Mesin Cuci Pertama


Zaman sekarang sepertinya hampir semua keluarga punya mesin cuci ya, minimal di rumah kalangan menengah pasti ada. Kini mesin cuci level kebutuhannya setara dengan kulkas: berat hidupku tanpamu. Wajar soalnya pakai mesin cuci itu hemat waktu dan tenaga sehingga kita bisa nyambi kerjaan lainnya.

Kilas balik ke tahun 2000-an, mesin cuci adalah barang mewah bagi keluargaku. Seumur-umur keknya gak pernah bermimpi buat punya mesin cuci. Sejak kelas 3 SD, aku udah dilatih untuk mencuci sendiri pakaian dalamku. Naik kelas 4, tanggung jawab pun bertambah dengan mencuci pakaian sehari-hari milikku. Untuk seragam sekolah masih jadi tanggung jawab ibuku karena takut hasil kucekanku tidak bersih.

Suatu ketika di tahun 2006, ibuku hamil anak ketiga. Kehamilan ini rupanya tidak direncanakan karena aku pernah tidak sengaja mendengar obrolan ibu dengan tetanggaku soal ‘kebobolan’ akibat lupa minum pil KB.

Jujur waktu itu aku senang sekali bakalan punya adek bayi, terlebih setelah kutahu bahwa jenis kelaminnya perempuan. Maklum, sebelumnya aku dua bersaudara dengan adik laki-laki (dan aku nggak begitu klop dengannya) jadi kepengin merasakan punya adik perempuan.

Pada saat itu, keluarga kami hidup sangat sederhana karena sedang proses membangun rumah. Ibuku sampai membantu perekonomian keluarga dengan berjualan peyek. Mungkin kalau aku di posisi ibuku saat itu, aku bakalan syok sekaligus stress.

Pernah dengar kalimat ‘tiap anak membawa rezekinya masing-masing’? Rupanya adik perempuanku ini membawa rezeki mesin cuci pertama di keluarga kami.

Ceritanya bermula pada acara ulang tahun perusahaan ayahku bekerja. Biasanya tiap tahun ada acara kumpul keluarga bersama para karyawan, namun pada saat itu hanya karyawan yang diundang. Jadilah ayahku berangkat sendiri dan sampe lewat waktu dhuhur, belum pulang-pulang.

Ibuku heran, gak biasanya acara ulang tahun perusahaan memakan waktu selama ini.

Eh gak lama kemudian ayahku tiba-tiba muncul dengan wajah sumringah.

“Bu, aku pulang bawa mesin cuci. Menang doorprize acara ulang tahun tadi.”

Ibuku otomatis syok gak percaya, macam takut kena prank.

“Ha? Mosok? Ojok guyon lho.

Artinya, ha? Masa? Jangan bercanda lho ya!

“Lho serius! Kalo gak percaya, itu mobil pickup-nya ada di ujung gang.”

Langsung ibuku bergegas keluar rumah dan benar, sudah ada beberapa orang yang membantu mengantar sebuah mesin cuci ke rumah kami.

Kami sekeluarga auto sujud syukur. Beneran nggak menyangka bakal punya mesin cuci secara gratis. Terlebih di kondisi yang benar-benar membutuhkan karena dapat meringankan pekerjaan ibuku. Itulah mengapa kejadian ini berkesan banget di hidupku karena Allah beneran kasih rezeki dengan cara-Nya dan di waktu yang dikehendaki-Nya.

Ngomong-ngomong aku juga punya cerita rezeki tak terduga lainnya yang udah lama aku posting. Ceritanya ketemu idolaku zaman remaja, Kevin Aprilio, dan menang event meet & greet gratis! Baca aja di Kalo Jodoh, Tak Akan ke Mana.

Tulisan ini diikutsertakan dalam projek Ngeblog Bareng NBS (Ning Bloger Suroboyo). Technology photo created by freepik - www.freepik.com

1 comment

  1. setujuuuu, waktuNya selalu tepat ya. Bacanya aku melu sumringah loh :D

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Tinggalkan komentar yang baik dan sopan ya. Untuk saat ini, komentar saya moderasi dulu ya. Saya suka baca komentar kalian namun mohon maaf saya tidak selalu dapat membalasnya. Untuk berinteraksi atau butuh jawaban cepat, sapa saya di Twitter @newHildaIkka saja!

Sexy Red Lips