Saturday, October 8, 2016

Jatuh dari Motor dan Karma yang Menanti

Jatuh dari Motor dan Karma yang Menanti

Bulan ini akhirnya aku memantapkan diri untuk istiqomah mengikuti kelas salsa. Jarum timbangan yang kian hari bergeser ke kanan tanpa sadar membuatku tertekan. Err.. kenapa bukannya rutin olahraga ato ikutan kelas zumba? Percaya deh, aku udah pernah nyoba dan hanya sanggup melakukannya setengah hati.

Jadi aku rasa lebih baik menari untuk membakar kalori karena bikin hepi. Kemudian aku pilih kelas salsa karena… biaya per bulannya paling murah dibandingkan kelas tari lainnya. :v

Latihannya 3 kali seminggu pada malam hari. Nah beberapa hari yang lalu saat aku hendak berangkat ke tempat latihan, Surabaya lagi diguyur hujan seharian. Otomatis jalanan basah dan licin. Awalnya aku sempet ragu buat berangkat, tapi rasanya rugi ah kalo bolong latihan. Trus aku sempet mikir pake sepatu boots, tapi gatau deh malah pilih pake sandal aja.

Aku mengendarai motor pelan-pelan walau tiap ada kesempatan aku main salip aja. Sewaktu melintasi jalanan Kali Rungkut, entahlah aku kurang fokus. Mendadak aku menyadari polisi cepek sedang memotong arus lalu lintas dan kendaraan-kendaraan di hadapanku sedang berhenti. Tiba-tiba aku gugup untuk mengerem tatkala aku dapati jarak antara motorku dengan kendaraan di depanku tinggal beberapa langkah saja. Sementara jalanan licin dan aku nggak bisa menghindari garis putih jalanan (yang teksturnya timbul), seketika refleks aku tarik rem sebelah kanan (doang) dan…

BRAK!


Aku dan motorku jatuh tersungkur ke sebelah kanan. Sewaktu insiden itu terjadi, dunia seolah berhenti berputar. Aku nggak bisa berpikir apa-apa selain cuma bisa pasrah saat tubuhku terpelanting dan menghantam jalanan. Alhamdulillah yaAllah, di sekitarku nggak ada kendaraan yang melintas. Sumpah aku nggak bisa bayangin kalo seandainya hal sebaliknya itu terjadi. T___T

Para pengendara di sekitarku berhenti, lalu beberapa orang datang menolong. Kurasakan perih menjalari kaki kananku. Sekilas kulihat ada luka darah menyembul di sana. Kuamati bagian tubuhku yang lain, syukurlah nggak ada luka lainnya. Aku pandangi motorku yang spionnya copot sebelah, selebihnya keadaan baik-baik saja.

Seorang bapak-bapak menuntun motorku ke pinggir jalan sementara seorang lainnya memapahku. Sementara itu dalam pikiranku seolah ada ingatan yang muncul ke permukaan, membuatku memahami maksud dari kejadian ini. Ingatan tersebut membawaku pada memori sekitar 2 bulan lalu, sewaktu masih kursus di EF.
.
.
.

Saat itu aku dapet jadwal kelas pukul 6 petang di EF. Dasar aku tukang molor, berangkat mepet setengah jam sebelum kelas dimulai (padahal jarak tempuh normalku biasanya 40 menit). Trus jalanan padat merayap karena bertepatan dengan jam pulang kerja. Pikiranku cuma satu pada waktu itu: kebut, kebut, kebut!


Semuanya berjalan lancar hingga motorku menyusuri Jl. Diponegoro dan harus mengambil arah putar balik. Usai putar balik, 100 meter kemudian nantinya aku belok kiri. Entah apa yang sedang kupikirkan saat itu sampe lupa menyalakan lampu sein. Begitu belokan di depan mata, baru keinget dan buru-buru kunyalakan.

Sayangnya pas aku hendak berbelok, di sebelah kiriku ada motor yang menghalangi. Gara-gara itu juga posisiku jadi agak jauh dari belokan. Yaudah aku tunggu motor itu maju duluan kan sambil jalan beriringan. Setelah itu aku pun langsung belok kiri, tanpa menyadari di belakangku ada motor yang melaju di sebelah kiri. Tiba-tiba terdengar bunyi bel motor yang melengking TIIIIIIIIINNNNNNNNN…!!!!

Aku yang terlanjur banting setir ke kiri, memilih ‘nggak mau tau’ dan menambah kebut laju motorku. Toh tinggal 2 lampu merah lagi aku akan tiba di EF. Aku nggak boleh telat karena pengajarnya adalah sang bule yang menjabat headmaster di situ.

Saat aku berhenti di lampu merah, ada pengendara yang datang sejajar di sebelahku. Dia bilang, “Mbak orangnya jatuh lho.”

….
….

Ya Allah aku bingung harus ngapain. :’(


Pengendara ini kemudian melanjutkan perjalanan sementara pikiranku berkecamuk. Hatiku kalut. Aku terlalu cemen untuk kembali ke tempat kejadian perkara. Sementara EF sudah ada di depan mata. Dalam benakku penuh dugaan, gimana kalo aku ke sana trus diomelin di muka umum Dimarahin? Kalo terluka sampe ada darahnya gimana? Aku kan gak berani :’( *setitik darah pun aku takut :(

Lantas, aku memutuskan untuk jadi pengecut. Memilih lari dan nggak bertanggung jawab. :’((

Apa aku bangga dengan pilihan ini?

Enggak lah, sama sekali ENGGAK. Silakan judge aku sedemikian rupa, silakan. Waktu itu rasa takutku lebih besar dari apa pun sampai-sampai sanggup menutupi hati nurani. :( Sesampainya di EF aku nggak bisa mengikuti pelajaran dengan seksama. Perasaanku nggak karuan, pingin nangis tapi ya nggak mungkin. Nyesel banget tapi aku bisa apa...


Sejak kejadian itu aku jadi murung beberapa hari. Aku pun dihantui rasa bersalah terus-menerus. Aku kepikiran gimana nasib pengendara yang jatuh itu. Luka parahkah? Trus sekarang gimana keadaannya? Andaikan bisa, aku pengen sekali minta maaf.. Mau diomelin kek, dibentak kek, terserah.. yang penting aku dimaafkan. :’(

Usai salat, sesi doaku jadi lebih panjang dari biasanya. Aku mohon ampun pada Allah atas kesalahan besarku ini.. Apa pun yang Allah takdirkan padaku sebagai balasan-Nya, aku ikhlas..

Sampai akhirnya insiden ini terjadi. Sekalipun orang lain bisa bilang ini merupakan karma, aku nggak bisa sependapat begitu aja. Dalam Islam nggak ada yang namanya karma. Lalu sebagai manusia kita juga nggak berhak mengambil kesimpulan kalo kejadian tersebut adalah balasan. Ya sapa tau cuma teguran alias biar aku bisa merasakan. Siapa yang tau kalo mungkin balasan sesungguhnya ialah di akhirat? Na’udzubillahi min dzalik aku nggak mau. :”((

Semoga aku dikasih kesempatan buat minta maaf sama orangnya T__T Allahummaghfirli dzunubi... T_____T

Oiyah, alhamdulillah sekarang lukaku udah sembuh. Tinggal persendianku aja yang masih butuh waktu untuk recovery. Insya Allah besok bisa balik salsa lagi. :)

Kesimpulan dari postingan ini apa? Yah buat self reminder aja, lebih baik mengaku salah daripada belum tentu punya kesempatan meminta maaf di kemudian hari. *trus keinget Om Sarden*

Btw aku juga mau bahas balada Om Sarden vs Mas Kis. Stay tune yah untuk postingan berikutnya. :D

Blessed,
-Hilda Ikka-

14 comments :

  1. Bacanya deg - degan.
    Syukurlah Mbak kalau sekarang udah baikan, emang gak karuan ya rasanya kalau ternyata ada korban di belakang tapi di satu sisi kita ada acara lain yang juga sama-sama penting.
    Semoga nanti bisa ketemu orangnya dan ada kesempatan untuk meminta maaf :)

    ReplyDelete
  2. Siapa tau si orang yang jatuh baca postingan ini dan maafin kamu. Amiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin.....gk ada yang gk lungkin di dunia ini ya, kunfayakun.

      Semoga ^^

      Delete
  3. Baca ini langsung tarik nafas dalam-dalam entah kenapa lol.
    Btw kenapa sih harus om sarden... hahaha

    ReplyDelete
  4. jaga kesehatannya ya mbak, apalgi ini sudah memasuki musim hujan

    ReplyDelete
  5. lain kali harus lebih hati hati lagi mba :)
    dan juga tanggung jawab diutamakan :)

    ReplyDelete
  6. semoga cepat sembuh mba...memang harus waspada selalu ya semua pengemudi...eh,kok..sarden?

    ReplyDelete
  7. lain kali harus hati2 mba dan jangan lupa berdoa sebelum naik motor :)

    ReplyDelete
  8. Mending di siksa di dunia dari pada di akhirat

    ReplyDelete
  9. Jadi pelajaran juga buat saya yang membacanya. Terima kasih, ya. Semoga setelah ini baik-baik saja :)

    ReplyDelete
  10. terimakasih tulisannya...
    ditunggu tulisan lainnya..

    ReplyDelete
  11. Hati2 mbak kedepannya, sy juga pernah jatuh sampe 3 kali, skrg jd lebih hati2 klo berkendara :D

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))