Monday, October 27, 2014

The Day of Bali #Ubud Writers & Readers Festival (2)

#OOTD
Aku terbangun pagi itu pada pukul 5 tepat. Omaigad, belum salat Subuh! Kuintip dari balik jendela, di luar masih gelap. Syukurlah, jam 5 di Bali langitnya masih gelap berawan dibandingkan dengan Surabaya yang udah terang benderang. Segera aku mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah 2 rakaat tersebut.

Sejujurnya salah satu hal yang paling kunantikan dari UWRF 2014 adalah free event berupa yoga. Namun saat kulihat Sister Prima seusai Subuhan kembali berguling di kasur, aku pun ikutan deh. Padahal acara yoga dimulai pukul 7 pagi dan jarak yang harus ditempuh untuk menuju tempatnya sekitar 20 menit. Hahahaha, jadilah yang namanya yoga itu hanya sekadar wacana. Bye bye legging kesayangan ┒(⌣˛⌣)┎

Entah pada pukul berapa kami benar-benar bangun dalam kondisi bugar.
Bbeuuh, harap kalian ketahui, kehidupan pagi di sini tuh selooow banget. Mulet-mulet dulu sembari leyeh-leyeh di teras sambil menghirup udara pagi. Bahkan saat menikmati sarapan pagi tuh terkesan santai banget. Sampe tiba-tiba gak kerasa aja udah jam 9. (˚☐˚!!)

Aku menuju lokasi Box Office terlebih dahulu untuk menukar tiket dengan ID card. Setelah dapat aku pun bergegas menuju Neka Art Museum, tempat untuk sesi pertama yang kuambil. Seperti perkiraan, aku datang terlambat dan sayang sekali tak dapat menyaksikan Festival Welcome dan Welcome Dance. Aku tiba tepat saat sesi Keynote yang disampaikan oleh Bustar Maitar tentang penyelamatan lingkungan hidup. Ya semacam pidato singkat yang mengajak orang-orang untuk lebih memikirkan nasib bumi kita.
Bustar Maitar dalam sesi Keynote
Selanjutnya adalah diskusi panel Destination Unknown starring Azyumardi Azra, Elizabeth Pisani, and Goenawan Mohamad. Membicarakan politik negeri sendiri dengan orang asing? Terlebih soal nasib kemana negara ini mau dibawa oleh pemimpin baru? Sounds great! Apalagi melihat gestur dari Elizabeth Pisani yang amat bersemangat membahas topik ini membuat mataku berbinar kagum. Jadi inilah poin-poin yang kucatat:

- Indonesia is an independent country. Ini berkaitan dengan meledaknya animo masyarakat terhadap pemilu. Sedangkan bagi beberapa petinggi Negara, SDM masyarakat masih dinilai rendah sehingga pemilu dinonaktifkan karena menurutnya warga Indonesia tidak mengerti apa-apa.

- SBY adalah orang terpilih dari demokrasi pertama tahun 2009. Namun banyak pihak yang kecewa dengan hasil kerjanya, bahkan ada kaitan dengan korupsi yang dimonopoli oleh partainya. Hingga beliau disambut oleh spanduk bertuliskan ‘Welcome Liar’ saat mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah.

- Islam sempat diduga sebagai faktor utama memenangi pemilu, karena selama ini presiden yang menjabat adalah seorang muslim. Padahal kenyataannya partai islam mengalami kemerosotan. Bahkan era kini leaderboard nya antara lain PDIP, Demokrat, Golkar, dan lainnya.

- Pancasila sebagai pedoman bernegara. Indonesia bukanlah Negara sekuler, bukan juga Negara religi. Sila pertama dimaknai ketuhanan bagi semua umat beragama, jadi tidak boleh dimonopoli agama tertentu. Karena sekalipun berdiri atas nama agama, tetap saja akan terpecah belah.

- Menurut analisis Elizabeth Pisani, kenapa animo masyarakat begitu tinggi terhadap Jokowi? Because Jokowi played his innocent. He’s clean of corruption, kind person, bla bla bla.

- Indonesia hanya belum siap untuk sistem terbaru, yakni pemilihan umum secara tak langsung, karena masih messed up sana-sini. Sesungguhnya mereka butuh orang-orang jujur dan berdedikasi untuk menyetujui sistem tersebut.
Mas Goenawan sedang membubuhkan tanda tangan
Hello! I'm Elizabeth Pisani. :)
Sesi kedua yakni The Right Track starring Robyn Davidson. Who don’t know Track ‘s movie? Ide cerita film yang dibintangi Mia Wasikowska ini bersumber dari buku yang ditulis oleh Robyn Davidson. Pada diskusi panel ini, moderator mengupas kisah Robyn yang bertahan hidup dalam perjalanannya melalui padang pasir Australia dengan mengendarai unta.
Session with Robyn Davidson :)
Sesi ketiga yang kupilih bertempat di Left Bank dengan topik A Nation at Intersection yang membahas opini dan buah karya dari Agus Rois, Erni Aladjai, serta Gillian Terzis tentang jaman Orde Baru. Agus membacakan sajaknya tentang kerusuhan Mei 1998 dan Erni berbagi kisah tentang kehidupan petani cengkeh sebelum dan sesudah jatuhnya masa Orde Baru.
Sesi panel di Left Bank
Aku kabur dari sesi keempat main program karena aku pilih film program di Museum of Marketing 3.0 dengan agenda nonton film dokumenter asli Indonesia berjudul Ragat’e Anak. Film ini bener-bener…. Two thumbs up! Bahkan beberapa bule minta diputerin lagi. Ya, sisi human interest film ini tinggi sekali, terlebih menceritakan kepahitan hidup 2 orang perempuan yang nyambi melacurkan diri pada malam hari di area kuburan Cina demi menambah penghasilan. Asal kalian tahu, upahnya hanya 10ribu sekali main…. Ckckck, miris kan? Dalam semalam mereka sampai bisa melayani 10 orang lebih kalau sedang laris. Belum lagi kalau dipalak preman, berkurang berapa itu penghasilan. (╥_╥)
Foto cuma sekali sama Mbak Uchu Agustin, sutradara film Ragat'e Anak,
ngeblur pulak :'(
Selfie di area Museum of Marketing 3.0 view-nya keren euy!
Sesi Understanding Islam
Sesi terakhir aku datang terlambat karena harus berjalan kaki dari Museum of Marketing 3.0 ke Left Bank yang jauhnyaaaaa masya Allah. Udah sampe sana keringetan, tempatnya penuh sesak pula! Secara, topiknya bombastis bo! Understanding Islam yang dibintangi Azyumardi Azra, Goenawan Mohamad dan Sacha Stevenson. Wuuh, keren nih bule-bule yang dateng ke Bali pada punya minat yang tinggi terhadap Islam. Oya, Sister Prima jadi MC di sesi ini loh!

Sister Prima on duty
It's me with Kak Sacha!
Pas sesi tanya jawab, hampir semua pada rebutan. Adaaaa aja yang ditanyain. Mulai dari kenapa muslimah ada yang pake hijab dan ada yang enggak, apa yang dirasakan Kak Sacha selama hidup di Negara mayoritas berpenduduk muslim, dan lain-lain. *anyway, ada yang gatau siapa itu Kak Sacha? She's a famous vlogger in her channel #How to act Indonesian

Malamnya aku tutup dengan kegiatan nonton film dokumenter besutan Daniel Ziv berjudul ‘Jalanan’ yang memenangi award gitu. lagi-lagi human interest¸ bbeuh karakter yang diangkat ini kuat sekali. Tiga orang yang bergulat dengan kerasnya kehidupan jalanan. Banyak hal yang membuat kita ngerasa miris sampe terkagum-terkagum. Ato bahkan sedih, yang saking sedihnya aku udah gak bisa menitikkan air mata. (⌣́_⌣̀)

UWRF membuka mata serta pikiran kita, ada banyak hal di luar sana yang terasingkan namun layak diperjuangkan. Aku mengosongkan segala rasa ‘sok tahu’ dan prasangka untuk menampung lebih banyak ilmu esok hari. Tunggu kelanjutan kisahku di hari ketiga, ya!
Eksis di photobooth!

12 comments :

  1. waahh... keren. nggak sabar nunggu cerita selanjutnya ;)

    ReplyDelete
  2. Heee? Seperti itu toh acara di Ubud Writers & Readers Festival? Tak pikir, pesertanya itu dikumpulkan di suatu ruangan terus diberi pelatihan dan tugas menulis. Tapi lebih kepada diskusi tentang hal-hal sosial yang ada di sekitar kita ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, iya banyak yang mengira seperti padahal bukan.
      Yap, betul sekali! Jadi di sini kita harus benar-benar melatih kepekaan sosial kita, mengumpulkan info dan punya wawasan sebanyak-banyaknya. :))

      Delete
  3. wow,keren bangetttt.....seru banget acaranya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah... pengen ikutan lagi taun depan :D

      Delete
  4. Asyik banget acaranya. Banyak dapet pencerahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah Mbak Ika. Taun depan ikutan yuk? :D

      Delete
  5. ini postingan bikin sirik. fixed! heuheuehue...belum pernah kesampean juga dateng ke UWRF...cuma punya merchandise T-shirtnya, belinya nitip...hiks, syakitnya tuh di sinih! huhuhuuaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhu... ayo Mak ikutan seleksinya aja biar bisa diundang secara gratis :D
      *btw aku yang ikutan UWRF aja malah ga bisa beli merchandise-nya :v

      Delete
  6. postingan ini memang mengantarkan saya untuk, iriii. Kok rame banget ya acaranya, kok saya ga bisa ke sana, kok, kok... Alhamdulillah masih bisa baca postingan ini, jadi merasa ikut menikmati. Tapi kan merasa aja belum cukuuupp..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mak... ini saya kasih oleh-oleh cerita saya aja ya.. semoga cukup menghibur dan mengobati. :))

      Delete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))