Friday, January 22, 2016

Sensasi Bermalam di Pulau Tabuhan

Sensasi Bermalam di Pulau Tabuhan

Hola! Akhirnya nyempetin nulis traveling lagi, setelah topik kali ini mengendap berbulan-bulan. :v Yah gimana yah, aku suka minder duluan. Mau bikin postingan ala travel blogger kok masih jauh dari ideal. Yaudin aku jadiin traveling post ala-ala yess, anggep aja sebuah catatan perjalanan. :D Biar ada kenangan yang terpajang pas kali pertama aku berpijak di sebuah daratan yang terletak di selat Bali, yakni Pulau Tabuhan.

Dan jujur perjalananku ke Pulau Tabuhan ini, pada bulan Mei 2015 lalu, sama sekali di luar dugaan. Waktu itu aku dan temen-temen kuliah sedang masa Crash Program alias semacam tahapan tugas akhir. Nah kebetulan dosen pembimbing ngasih kami kebebasan untuk memproduksi program acara TV apa saja, terserah. Lalu aku dan temen-temen yang udah dibentuk dalam satu team, sepakat bikin program acara traveling di Banyuwangi. Mentang-mentang salah seorang di antara kami asli lare osing (orang Banyuwangi).

Tapi sayangnya, team kami kurang persiapan yang matang dan terkesan terburu-buru. Bahkan menjelang hari keberangkatan aja masih bingung nentuin lokasi syuting di mana. -____- Akhirnya team pun dipecah. Aku ikut rombongan keberangkatan paling akhir. Dan info terupdate yang disampaikan sebelum aku bertolak menuju Banyuwangi, syutingnya di Kawah Ijen. Buset dah, aku panik karena gak punya pengalaman muncak sama sekali. Ribut nyari pinjeman jaket, sepatu, topi kupluk, sarung tangan, dll. Untung Muffin punya semua (kecuali jaket). Tapi ternyata… TOPI KUPLUKnya kayak punya penjahat di film-film, trus sarung tangannya nggak sepasang asli! Alias beda kiri-kanan. Eh, malahan kanan dua-duanya. -_______-

LOL
Begitu sampai di rumah temenku, langsung disambut dengan kejutan: ganti lokasi syuting di Pulau Tabuhan. Langsung berangkat saat itu juga, di saat baterai hape hampir habis dan daya powerbank tinggal separuh. ALLAHU AKBAR!

Touchdown Pulau Tabuhan, Banyuwangi
Kami pun berbondong-bondong menuju Pantai Kampe menggunakan mobil sewaan. Yeah, dari Pantai Kampe itulah kami akan menaiki perahu motor untuk mencapai daratan pulau Tabuhan. Padahal menurut informasi yang baru aku googling, akses menuju pulau Tabuhan lebih cepat ditempuh dari Pantai Bangsring. Di Pantai Bangsring juga lebih lengkap fasilitatornya, sedangkan di Pulau Kampe hanyalah warung-warung kecil dengan kamar mandi yang disewakan.
Berhubung di sini statusku sebagai makmum, ya aku ngikut ajalah. Tinggal bayar uang patungan, beres. :p

Pemberangkatan di Pantai Kampe

Untuk menggunakan jasa perahu motor bagi berkapasitas 10 orang (awak perahu nggak dihitung), harganya sekitar Rp 500.000,- (belum termasuk alat snorkeling) kalo gak salah. Berhubung rencana kami menetap di pulau tersebut selama 2 hari 1 malam, dikenai harga Rp 700.000,- (bonus 2 alat snorkeling).

Sebagai penikmat traveling santai, perjalanan ini merupakan salah satu momen menantang dalam hidupku. Naik perahu motor beraroma solar dan dihempas syantiiiek oleh ombak selat Bali. Sekujur badanku basah kuyup dan terasa lengket, tapi seru juga. :D

Suasana di atas perahu motor
Kerennya lagi, kebetulan banget kami disuguhi pemandangan indah berupa pelangi yang melintang cantik di atas Pulau Tabuhan. Masya Allah, indahnya! Seolah-olah mencuat dari pucuk pulau Jawa dan berujung di pulau Bali. *.*



Cukup 30 menit lamanya kami melawan ombak lautan dan sampai di bibir pantai Pulau Tabuhan. Setelah mengusungi barang bawaan dari perahu, temenku yang cowok-cowok berkemas mendirikan tenda. Sedangkan yang cewek nyiapin makan malam.

Btw, di edisi traveling ini aku nggak punya banyak foto. Karena hape-ku masih lawas dan cepet ngowos. Powerbank dipakai berjaga-jaga sewaktu cabut dari pulau. :3 *derita susah listrik*

Ada Apa di Pulau Tabuhan?
Ada sinyal! YESS MASIH BISA MAIN HENPON. LOL. *seriusan*

Yang jelas, berkat eksotisme pantainya inilah banyak wisatawan datang berbondong-bondong ke mari. Pasirnya berwarna putih bersih, sepertinya terbuat dari ribuan cangkang kerang yang dihempas ombak setiap hari. Air lautnya beniiiiing banget, dan warnanya biru aqua! Alias turquoise! Alias entahlah, pokoknya indah! Dan itu bergradasi, semakin ke tengah lautan, warnanya semakin gelap.

Para wisatawan yang datang ke Pulau Tabuhan utamanya untuk snorkeling. Lah aku, boro-boro snorkeling. Nyelam aja gak bisa. Mau pake peralatan snorkeling tanpa kacamata minusku susah juga, soalnya aku nggak mampu liat jelas. Kata temenku sih terumbu karangnya bagus, tapi nggak terlalu banyak ikan bergerombol karena posisi kami cuma di pinggir. Iyalah, aku dan temen-temen cewek parno kalo kudu nengah ke laut dikit. Kalo keseret ombak gimana? Masalahnya kan kami nggak didampingi pihak fasilitator. :3

But really, main air dan ngambang di lautan itu nyenengin banget! Aku yang selama ini apatis tiap ngeliat foto orang yang lagi snorkeling, eh sekarang ketagihan nyebur pantai. :D

Nah terus, di dalem pulau ada apa?

DOP lagi sibuk cari angle
Nggak ada apa-apa. -___- Cuma pepohonan dan mercusuar serta sumur-sumur tua. Maklum, dulu pulau ini juga jadi tempat pelarian orang Belanda semasa jaman penjajahan. Tapi mercusuarnya terkunci rapat, jadi kita nggak bisa ngepoin apa isinya. -___-

Terus aku sempet iseng jalan kaki muterin pulaunya. Hmm, lumayan. Kayak ngelilingin satu kampung LOL. Dan… nemu spot foto yang kece! Tapi aku males pose secara aku lagi edisi menggembel dan nggak mandi + kesentuh bedak 2 hari! Duh. So, aku pinjem fotonya Mas Lozzakbar yang akhir taun lalu liburan bareng Mbak Yuni + temen blogger lainnya.

Foto milik Mas Lozzakbar

Dilihat dari wujudnya, spot kece ini dulunya berupa bangunan. Berdasarkan analisis sotoy temenku, bangunan ini dulu berdiri tegak agak jauh dari bibir pantai. Lalu karena diterjang gelombang pantai terus-menerus ya abrasi dong, hingga mengenai bangunan ini. Kalo aku sih penasaran, siapa yang dulu tinggal di sini? :O

Kesimpulannya? Jangan berharap lebih pada selain pantainya yang eksotis dengan pemandangan bawah lautnya yang menarik! ;)

Dua Hari Berlantai Bumi, Beratap Langit
Malem pertama bermukim di pulau ini, menjelang tidur aku pingin nangis. Rasanya gak betah. Gelap, tenda yang pengap, serta debur pantai yang membuatku takut. Oya, kenapa pulau ini dinamakan Pulau Tabuhan ya karena suara-suara yang dihasilkan ombak pantainya serupa tabuhan bertalu-talu. Padahal buatku sih ENGGAK huhu. Plus meski bawa kompor gas + elpiji, masak nasi gosong melulu karena api kompor nggak bisa disesuaikan (plus sulit nyala). Lauknya mie instan mulu dan minum air mineral kudu dihemat. Duuuh begini ya rasanya survive di sebuah pulau tak berpenghuni. T^T

Tapi esok paginya aku udah bisa menikmati sih. Bahkan sarapan Energen coklat yang biasanya aku nggak doyan, malah tandas. Ulala~


Pas lagi break, aku selalu memanfaatkan waktu untuk mengeksplorasi daratan. Duh ya, nemu keong yang masih hidup aja aku excited. Trus foto-foto dikit walau maaf yah, keliatan auratnya. Aku sama sekali nggak bawa baju panjang. T^T Kan rencana awalnya bakal ke Ijen jadi aku mikirnya jaketan mulu demi menghemat backpack. T^T

Tebak mana yang hidup? :D

Awalnya temen minta aku yang fotoin dia. Begitu dia yang ngefoto aku, OHEMJII. Bikin pengen nanya, “Kamu nggak ada dendam sama aku kan?” :v *I know what you feel about this meme*
Oya, aku juga sempet iseng ambil foto siluet pas sunrise sebelum cabut dari Pulau Tabuhan. Hasilnya lumayaaan.


Siluet sunrise
OKE FIX AKU ITEM! *kan gak bawa sunblock*
Sunrise di Pulau Tabuhan

Oya, senja terakhir di pulau ini kami dikejutkan dengan kedatangan kru Indosiar dari Dangdut Academy! Mereka mau syuting buat VT-nya si Danang. Dan aku yang selama kuliah gak pernah nonton TV mah cuek aja. Temen-temenku juga nggak heboh minta foto. Biasa aja. LOL.

Kembali Merapat, Perut Laper Berat
Kami balik ke daratan Jawa sekitar jam 8 pagi dalam keadaan perut kosong. Duh ngenes yaa. Setibanya di Pantai Kampe kami pun buru-buru membilas diri dan istirahat sejenak. Lalu kami pun bergegas menuju warung makan yang katanya cukup terkenal, namanya Sego Tempong Mbok Wah. Lokasinya sendiri nggak jauh dari stasiun Karangasem, bahkan cukup berjalan kaki 15 menit juga sampe.

Iyesss, Sego Tempong alias Nasi Tempong ini adalah salah satu kekayaan kuliner khas kota yang berjuluk sunrise of Java ini. Awalnya aku nggak begitu terkesan, karena penyajiannya mirip makan di warteg. Lauk milih sesuai selera gitu dan dikasih sambel + lalapan. Lhadalah kunci kenikmatan Nasi Tempong ini memang terletak pada sambal + lalapannya. MUANTAB! Pedesnya nggak nyelekit dan lalapannya tuh direbus. Aku suka! :D


So far, traveling dadakan ini cukup menyenangkan meski belum memuaskan. *yaiyalaaaah, penampilan aja rombeng melulu ngeek :v I love Tabuhan, tapi ada satu yang mengganjal: SAMPAHNYA BERSERAKAN huhuhuhu. Bapak Dinas Pariwisata Banyuwangi duh ini gimana ya… kalo dibiarin gini terus, taun depan pesisir pantainya bakal serupa dengan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) hiks. Manteman komunitas traveler mungkin bisa tuh bikin baksos bersihin sampah di Pulau Tabuhan. Sekalian ajakin My Trip My Adventure tuh, biar gak keliatan foya-foya mulu LOL.

Suer aku mau ah kalo diajak ke sini lagi rame-rame, tapi tunggu dihalalin Muffin dulu yah! :D Plus gratisin dong. :p

Need vitaminsea now,
-Hilda Ikka-

4 comments :

  1. Pulaunya kece banget. Baru tahu aku kalo ada pulau kaya' gini. Terasa jadi pulau milik sendiri mah kalo gini. :D

    ReplyDelete
  2. hahah itu kocak dan bener abnget yang dipotoin temen VS motoin temen

    ReplyDelete
  3. wkwk postnya mbak Hilda selalu dibawakan dengan hepi, aku suka wkwk

    ReplyDelete
  4. aduh pantai dan kuliner jadi satu ,mantap

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))