Saturday, April 12, 2014

Kartini: Semangat Juang Meraih Mimpi, Penebar Inspirasi

Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar nama Ibu Kartini? Pahlawan nasional yang sudah berjuang membela hak-hak kaum wanita? Pejuang emansipasi agar wanita memperoleh persamaan hak dengan kaum pria? Atau berpikiran sama denganku, pejuang mimpi tanpa kenal kata menyerah dalam segala keterbatasannya?

Bersyukurlah saya, di era zaman serbasusah ini saya masih dipertemukan dengan sosok Kartini di kehidupan nyata. Mungkin terlihat biasa-biasa saja bagi sebagian orang, it’s like ‘what can you see from this one?’ but the cover just wrecked up, trust me. :)


Saya mengenal dia berkat inisiatif my hunny yang merekomendasikan blog-nya akibat hobi blogging dan BW saya yang menggila. Namanya mbak Prima, lengkapnya Primadita Rahma Ekida *eh, itu nama FB*, teman sekantor my hunny di bagian marketing perusahaan. Setelah berkunjung ke blognya yang interaktif itu, akhirnya saya tahu kalau mbak Prima ini sedang berusaha keras untuk mewujudkan mimpinya yang bisa saja dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Dia punya obsesi ke Dubai, bertemu (ato bahkan wanna be partner life? :D) si Pangeran Dubai, meneruskan sekolah dan bekerja ke luar negeri… Is that heard as impossible? Tapi dia punya segudang usaha untuk menjemput impiannya satu per satu..

Sampai akhirnya saya menemukan artikel http://theprimadita.blogspot.com/2014/02/dream-and-fly-high.html tentang reaksinya ketika impiannya itu dibilang ketinggian oleh seseorang. Tapi apa yang ditulisnya sebagai pembuka di sana memang benar: Kalau dulu Wright bersaudara berhenti bereksperimen karena ga kuat dengerin cemoohan orang-orang sekitar mereka, mungkin kita sekarang masih kemana-mana naik kuda..

Ah, menohok sekali.

Selanjutnya ia menerangkan bahwa setiap orang sesungguhnya punya mimpi dan harus mengamininya dengan kerja keras. Tidak ada yang salah dengan impian semua orang, asal itu baik dan memberi manfaat bagi orang lain.

Kuncinya satu, saya ingat sekali kata Merry Riana, “Sertakan Tuhan dalam mimpimu”.
Ustadz saya juga bilang hal yang sama, bahwa tidak ada impian yang terlalu besar untuk Allah wujudkan, selama impian itu tidak salah jalur dan bisa membawa manfaat bagi banyak orang.

Bahkan balasan untuk orang lain di kolom komentar pun tak kalah inspiratif.
Dear Rosa, saya juga pernah takut bermimpi :)
tapi setelah saya renungkan lebih dalam, sebenarnya ketakutan bermimpi itu 'ternyata' karena saya ga siap untuk bekerja keras.
semua mimpi membutuhkan usaha maksimal, yaitu sebuah upaya yang lebih dari sekedar kemampuan 'biasa' kita. melelahkan, iya. makanya orang takut bermimpi, takut menghadapi konsekuensi bahwa kita HARUS keluar dari zona nyaman.
misalnya saya, mimpi kerja di luar negri. kalau dipikir lho, enakan juga di negara sendiri, kalau sampai kepepet, ada orang tua yang bisa biayain apa-apa. di luar negri mana ada? this, makanya bermimpi = siap mengambil resiko.
semoga membantu ya, good luck in building your dreams ;)
Saya pun tergelak. Halooo? Apa kabar mimpi-mimpi saya? Masihkah mereka di sana? Atau jatuh tertimbun realita yang kubiarkan terus menggerus mereka?

Saya juga punya mimpi. Cita-cita. Bahwa saya ingin jadi penulis ternama dan buku-buku saya turut menghiasi rak-rak toko buku. Saya juga ingin aktif di berbagai konferensi. Lalu kemudian saya sadar, selama ini saya tidak ke mana-mana. Berbeda dengan mbak Prima (yang saya ketahui usai terus menelusuri blognya) yang sudah meraba-raba jalannya, aktif di berbagai kegiatan dan komunitas dan menjaring link sampai menjadi partisipan di berbagai acara. Tiada henti menyalakan semangat juang dan tak lelah menebar inspirasi lewat blog-nya agar bermanfaat bagi orang banyak.

Padahal saya pun tau betapa keras hidup yang dirasakannya (usai bertemu langsung dengannya) tapi itu bukan jadi batu penghalang untuk mendekat pada apa yang dia idam-idamkan.


Lalu saya senang sekali saat berkesempatan membantunya untuk membikin profile video yang akan dipergunakannya sebagai lampiran dalam mengirim application ke Dubai. I believe, what exactly you do to others, it will send back to yours.

Berkat mbak Prima, saya mampu bertekad kembali untuk menjemput impian saya satu per satu. Karena itulah saya merasa tidak salah orang untuk menobatkannya sebagai Kartini di dadaku.
Kalau kamu, sudah bertemu Kartini dalam sosok siapa?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Ada Kartini Di Dadamu di blognya Pak De Cholik

7 comments :

  1. wah... benar2 menginspirasi :)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Ada Kartini di Dadamu di BlogCamp.
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  3. Hmmm...saya pernah beberapa kali ikutan lomba yang diadain mbak prima diblog nya....:)

    Sukses ya...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih ya mbak Emi sudah aktif berpartisipasi di blog saya.
      I am so grateful to have a reader like you, turut menginspirasi saya juga ;)

      Delete
    2. Tuh kaaan, Mbak Prima ini udah jadi seleblog kok :D

      Delete
  4. Sumpah kemaren saya mau ikut GA-nya Pakdhe dan memilih postingan Mbak Prima yg itu lho, Mbak... hihi, tapi karna saya nggak sempet (baca: males) akhirnya saya nggak jadi ikut. Tapi saya seneng apa yg ada di benak saya sudah terwakili sama Mbak Hilda lewat postingan ini. Salam kenal Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaha, begitu ya. Alhamdulillah lah saya bisa mewakili pemikiran Mbak Rosa.

      Salam kenal juga Mbak Rosa, terima kasih sudah join lewat GFC. :))

      Delete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))