanpa perjuangan mereka bisa jadi saat ini kita nggak akan bisa hidup enak kan. :’)

Berikut falsafah hidup dari HOS Tjokroaminoto ini barangkali bisa kita teladani:

“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.” –HOS Tjokroaminoto

Salam JAS MERAH,
-Hilda Ikka-

8 comments :

  1. pas banget nih, lagi baca Tetralogi buru yang nomor 3 "jejak langkah". lagi nyeritain lahirmya syarekat dagang Islam.

    salam Jas Merah,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar makin lengkap wawasannya monggo atuh main ke sini :D

      Delete
  2. wah keren, bisa berkunjung kesana, mendapat banyak pelajaran berharga, ya. Semga kita generasi muda *umpetin KTP* bisa berkontribusi buat bangsa ini dengan cara masin-masing, ya. Amin.

    ReplyDelete
  3. wah benar2 rumah kuno ya, mudah2an bisa ke sana

    ReplyDelete
  4. Aku habis baca buku kisah hidupnya. Seru banget ya sejarah rumah itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyo Mbak Lus, kalo mau diceritain semua di sini gak cukup. :D

      *alesan padahal lupa* xD

      Delete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))