Wednesday, December 3, 2014

Sepucuk Kisah untuk Hari AIDS Sedunia


Selamat hari AIDS sedunia di tanggal 1 Desember! Stop diskriminasi kaum ODHA. Jauhi virus dan penyebabnya, bukan orangnya. Hmm.. slogan yang sudah sering didengung-dengungkan ini seringkali kontras dengan kenyataan yang ada. Kampanye di mana-mana ternyata masih belum ampuh untuk mengusir stigma dan sugesti ketakutan masyarakat terhadap ODHA. Lantas demikian merupakan sebuah realita yang miris, kan?

Hari AIDS sedunia ini mengingatkanku pada seorang teman kuliah. Arez nama (samaran)nya. Ia merupakan mahasiswa yang lurus, fokus mengejar kehidupan yang lebih baik lewat kuliah broadcasting ini, sekaligus pribadi yang baik dan asik untuk berteman dengan siapa pun. Saat tugas praktikum bersama, ia selalu punya ide brilian yang selangkah lebih maju dibanding tim lainnya. Wajar jika ia pun sedikit perfeksionis, namun tidak seberapa.

Intinya begitulah yang kutahu, selain dia orang Malang dan lulusan SMK jurusan broadcasting pula. Anak laki-laki yang menurutku berbakat di bidang ini. Ia mengambil jurusan news, tapi dia juga mahir di bidang produksi bahkan teknik. Plus-plus deh pokoknya. Yang bikin minus cuma tingkahnya yang sedikit melambai, hehe. Entah mengapa dia tidak bisa macho, oleh sebab itu di kampus ia malah dipanggil ‘ibu’.

Arez bersama kawan-kawan kuliah
Aku sama sekali tidak pernah menduga, hingga Nilla teman kampus yang kosnya berdekatan dengan kosku, membawa kabar besar. Awalnya ia terlihat gusar saat berada di kosku, setelah kutanya ada apa, akhirnya ia bersedia cerita dengan embel-embel jangan bilang siapa-siapa.

Aku kaget bak disambar petir. Di tengah cerita aku hanya ketawa-ketawa sambil menuduhnya bohong saat diberi tahu bahwa Arez adalah ODHA. Nilla cuma geleng-geleng kepala dan meneruskan cerita hingga akhirnya aku percaya, setelah menemukan kecocokan dengan apa yang melekat pada diri Arez.

Bagaimana bisa Nilla tahu? Ternyata berawal saat Arez dan beberapa kawanku sedang berada di Jakarta untuk mencari peruntungan tempat magang di TV-TV nasional. Suatu ketika di siang hari saat nongkrong di Sevel, mereka iseng bermain truth or truth. Topiknya adalah latar belakang keluarga.
Tiba giliran Arez, dengan kepala menunduk dan suara yang parau, ia mengaku dirinya terjangkit virus HIV. Seluruh temanku yang berjumlah 4 orang itu kaget tak kepalang. Bahkan Vebby langsung bergidik ngeri mengingat ia baru mencomot secuil makanan bekas gigitan Arez. Namun seluruhnya sepakat untuk tidak membocorkan apa yang telah mereka utarakan dalam permainan ini pada siapa pun.

Malamnya di penginapan, Vebby tidak bisa tidur nyenyak. Pasalnya, banyak nyamuk berkeliaran. Ia mengamati setiap nyamuk yang hinggap di tubuh Arez hingga salah satunya hendak mendekati tubuhnya. Sontak Vebby berteriak heboh dan panik memukul-mukulkan gulingnya, membuat seisi ruangan terbangun. Vebby bener-bener parno berat.

Konyol banget, padahal HIV kan tidak bisa menular lewat gigitan nyamuk. Ia mengaku pada Nilla bahwa di rumahnya di Surabaya pun merasa was-was. Alasannya? “Gimana kalau nyamuk yang habis hisap darah Arez kemudian terbang ke rumahku?” Nilla jelas terpingkal-pingkal. “Ya ampun Veb, yang ada ya nyamuknya udah kecapekan sebelum sampe rumahmu!” Rumah Vebby di Benowo dengan daerah Kaliasin tempat kos-kosan kami jaraknya jauh banget, kali. (`▽´)-σ

Kenyataannya, informasi ini bocor dari pihak Vebby. Ia diam-diam bercerita pada 3 orang temen kuliah terdekatnya, namun meminta untuk tidak menyebarkannya. Eh lha kok dia keceplosan pada Nilla, dan Nilla pun merasa berhak bercerita padaku karena ia percaya bahwa diriku amat baik dalam menjaga rahasia.
Arez saat membantu tugas praktikum syuting edisi kuliner
Di kampus, Vebby gak berani berada di dekat Arez. Ia lebih memilih menyingkir. Teman-temanku lainnya yang tahu, ada yang hobi membawa bekal. Sejak saat itu ia tidak pernah menyantap bekal di hadapan Arez karena takut dicicipin. Ya, Arez kerap minta sedikit makanan dan minuman ke temen-temen. Aslinya sih wajar aja, cuma karena ada yang tahu dia pengidap HIV, konteksnya jadi beda.

Aku heran banget ama Vebby. Padahal semester lalu aku satu tim dengannya saat praktikum bersama membuat film dokudrama (dokumenter drama) mengenai seorang perempuan pengidap HIV/AIDS. Harusnya ia tahu kan, penyakit HIV tidak mudah menular kecuali lewat darah dan hubungan seksual? Lagipula setauku dia juga biasa-biasa aja sama narasumber yang merupakan ODHA waktu itu. Giliran sama Arez, jadi parno gini.

Aku jadi kasian sama Arez, tanpa sadar sebenarnya ia sedang dikucilkan. Kenyataan pahit lainnya, ia sudah diusir oleh keluarganya sejak mengidap virus HIV pada waktu kelas 3 SMK. Rumah aslinya di Pandaan, Pasuruan. Ia hijrah ke rumah kakeknya di Malang, dan selama ini lah beliau yang membiayai pendidikan Arez. Beberapa bulan lalu kakeknya berpulang ke rahmatullah, menjadikannya lontang-lantung semester ini. Sementara orang tuanya tidak pernah lagi mau tahu.

Seolah kepahitan itu masih kurang, suasana makin diperburuk oleh meluasnya kebocoran rahasia dirinya. Kawan-kawan satu kosnya yang tahu, perlahan mulai mencuekinya. Kemudian November lalu Arez mengambil keputusan berat. Ia pilih cuti, di tengah padatnya tugas kuliah yang memicu bunuh diri. (ಥ̯ ಥ) Ia beralasan tak memiliki biaya lagi untuk bertahan hidup dan kini ia tengah menjadi asisten di SMK-nya dahulu. Entah benar tidaknya alasan itu, kuharap ia masih bisa melanjutkan perjuangan meraih mimpinya. I wish for you. (˘ʃƪ˘)


Buat kamu yang harusnya lebih intelek dari orang-orang yang sekadar bisa mendiskriminasi, mari rangkul bersama para ODHA. Sesungguhnya mereka punya mimpi masing-masing dan mampu berumur panjang selagi rutin kontrol ke dokter serta meminum obatnya. Jangan takut tertular dari gigitan nyamuk. Secara ilmiah, virus HIV tidak bisa hidup dalam tubuh nyamuk karena tidak adanya sel T untuk bereplikasi. Selain itu, darah yang telah dihisap oleh nyamuk tidak akan ditularkan pada makhluk yang digigit selanjutnya, melainkan untuk dicerna oleh nyamuk itu sendiri. (*sumber dari seorang teman yang kuliah di FK)

Stop diskriminasi kaum ODHA. Jauhi virus, penyakit dan penyebabnya, bukan orangnya.


36 comments :

  1. kemarin hari aids ya tgl 1 itu...soalnya banyak anak SMA bawa spanduk dgn bacaan no aids gitu..hehehe aku aja lupa awalnya tanggal si aids...hahahaha ditoyor orang ntr ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. HIhi, aku juga taunya dari radio mbak ^^
      Iya, buat memperingati banyak orang mengenakan pakaian warna merah :))

      Delete
  2. Replies
    1. Alhamdulillah... silakan, silakan.. :))

      Delete
  3. kisahnya cukup menggelitik banget, kebetulan saya kuliah di Universitas Brawijaya Malang, dan saya ikut jadi anggota UKM TEGAZS (Tim Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA dan HIV/AIDS). Orang dengan HIV AIDS (ODHA) seharusnya kita rangkul, kita beri perhatian layaknya manusia normal, jangan takut tertular karena HIV hanya menular dari hubungan seksual yg tdk aman, penggunaan jarum suntik bersama, transfusi dara, dari ibu yg HIV kepada bayinya lewat ASI. Pelukan, pegangan tangan, makan bareng, jabat tangan, itu tidak akan menular. Salam dari kami buat Arez. Stop Diskriminasi, Hilangkan Stigma!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak Mas atas apresiasinya.. sungguh ternyata perjuangan kampanye mengenai HIV/AIDS ini belum berakhir... saya begitu berharap ODHA dan yang lainnya bisa hidup berdampingan secara nyata. Semoga!

      Delete
  4. Tengkyu sharingnya Hilda, Salam tuk Arez ya. Smg penyakit ini, tak banyak menyebar ke manusia Amin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak Eka. Semoga dengan kesadaran tinggi masyarakat dan bijak dalam gaya hidup mampu mengurangi angka penderita HIV/AIDS :)

      Delete
  5. Semoga Arez tetap tegar ya, Hilda. Sebaiknya memang info ttg HIV AIDS disebarluaskan supaya stigma itu pelan-pelan luntur. Aku pernah baca novel "Dengan Hati" penulis Syafrina Siregar. Novel itu terbit tahun 2009 (kalo ga salah). Sekarang cetak ulang cover baru. Tokohnya novelnya ODHA. Ceritanya bagus banget, bisa mengedukasi masyarakat ttg HIV AIDS secara soft. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin mbak Haya, padahal sudah sejak lama kampanye HIV/AIDS gencar dilakukan, namun masih ada saja yang terjebak dalam stigma yang salah.
      Iya, saya punya bukunya. Sayang, tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah mbak. :(

      Delete
  6. Bahkan Arez mampu menginspirasi yah :)
    Titip salam untuknya, katakan padanya mari berkilau bersama-sama tanpa mencemaskan apa kekurangan kita (bahkan ini nggak bisa disebut kekurangan).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya alhamdulillah. :)
      Insya Allah ya. Yap, aku tau betul ia tidak minder dengan apa yang ia idap. hanya saja stigma pada masyarakat lah yang membuatnya ciut. :(

      Delete
  7. Kisah yang menarik sekali dan memberi inspirasi bagi kita semua. Mari kita sama sama memerangi penyakit HIV AIDS, dan bukan memerangi para korban atau pengidap penyakit ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget Kang Asep. Mari kita perjuangan kesetaraan hak para ODHA :)

      Delete
  8. Semoga temenmu itu tetap semangat. makasih udah menginspirasi kita semua :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Aku berharap dia tetap bisa meraih impian dan cita-citanya. Semoga :')

      Delete
  9. sangat inspiratif mbak hilda. tetap semangat. buat teman nya ya mbak.. beri dukungan terus buat dia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ^^ Saya selalu beri dukungan terbaik untuknya :))

      Delete
  10. Salam buat temannya ya mbak, tetep semangat !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya insya Allah! Terima kasih yaa sudah berkunjung :)

      Delete
  11. Ah tema skripsi saya nih, dan bab 1 draf proposalnya belum jadi-jadi.
    Sebenernya yg paling mematikan dari HIV ini bukan penyakitnya, tapi stigma masyarakat yg bikin si penderita drop.
    Dengan terapi obat antiretroviral yg makin kekinian, dan yg paling penting 'social support' yg bagus, Ariz masih bisa meraih mimpinya kok.
    Meski ga terlalu digembar-gemborkan, kemarin aja kan komunitas ODHA Rumah Cemara bisa jadi juara FIFA Homeless World Cup 2014, yg mirisnya ga ada dorongan dari PSSI.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah keren dong! Btw jurusan apa nih kok ambil sudut pandang ini? ^^
      Iya bener banget. Badai terbesar bagi mereka adalah norma-norma sosial. Masyarakat kita harusnya sudah terbebas dari stigma buruk demi kesetaraan sosial bagi ODHA. :')

      Delete
  12. sosialisasi ttg AIDS memang masih kurang banget. Makanya untuk beberapa orang urusan berdekatan dengan yang terkena ODHA memang menakutkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, selama ini sosialisasi lebih menyasar pada kelompok terpelajar. Sementara bagi SDM yang rendah, rendah pula wawasannya mengenai HIV/AIDS.

      Delete
  13. Setiap org punya cerita hidupnya masing2. Yg tak patut kita hina, karena semua yg terjadi pun sudah melalui izin Allah.

    Sampaikan salam utk Arez mbak. Terus berjuang, dan semangat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali :)) Apapun yang terjadi di masa lalu, biarkan masa depan menjadi milik mereka. :)

      Iyap! Sama-sama ^^

      Delete
  14. kasihan Arez ya mbak
    tapi dari mana dia tertular virus itu?
    kisah mirip begini pernah saya lihat juga tetapi sakitnya bukan aids
    kemudian temannya pada menjauhi


    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Dia gak bilang apa penyebabnya, tapi kalo aku dan kawan-kawan menelusuri jejak hidupnya sih karena sempet punya hubungan sesama jenis dulunya. Tapi semenjak kuliah, yang kutahu dia sudah gak begitu.
      Semoga dia gak kembali lagi ke masa itu ya. :')

      Delete
  15. Kita sebagai manusia yang sehat harus banyak-banyak bersyukur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, caranya dengan menjaga diri dari hal-hal yang bisa berakibat buruk pada kita. :)

      Delete
  16. Mereka sama seperti kita kan manusia, hanya saja terkena virus, semoga selalu diberikan kesempatan untuk berbuat yang lebih baik. #SaveODHA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, meski mereka ODHA, mereka masih memiliki mimpi dan i'tikad baik :))

      Delete
  17. Hmmm... gimana ya? #garuk-garuk kepala

    Gini sih mbak Ika, kalau menurut saya sih, seseorang bisa kena AIDS itu kan ada penyebabnya. Sebab pertama, dia sengaja melakukan hal-hal yang menjurus bisa kena AIDS semacam pakai narkoba atau seks bebas. Sebab kedua, karena tidak sengaja, ini bisa dibilang "nasib apes", bisa karena anak dari pasangan yg mengidap virus HIV, dsb.

    Kalau dari ceritamu, saya nggak begitu tahu gimana asal-muasalnya Arez bisa kena AIDS. Kalau memang dia sengaja, ya apakah dia suah bertobat? Kalau belum tobat ya sebaiknya kita agak menjaga jarak. Tapi kalau sudah tobat ya mari dirangkul agar tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama.

    Intinya, para penderita AIDS itu kan memang menderita secara fisik. Untuk itu ada baiknya kita jangan malah membuatnya lebih menderita secara batin. Yang kayak gini bisa jadi bahan pelajaran mbak, gimana kita berempati pada penderitaan seseorang dan tidak ikut-ikutan apa-apa yang menjadi penyebab orang tersebut bisa menderita AIDS.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mas Wijna. Di sini saya memang gak jelasin detil penyebabnya kenapa karena masih subyektif alias gak dapet pengakuan jujur. Jadi aku dan temen menbak-nebak aja. Kalo berdasarkan pengamatan dan benang merah yang kudapat, bisa jadi dia tertular karena hubungan sesama jenis sewaktu SMK dulu. Sewaktu kuliah, setauku dia udah gak gitu lagi.

      Hmm yah... masalah bertobat, sejauh ini kalau aku lihat gerak-geriknya sih sudah tidak mengulangi hal itu lagi. Semoga memang betul ya. :)

      Iya Mas, bener. Karena mereka sudah menderita secara fisik, aku pengin mereka batinnya tidak harus terbebani lagi. Kita sebagai orang intelek harus tahu betul bagaimana menyikapinya secara bijak. :))

      Delete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))