Wednesday, February 10, 2016

Prewed Story: Batu dan Kerikil Menjelang Pernikahan

Prewed Story: Batu dan Kerikil Menjelang Pernikahan

Menyiapkan segala printilan menjelang hari-H pernikahan itu emang nggak bakal luput dari drama, even sekecil apa pun. Pernikahan tanpa drama, ibarat ketek tanpa bau asem gitu lah. Dan percayalah, cobaan menjelang pernikahan itu bentuknya nggak cuma mantan yang tiba-tiba nongol kembali. Coba kalo beneran cuma gitu, enak dong aku secara nggak pernah punya mantan BHAHAHAHAK.

Jadi gini, beberapa waktu lalu aku masih ngerasa perjalanan kami berdua (aku dan Muffin) menuju pelaminan tuh mulus-mulus aja. Sampe di awal bulan ini aku mulai ngerasa sering muncul perselisihan. Padahal masalahnya sih sepele aja. Tapi karena mungkin kita berdua sama-sama stress dan tertekan yah, alhasil jadinya lebih emosian. Kemudian satu per satu cobaan pun mulai datang dan parahnya aku sama sekali nggak sadar kalo perjalanan kami tengah diuji. Beruntung kami berhasil melewatinya.

Dan kira-kira 3 hal berikut ini lah bentuk ujiannya:

MISKOMUNIKASI
Akhir-akhir ini aku seriiiiing banget ribut ama Muffin. Entah mengapa stok kesabaranku cepet abis. Apalagi penyebabnya adalah Muffin sendiri. Rasanya tuh pengen berubah jadi Hulk-wati seketika.

Gara-garanya:

1. Muffin jadi makin pelupa. Contohnya aja, aku udah berulang kali ngomongin soal kuade (pelaminan) yang begini lah, begitu lah. Terakhir aku ngabarin Muffin, untuk kuade udah di-handle periasku. Cuma rincian biayanya belum keluar jadi masih belum tau akan menelan dana sebesar apa.

Terus nggak lama kemudian ketika ngobrolin persiapan lain, dia ngungkit-ngungkit soal kuade. Katanya ayo buruan booking, ini ada alamatnya, budget-nya berapa, dll. Sementara dalem ati aku mrongkol gak karuan, coz seolah-olah omonganku ini nggak pernah diperhatiin.

Tapi lama-kelamaan aku mulai paham watak Muffin. Dia kalo nggak minat untuk menanggapi/berargumen, tiap kali orang ngomong ya di-iya-in aja. Terus lupa zzz -____- Nyebelin sih emang. Terus dia juga bilang soalnya emang lagi tertekan banget. Yaudalah aku memahami, toh akhir-akhir ini Muffin sering lembur buat ngumpulin modal. :’)

So, kalo besok kamu hendak menikah dan mendadak pasanganmu mengalami pikun usia dini, kemungkinannya cuma dua: stress menjelang pernikahan atau kebanyakan micin.

2. Muffin terlalu realistis. Pas aku kasih rincian biaya sewa terop dan peralatan lainnya, dia langsung panas dingin gitu. Trus minta aku buat nekan biaya lah, cari yang lebih murah lah, bla bla bla. Jelas dong aku kzl! Soalnya aku udah memperhitungkan biaya ini-itu bisa hampir mencapai 10 juta, jadi begitu gak sampe menyentuh angka itu ya harusnya bersyukur dong.

Padahal Muffin sendiri juga maunya yang bagus, tapi nggak terima dengan harga segitu. Lah kalo bagus ya wajar, kalo mau murah ya pake terop ijo yang seringnya dipake pas ada orang meninggal. -___- Itu pun harganya 150 ribu lho!

Padahal aku juga udah berusaha ‘mengempiskan’ anggaran. Namun usahaku seolah gajah di pelupuk mata yang tak tampak bagi Muffin.

Sabar yeeee
Dan memang sih, kesalahanku juga yang kurang detil menjelaskan ini-itu. Seperti kalo biaya sewa ini rata-rata harganya segini, begitulah.

GEGAR BUDAYA ANTAR KELUARGA
Ini lumayan bikin pusing. Padahal jarak antara Surabaya (tempat tinggal Muffin) dengan Gresik (tempat tinggalku) lumayan deket, lhawong kotanya sebelahan. Tapiiiiiiii menghasilkan jurang perbedaan budaya yang begitu dalam. Sampe aku dan Muffin nyaris dibuat uring-uringan untuk nyari jalan tengahnya. Dan permasalahan yang cukup pelik adalah 2 hal ini:

1. Akad
Bagi keluargaku, orang yang berhak menyaksikan ijab qabul hanyalah keluarga inti dan sebagian orang-orang terdekat sekaligus tetangga kanan-kiri. Intinya yang hadir itu nggak sampai meluber ke luar rumah, cukup sampai teras aja. Buat keluargaku pula, suasana seperti itulah yang kami anggap sakral. Karena nggak uyel-uyelan dengan banyak orang dan terasa begitu syahdu. *alah, kok macam lagu dangdut ._.

Lain di mata keluarga Muffin, menurut mereka momen ijab qabul adalah hal terpenting yang harus mereka hadiri. Resepsi itu kan sebuah perayaan aja, esensi utamanya ya sewaktu akad. Begitu kira-kira. Jadi mereka maunya ya seluruh keluarga besar hadir menyaksikan. Asal Chocoreaders tau, jumlah keluarga besar Muffin kalo dikumpulin jadi satu bisa membentuk RT baru lho. Gileeeee~

Nah, rencana awal kan akad dan resepsi digelar pada hari yang berbeda. Ibuku pun pusing membayangkan pengeluaran konsumsi yang membengkak akibat tuntutan keluarga Muffin. :v Tapi yaudalah keluargaku akhirnya mengalah demi kebaikan bersama.

Cuma aku sih sedikit dongkol yah untuk bagian ini. karena di mana-mana kan pihak laki-laki yang mengikuti aturan tradisi pihak perempuan. Lah ini malah sebaliknya. :v Aku sampe bilang ama Muffin sebenernya aku kecewa banget, tapi yaudalah lagi-lagi demi kebaikan bersama. Salah seorang tetanggaku menghibur, katanya kadang pihak laki-laki ngerasa kekuasaannya lebih tinggi dari pihak perempuan. Hufft.

Ditambah Muffin ngotot kalo akad disaksikan banyak orang efeknya lebih sakral karena diaminin banyak orang. Padahal buatku sih enggak juga. ._.


2. Resepsi
Awalnya kami merencanakan acara pernikahan dihelat selama 2 hari. Jumat pagi akad nikah lalu malemnya walimatul ‘arusy, besoknya baru resepsi. Tujuan ibuku sih soalnya menganut tradisi masyarakat daerahku. Sistemnya gini, yang diundang walimah kan bapak-bapak doang. Setelah walimah pasti dapet kotak berkat kan. Nah istri dari bapak-bapak yang diundang ini baru buwuh esok kemudian. Kalo esoknya nggak ada resepsi, mereka bakal buwuh kapan pun yang dia mau.

And then… keluarga Muffin maunya kalo bisa sih 1 hari. Mereka ngasih pandangan ini-itu yang sempet membuatku (dan keluarga salah paham). Soalnya terkesan maksa dan (lagi-lagi) nggak mau menghargai tradisi keluargaku. Kalo cuma 1 hari kan berarti walimahnya setelah resepsi, kemudian orang-orang bakal buwuh semaunya sendiri yang artinya = ibuku nggak bisa tenang beristirahat. :(

Beruntung ada orang yang ngebantu nyari jalan tengah, katanya orang-orang yang buwuh ini diundang pas resepsi aja sekalian. Baru besoknya si bapak walimah. Keluargaku pun setuju, meski resikonya bakal jadi omongan orang karena menyalahi tradisi.

ACARA KUNJUNGAN BALASAN
Jadi acara keluarga berkunjung ke rumah Muffin Minggu lalu, hasilnya kacau balau. Astaghfirullahal’adzim deh pokoknya~ Kronologisnya begini:

1. (H-7) Ibu mengundang sanak saudara dari desa, tepatnya Jombang. Ibu udah minta mereka dateng pagian + nggak usah bawa aneh-aneh. Dari awal aku udah punya firasat buruk akan hal ini, tapi ibu meyakinkanku kalo mereka berangkatnya habis Subuh.

2. (H-6) Aku konfirmasi ke Muffin rombongan keluargaku yang datang berjumlah 3 mobil dan kira-kira berangkat jam 9 ato 10-an.

3. (H-semalam) Pihak dari Jombang mengabari kalau baru bisa berangkat jam 7 soalnya harus ngasih pakan buat hewan peliharaan. -____- Aku konfirmasi ke Muffin dan dia shock berat.

4. (Hari-H) Pihak dari Jombang NGARET! Bayangin mereka baru berangkat jam 8-an. Hari itu aku emosi berat dan gerundelan sepanjang hari. Ditambah ibu nyuruh aku bungkusin BISKUIT & KUE banyak banget. Padahal aku dongkol berat ama mereka. Bisa dibayangkan lah betapa busuknya hatiku saat itu. LOL.

5. Baru nyampe jam 11. Akhirnya diputuskan berangkat setelah Dzuhur. And you know, musala di rumahku tuh kecil banget jadi harus gantian. Walhasil molor bangetzzzzz dan baru berangkat jam 1 lebih OMG!


6. Rombongan mobil kami terpisah di jalan tol. Dua mobil nyasar sana-sini gara-gara sopirnya sotoy. -___- Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh selama 1 jam malah berbuntut jadi 2 jam.

7. Nyampe rumah Muffin langsung disuruh makan gara-gara yah, makanan udah siap sejak jam 11 BAYANGKAN. T^T *jelas nggak enak hati kan* Padahal tiwas rombongan keluargaku udah makan sebelum berangkat. -___- *soalnya sesi makan-makan biasanya terakhir kan, ini terpaksa didahulukan gegara makanannya keburu dingin.

8. Waktu itu masih pakai kesepakatan acara pernikahan digelar selama 2 hari. Muffin sendiri udah bilang kalo hal itu udah clear dan nggak bakal dibahas di acara ini. Lhadalah ternyata topik ini muncul ke permukaan, keluarga Muffin mengajukan usul untuk acara digelar sehari aja. Dan Muffin nyebelin banget karena dia nggak bertindak apa-apa, dieeeem aja padahal udah aku tending-tendang kakinya alias ngasih isyarat. Walhasil aku yang udah ngalamin bad day dan merasa tertekan akhirnya kelepasan emosi yang bikin reputasiku langsung memburuk di keluarga Muffin. :(

Akhirnya? Esoknya aku dan ortu berdiskusi jadinya ya setuju sehari itu. *kembali ke topik gegar budaya*
*

Kesimpulannya, hampir seluruh calon pengantin akan mengalami drama menjelang pernikahannya. Asli ini emang cobaan banget, jadi buat yang nggak kuat menghadapinya bisa out begitu saja. Sekarang aja aku udah nggak heran kenapa tiba-tiba ada pernikahan yang batal meski tinggal menghitung hari. Padahal yah, cobaan sebelum menikah itu nggak ada apa-apanya loh bila dibandingkan dengan prahara yang ntar muncul di saat berumah tangga. ._.

Aku juga bersyukur sih, ujian yang aku terima ini nggak separah yang orang lain pernah dapatkan. Tetanggaku cerita, pernah lho temannya di saat hendak melaksanakan ijab qabul tiba-tiba muncul sosok perempuan hamil. Perempuan itu mengaku anak yang tengah dikandungnya itu merupakan hasil benih mempelai laki-laki. Wanjerrrr, sinetron banget kan? Pait pait pait~


Aku pun jadi inget, salah satu ustadzahku dulu sempet bocorin dikit rahasia pernikahannya. Jadi ketika undangan terlanjur disebar, beliau nggak jadi menikah dengan laki-laki yang namanya tertera pada undangan. Entah alasannya apa, beliau nggak cerita.
*

So, selama kita menghadiri resepsi pernikahan, sebisa mungkin jangan nyacat deh (baca: membahas kekurangan). Yang kurang ini lah, harusnya itu lah, bla bla bla. Soalnya sebelum si pengantin duduk di pelaminan, bisa jadi mereka banyak melewati hal berat demi kita-kita bisa kondangan ke tempatnya. Aku sendiri ya pernah khilaf sih, dan baru tau rasanya saat mengalami sendiri. (untuk selanjutnya bakal aku bahas di postingan lain).

Terakhir, tips sukses untuk menghadapi cobaan pernikahan adalah jangan mencari solusi di saat emosi. Bicarakan setelah tenang. Keep calm, kayak quote-quote di internet itu loh. Hehe.

Duh Gusti paringi lancar,
-Hilda Ikka-


GIF pictures from giphy.com & reactiongifs.com

31 comments :

  1. Ya Allah mbak.. Moco postinganmu cek abote ate rabi critone koyok ftv sctv, tapi alhamdulillah wes kliwat.

    Semoga pasangan2 lainnya yg akan menikah diberikan kemudahan dan kelancaran, amin..
    Salam kenal mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak.. Alhamdulillah wes beres. Gak lama-lama, esok harinya aku langsung cuss diskusi + damai sama Muffin.

      Soale kalo dihantui masalah yo gak tentram atiku Mbak, nangis-nangis terus. XD

      Delete
  2. ikut deg2an tau mbak baca ceritamu hehehe....saya orang jombang tapi ora ngaret lo mbak,suerrr hehehe...
    semoga dilancarkan sampai tsah...aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk ya bukan perkara habbitnya Mbak, tapi emang orangnya. Dan kata Ibu sih aslinya mereka udah siap berangkat dari jam 6-an loh, tapi sopirnya yang molor. Zzzz


      Amin.. Makasih ya Mbak ^^

      Delete
  3. iya deh saya ngaku kebanyakan ngemil micin :(

    ReplyDelete
  4. semoga semuanya baik2 saja, dan dilancarkan jalan menuju pelaminan :)

    ReplyDelete
  5. Beuh, emang deh sebelum nikah adaa aja. Namanya juga menyatukan 2 keluarga besar yaa, bukan cuma 2 hati lagi, hee.
    But it's true, nggak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan prahara yang ntar muncul di saat berumah tangga, huehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ya itu. Menyatukan 2 kepala aja udah sering banyak cekcoknya. Apalagi 2 keluarga? XD

      Delete
  6. Huaaaa... Aku juga sedang merasakan apa yg km rasakan ika :D
    Tapi ya engga persis sih...
    Aku kadang heran lho, kok hal sepele bgt bs mancing emosi bgt di saat kayak gini... Kudu banyak2 istighfar ika :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah Mbak Ocha mau nikah? Ehehehe syelamaaaat :*

      Delete
  7. Iya bener. Kalau menjelang nikah ada aja ujiannya. Yang sabar ya, Mbak. Semoga lancar sampai hari H. Kalau sy dulu bilang ke suami (waktu itu masih calon) 'nikmati prosesnya dan repotnya. Jadi ga kepikiran nikah lagi' :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi ya nggak enak juga kalo nikmati cekcoknya xD

      Delete
  8. Semoga diberi kelancaran sampai hari H ya, Mbak Ika
    Kalau aku dua budaya yang jauh banget mau disatukan dulu
    Kerikil ada dan alhamdulillah bisa ditepis karena yakin akan mengikuti sunnah Rasul-Nya

    *aku diundang po piye? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin ya Allah.. Makasih Mbak Amma ^^

      Hoo iyah, lebih ribet lagi Mbak Amma ya, beda pulau beda suku bangsa. :D

      Delete
  9. Hasil pengamatan dr teman2ku yg mau nikah, curhatnya sama. Kok jadi gampang emosi, budaya, adat, kebiasaan, dll. Banyak aral melintang, tapi yakiiin nanti ada aja hikmah yg bisa diambil.
    Semoga selalu diberi kelancaran disetiap proses. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh berarti bukan aku doang ya? *hepi karena banyak temennya LOL

      Amin Mbak... Aku juga berharap bisa bikin aku jadi pribadi yang lebih baik lagi :')

      Delete
  10. Aku juga sering cerita sama yang mau nikah kalau H-3 pernikahanku, aku muak banget dan mutusin suamiku. Godaan banget emang mau menjalankan setengah ibadah ini..
    Antara keinginan kita, suami, ibu dan ibu mertua semua mau diturutin dan beda2..
    Semoga lancar ya mbak.. :)

    ReplyDelete
  11. duuh drama yg menguras banget y mbk. ttap smangat dan smoga lancar :)

    ReplyDelete
  12. Awal2 baca ikutan simpati karena pernah merasakan juga.eeh terakhiran malah ngeke liat meme nya krtun apaan itu. Hihii. Sabar yaa semoga lancar smp hari H

    ReplyDelete
  13. Harusnya hantaran buat balesan lamarannya kemaren, km bawain micin aja biar gak cekcok.. :p


    Untungnya sih km msh nurut adat ortu ya,, gak punya keinginan yg nyeleneh2.. ntar tambah ruwet.. antara keluargamu, keluargaku, dan impianku.. heuheu

    ReplyDelete
  14. Kalau aku perhatikan teman-teman di daerah lebih banyak printilannya ya. Bahkan temanku sampe acara seminggu full. Aku gak kebayang capeknya.

    Ini mau cuma sehari aja tetap aja ribet. Dan yang pasti biayanya besar hahaha. Kapan ya nikah itu bukan karena adat dan ego ortu? Hehehe

    Tetap semangat yaaa. Semoga lancar ya persiapannya.

    ReplyDelete
  15. Sabar .... Banyak banget mah cobaannya. Kalau buat aku sih yang penting halal. Selesai. :D

    ReplyDelete
  16. semangaaaat :)..memang akan selalu begini menjelang menikah hehehehe

    ReplyDelete
  17. Semoga cepat mendapatkan momongan. (Eh pie toh rak nyambung) -.- :v

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah sudah terlewati semua kan ya? Barokallohu lakumaa

    ReplyDelete
  19. aku sampe fokus banget bacanya mbak.. hikss..
    seperti itukah mbak, tpi emang nyatanya sprti itu mbak dramatisasinya
    smpai2 berderai2 :'(
    semoga lancar kedepannya ya mbak

    ReplyDelete
  20. semoga lancar ya mbak ikka.. heum ya gitu godaan mah lewat mana pun, sebelum dan setelah nikah pasti berliku, semoga ttp diberikan jalan terbaik ya mbak :)

    ReplyDelete
  21. aduuuh, mudah2an lancar aja ya mba..ujian untuk orang yang akan menggenapkan agama

    ReplyDelete
  22. Aku dulu pas akad nikah juga kebayang keluarga suamiku yang banyak akan datang semua ternyata banyak yang masih di rumah. Soalnya aku akad nikah dimajuin jam 7 dan masih banyak anggota keluarganya yang lagi dandan lah, antri mandi lah, baru bangun lah, hahaha

    ReplyDelete
  23. Hoalah.. skrg juga lgi aq rasain mba, ada aja msalah pdahal hnya sepele klo gk inget keluarga dan hal2 lainnya wes medot ket gek ingi mba..huhuhu
    Mgkin semua wes cobaan yo mba, motivasi bgt crtane mba
    Thx :-D

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))