Kampung Kemasan Gresik, Secuil Kota Tua dengan Rasa Baru

Kampung Kemasan Gresik, Secuil Kota Tua dengan Rasa Baru

Mungkin belum banyak yang tau kalo aku ini sebenernya asli Gresik, bukan Surabaya. Sewaktu SD, aku menimba ilmu di suatu lembaga pendidikan yang lokasinya nggak jauh dari alun-alun dan pasar Gresik. Beberapa kali aku pernah main dengan teman-teman sekolah berjalan kaki dari pasar ke alun-alun. Sepanjang jalan, berjajar gedung-gedung dan bangunan tua bergaya kolonial. Terlihat begitu unik sekaligus rapuh.

Sayang, bangunan-bangunan historis itu alih-alih dimanfaatkan jadi kawasan objek wisata layaknya Kota Tua di Jakarta. Lah dirawat aja enggak.

Bertahun-tahun kemudian, geliat kesenian dan kebudayaan Gresik perlahan mulai bangkit. Salah satu tokoh yang turut berjasa mengangkat Gresik dari keterpurukan branding ‘itu-itu aja’ ialah Novan Effendy. Pemuda ini merupakan penggiat Damar Kurung yang digadang-gadang sebagai ikon Kota Gresik. Bahkan ia bersama teman-temannya pun memelopori beragam acara seni/bazaar/pameran kreatif sehingga daya tarik Kota Gresik kian terangkat.

Nah beberapa kali Mas Novan ‘n the gank menggelar event di Kampung Kemasan. Aku kirain yah semacam kampung biasa, cuman ada namanya. Lha kok di Path ada temen yang update foto di situ, bagus banget penuh rumah bergaya klasik. Ditambah Mbak Meriska yang notabene rumahnya di Sidoarjo malah udah ke sana dan bikin reviewnya. Weeew makin ter-kompor gas-lah aku.

Baca review Mbak Meriska: Jelajah Kampung Kemasan, Santorini ala Kota Gresik

Akhirnya pada bulan Oktober 2016 lalu, aku berkesempatan mampir ke sana. Sengaja aku jadwalkan sih emang, tapi nggak bisa ngacir sepagi mungkin karena harus nganterin Adek ikut tes TPQ jam 9-an. Jadilah aku dan Muffin baru berangkat pas terik matahari sedikit menyengat. Berbekal rute dari Google Map, nggak sulit kok untuk menemukan Kampung Kemasan ini.

Pokoknya dari Pasar Gresik luruss aja ke arah alun-alun sampe nemu pertigaan. Kalo belok kanan itu Jl. Raden Santri yang mengarah ke alun-alun. Nah untuk menuju Kampung Kemasan musti belok kiri, yakni lewat Jl. Nyai Ageng Arem-Arem. Sekian meter perjalanan kemudian kita pasti disuguhi pemandangan bangunan tua dan klasik di sepanjang sisi kanan-kiri. Jangan sampe kebablasan ya. gapura Kampung Kemasan ada di kiri jalan.


Karena bingung mau parkir di mana, motor kami terus melaju sampe menemukan Indo***** di ujung jalan yang lumayanlah buat parkir. :v Kami pun mampir sejenak untuk membeli camilan lalu berjalan kaki menuju Kampung Kemasan.

Di sepanjang jalan Nyai Ageng Arem-Arem ini, nggak seluruhnya bangunan klasik dalam kondisi baik. Ada yang dijadikan rumah biasa tanpa renovasi sampai jadi tempat usaha cuci motor. Yang paling bagus dan terawat betul sih Rumah Gajah Mungkur. Halamannya luas beut, bisa untuk parkir 3 – 4 mobil sekaligus. Bangunannya pun ada dua, yang berwarna krem dengan aksen merah difungsikan sebagai rumah batik. Sementara yang beraksen hijau merupakan tempat tinggal sang pemilik rumah.



Dari artikel yang aku baca di Kompas, rumah ini dimiliki oleh keturunan H. Djaelan, anak dari H. Oemar bin Ahmad yang merupakan tokoh penting dalam sejarah peradaban Kampung Kemasan.

Gerbang pagar Rumah Gajah Mungkur yang sedikit terbuka memancingku untuk masuk ke dalam. Sempet was-was dikira lancang, makanya aku celingukan nyari orang untuk dimintai izin. Lalu ada bapak-bapak muncul dari gudang kecil samping rumah, aku langsung minta izin dan orangnya bilang gapapa. Yeyy alhamdulillah.

Pas aku foto-foto di halaman, tiba-tiba ada cowok keluar dari balik teralis rumah beraksen hijau. Jelas aku langsung kikuk sambil ngomong minta izin. Eh ternyata dese merupakan anak pemilik rumah dan bilang gapapa foto-foto asal jangan masuk ke teras. Yaaaah padahal aku udah ngincer salah satu spot. Etapi syukurlah yaa daripada diusir~ 😂

Maunya foto di sini, berasa putri raja nongkrong di balkon istana XD
Yawislah foto di sini, udah panas pemirsaaah #kesiangan XD
Pepotoan di depan rumah satunya yang asri banget

Puas pepotoan, lanjut jalan menuju Kampung Kemasan tepat berada. Sesampainya di sana, aku melihat banyaaaaak sekali grup abegeh yang menenteng beragam kamera dan sebagian lain sibuk berpose. Hunting poto rupanya. Aku perhatikan lagi, banyak rumah yang pintu dan jendelanya tertutup rapat. Kalo pun rumahnya terbuka, sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Aku pun mengurungkan niat untuk SKSD (alias sok kenal sok deket) yang bertujuan menggali sejarah seputar Kampung Kemasan. Lagian rada berisik karena para abegeh ntuh. :3

Jadi ngapain aja di situ? Iyah pepotoan doang! Aku merasa hina karena seolah gak ada bedanya ama abegeh-abegeh yang keliatan alay di mataku ituh. Hiks. 😢

Etapi tetep lah yaw aku selipin nilai historisnya, berbekal cuplikan cerita berbagai sumber di internet.

Dulunya hiduplah seorang pengrajin emas keturunan Cina bernama Bak Liong. Keahliannya amat terkenal seantero raya hingga memiliki banyak pelanggan. Oleh karena itu kampung ini disebut Kampung Kemasan (kampung yang terkenal dengan emasnya).

Senengnya ada banyak Damar Kurung yang terpasang
Mengintip anak-anak dari balik jeruji pagar yang sedang asyik bermain di halaman salah satu rumah
Beberapa taun kemudian sepeninggal Bak Liong, kampung tersebut mulai terbengkalai. Lalu pada taun 1855, H. Oemar bin Ahmad yang dikenal sebagai pengusaha penyamakan kulit mendirikan sebuah rumah di kawasan ini. Di samping itu, ia juga mendirikan usaha penangkaran burung walet untuk dimanfaatkan air liurnya. Enam tahun kemudian setelah usaha kulitnya semakin maju, beliau pun membangun beberapa rumah lagi di kawasan tersebut.

Nah, sepertinya kata Kemasan ini juga merujuk pada jaman keemasan usaha H. Oemar.

Pada taun 1896, kesehatan dan kekuatan H. Oemar mulai menurun. Beliau menginginkan anak-anaknya meneruskan usaha penyamakan kulit ini. Ketujuh anaknya H. Oemar yaitu : 1. Pak Asnar 2. Marhabu 3. Abdullah 4. H. Djaelan 5. H. Djaenoeddin 6. H. Moechsin 7. H. Abdoel Gaffar. Di antara ketujuh anak H.Oemar tersebut, yang tertarik untuk melanjutkan usaha perkulitan ialah Pak Asnar, H. Djaelan, H. Djaenoeddin, H. Moechsin dan H. Abdoel Gaffar.

Rata-rata rumah peninggalan H. Oemar bergaya arsitektur zaman kolonial Belanda dengan percikan kebudayaan Cina. Bisa dilihat dari konstruksi bangunan yang memiliki tiang, daun jendela bergaya klasik, dan warna bangunan yang dominan merah. Para keturunan H. Oemar yang menghuni rumah-rumah tersebut sama sekali tidak mengubah keaslian bentuknya. Hanya memperbarui dan memperbaiki agar selalu tampak terawat.


Yang unik, rumah-rumah ini memiliki banyak jendela besar yang sebetulnya adalah jendela bohongan! Loh?

Iya, sesungguhnya yang ada di balik jendela itu cuma tembok. Gunanya untuk mengelabui para pencuri yang kebanyakan mengincar penangkaran burung walet. Maklum cyin, air liur burung walet kan mehong. Nggak kayak air liur kita-kita. 😂😂


Payung e hits

Duh kebayang si pencuri udah susah-susah nyongkel jendela, begitu dibuka ternyata tembok. ZONK! Hahahaha.

Well, aku sih berharap pemerintah kota Gresik lebih serius untuk menjadikan kawasan Kampung Kemasan ini sebagai wisata heritage. Akan lebih bagus kalo di situ banyak penjual kuliner khas Gresik juga seperti Sego Roomo, Nasi Krawu, Sego Karak, Ubus, dll. Biar nggak susah nyari, karena rata-rata penjual kuliner khas Gresik ini lokasinya berjauhan. 😭

Selain itu, selama ini perawatan bangunan pun dilakukan sendiri oleh para ahli waris menggunakan uang pibadi. Plus udah dicat ulang oleh Pemkab. Gak heran kalo rumah-rumahnya selalu terlihat seperti baru. Etapi nggak semua rumah di Kampung Kemasan ini direstorasi oleh Pemkab Gresik. Hanya sebagian saja, yakni yang ditempeli dengan plakat emas.


Salah satu bangunan yang terbengkalai. Padahal unik ada jembatannya di lantai 2. :3

Kalo mau jalan-jalan ke Kampung Kemasan, pastikan kamu berpenampilan siap foto karena sayang banget untuk melewatkan sesi foto-foto cantik di sini. Menurutku sih lebih bagus pake outfit minimalis biar nyatu ama tempatnya. Aku sendiri nggak mengira foto-foto OOTD-ku bakal sebagus ini kyaaaa~ 😍


Baguslah, habis ini mau nyepam di IG wakakaka.

Gresik iku seru!
-Hilda Ikka-



Referensi:
http://www.inigresik.com/2015/03/sejarah-dan-profil-lengkap-kampung-kemasan-Gresik.html
https://nisrinamasnur.wordpress.com/2012/03/13/sejarah-kampung-kemasan-gresik-dari-berbagai-sumber/
http://travel.kompas.com/read/2016/12/23/172100527/rumah.gajah.mungkur.jadi.ikon.kampung.kemasan.di.gresik

15 comments

  1. fotonya kuraaang :D
    padahal bagus2 loh spot2nya ;)

    ReplyDelete
  2. Bagus ya ternyata. Aku pengin hunting foto beginian juha euy

    ReplyDelete
  3. duh spotnya bagus-bagus cocok nih kalau aku poto product disini mbakkkk *Eh.

    ReplyDelete
  4. wwwih...aku kemarin2 baca buku soal sejarah Gresik, bahas itu semua

    ReplyDelete
  5. unik sekali potonya baagus bagus, kunjung balik :D

    ReplyDelete
  6. Naksir sama payungnya. :D Padahal dekat sama gresik. Tapi baru tahu ada tempat sekeren itu.

    ReplyDelete
  7. wuih ada namaku nampang di blognya blogger hits, aseeekk..

    aku aslinya mau ke bukit jamur, tapi gak sengaja nemu di instagram explore gresik jadi malah nyangsang di sini. keren banget, aku sampe speechless nemu tempat begini di Gresik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhahahaha aku mau ke Bukit Jamur wae masih aras-arasen 😂 Panas banget sih di sana.

      Delete
  8. Such a hidden gem from East Java. Thanks for sharing! Cantik-cantik banget rumahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaah, jadi pengen punya rumah bergaya klasik gituh 😁

      Delete
  9. Hampir sama seperti gang di deket Tugu Pahlawan Surabaya ya, bedanya ini dipasang plakat emas di depan rumah.Coba sesekali rumah kuno seperti ini masuk rumah idaman di TV yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah aku malah gatau nih yang dekat Tugu Pahlawan. Lain waktu coba cari ah.

      Delete
  10. Ooooh...selain warga keturunan tsb pengrajin emas, mungkin karena berasal dari Cina bangunan di sana identik merah ya warnanya. Warna hoki kata orang Cina #CMIIW

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))