Tuesday, October 14, 2014

The Day of Bali #Ubud Writers & Readers Festival (1)


Usai bercerita hiruk-pikuk serta hebohnya keberangkatanku di The Day of Bali (Departure), sekarang saatnya aku berbagi cerita untuk Chocoreaders sekalian tentang hari pertamaku di Ubud.

Setelah membersihkan badan dan memindahkan pakaian ke lemari, aku sukses tepar di bed.

Beruntung sebelum aku benar-benar tertidur Sister Prima sudah berpamitan kalau hari ini dan kawan-kawan volunteernya hendak menikmati kuliner Bebek Tepi Sawah.

Sore hari pun aku sudah terbangun dalam keadaan bugar. Daripada bengong sendirian di penginapan, aku memutuskan untuk jalan-jalan menikmati sore di daerah sekitar penginapan. Sebelum berangkat, nyempetin selfie cantik dulu dong. ;)

Huhu... kamarnya berantakan 
Aku melangkah keluar dari gang kecil area penginapan dan menyusuri Jalan Sukma. Kuamati setiap rumah memiliki bangunan pura. Macam-macam ornamennya. Aku membiarkan diriku takjub dengan apa yang kulihat. Ini kali pertama aku ke Bali dan aku mengagumi segala keindahannya sebagai bentuk rasa syukur telah berkesempatan merasakan kearifan lokal di sini.

Selama berjalan kaki aku menjumpai banyak turis mancanegara yang juga wara-wiri berjalan kaki. Mulai dari muda hingga tua, pria maupun wanita. Sebagian besar mereka bertopi untuk melindungi dari sinar matahari meski tak dipungkiri bahwa tubuh mereka berpeluh jua. Selain itu aku menjumpai banyak anjing liar berkeliaran. Okey, sebenernya aku gak ada masalah sama anjing. Tapi jujur aku takut banget dikejar anjing. > < Jadi aku gak berani jalan dekat-dekat mereka. Apalagi kalo anjing itu lagi berjalan, sumpah langkah kakiku langsung berubah slow motion.

Guk-guk yang tengah bersantai
Sampai di persimpangan, aku lanjut menyusuri Jalan Raya Ubud. Di sini aku makin banyak melihat turis dan toko oleh-oleh serta jasa travel menghiasi sisi jalan. Meski sudah jam setengah 5 sore, panasnya matahari masih terasa membakar kulit. Mana aku gak pake topi, nyesel banget. Usai puas melihat-lihat, aku pun kembali ke penginapan.
Banyak penginapan di sepanjang jalan Bisma 
Unik aja ngeliat ayam santai matuk-matuk di pelataran bank
Di sekitar Jl. Bisma pun ada yang jual oleh-oleh 
Sejujurnya aku sudah merencanakan untuk menyaksikan pameran seni di hari pertama. Ada tiga galeri setidaknya yang menggelar free event tersebut. Sayang semua itu hanyalah wacana. Asal kalian tau, semua letaknya berjauhan. Bahkan jauh sekali dari tempat penginapan. --"

Okey, aku sudah sepakat sih dengan Sister Prima nonton Pecha Kucha di café Betelnut sebagai agenda untuk malam ini. Acara masih jam setengah 8 malam, tiba-tiba Sister Prima memintaku segera berkemas. Hari ini penginapan ketambahan satu orang, Vania. Ia merupakan anak dari teman mama Sister Prima. Vania baru tiba di penginapan petang ini, jadi Sister Prima memintaku untuk menyambut Vania dan langsung berangkat bersama ke Betelnut.

Sebenarnya, Vania ini hendak dicarikan Sister Prima penginapan di tempat lain karena ketentuannya kapasitas kamar kami hanya untuk dua orang. Namun karena Vania tidak keberatan menginap bertiga, yasudahlah. Kami tinggal menambah charge sebesar Rp 50.000,-

Sesampainya di Betelnut, tempatnya penuh sesak. Padahal kita tiba 10 menit sebelum acara dimulai. Mau gak mau kita akhirnya duduk di bawah, huhu. Acara Pecha Kucha ini sendiri bermakna fast furious fun. Jadi ada beberapa guest star yang akan bercerita mengenai dunianya dengan format 20 gambar yang ditampilkan di LCD screen. Durasinya sepanjang 20 detik per gambar. Malam itu kami hanya menyaksikan 4 performance. Pertama adalah Connor Thomas O’Brien, seorang pemuda Australia yang bercerita tentang aktivitas networking-nya. Kedua, seorang perempuan—yang aku lupa siapa namanya—bercerita mengenai kegiatan sosialnya mendidik anak-anak keluarga miskin dan terlantar di wilayah Bali. Ketiga, Ant Sang, pria oriental berkebangsaan New Zealand yang mengemukakan dunia komik dan ilustrasi, bahkan pernah nge-hits dengan komik karyanya yang mengangkat tema shaolin. Terakhir, sang Pangeran Siahaan dengan gerakan Ayo Vote, mengajak pemuda-pemudi untuk lebih sadar dengan hak pilih.

Cukup sudah, kami pulang meski acara masih berlangsung lama. Kami bertiga—aku, Vania, Sister Prima, akhirnya pulang berjalan kaki. Karena perutku keroncongan, aku memutuskan buat beli makan malam di Warung Ijo. Tempat makan yang baru saja jadi jujugan Kak Dika dan Kak Wirda ini menyajikan makanan halal. Berlokasi strategis di Jalan Raya Ubud membuatku tertolong dengan adanya depot ini, tanpa harus repot menebak-nebak kehalalannya.

Sampai di penginapan, aku jadi deg-degan. Seperti apa ya esok pagi?

22 comments :

  1. Lha Pecha Kuchanya kok nggak ada foto-fotonya mbak?

    Sya nunggu review penginapanmu yg katanya murah itu lho. Biar kalau ke Bali, sekali-kali saya nggak usah nginep di Kuta karena terpaksa nyari yg tarifnya miring, hehehe.

    Oh iya, di Ubud itu lumayan susah nyari masjid ya mbak. Dulu saya ke Ubud pas waktu dzuhur bingung mau shalat di mana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, iya Mas Wijna. Soalnya di dalam Cafe gelap banget. Saya juga udah ngantuk, males banget motretin :D

      Tunggu aja Mas, itu bonus cerita ... hehehehe

      Iya makanya itu, lain kali kalo saya ke Ubud harus lebih berani pinjem tempat dan minta izin buat ibadah...

      Delete
  2. pastinya asik banget berada di Bali,,kerasan kan ya pastinya,,,seru banget deh,,,menyimak terus ah,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya mbak.. kerasan. Berasa di film Perahu Kertas gituuh. Tapi yeapa ya kalo ga balik-balik ya bisa nunggak biaya di situ :D

      Delete
  3. Hak, pindah pulau-mu gimana cerita panjang awalnya ? dalam rangka ? how can it be ? tell me more :D . *aku speak up kan, finally :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayooo ntar aja pas aku magang di Jogja aku bakal cerita banyak :p
      Iya iyaa, sering-sering jangan jadi silent reader :p

      Delete
  4. sayang bangettt..mn foto pucha kuchanya? :( penasaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh... gelap mbak pas acara Pecha Kucha. Toh kalau di foto jelek hasilnya :3

      Delete
  5. Waa kereen.. pengen ikutan kalau ada acara begini lagi. Daftarnya gimana tuh supaya bisa jadi volunteer Mbak? sudah lama aku gak bekpekeran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Yuni... ikutan gih. :D Tapi acaranya selalu bertepatan dengan Idul Adha.
      Tinggal cek aja di ubudwritersfestival.com :))

      Delete
  6. Fotonya cakep cakep, jadi pengen ke sana lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih :))
      Oya? Berarti pernah ke Ubud juga dong?

      Delete
  7. waktu kemaren ke Bali cuma3hari, asli kurang banget. masih banyak tempat2 yang belom ke jamah btw fotonya keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya aja yang 5 hari juga masih kurang kok :D
      Wah trimakasih. Jepretan amatir itu :D

      Delete
  8. Seru sekali sih acara jalan jalannyaaaa...
    Ayooo dilanjuuut :)
    *nongkrongin blog ini*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, kelihatannya seru ya. Semoga saya tetap bisa menuliskannya dengan kesan fun hingga seri ini tamat. :D

      Delete

Terima kasih banyak sudah mau berkunjung dan membaca, terlebih turut meninggalkan komentar. ^o^ Mohon berkomentar secara sopan dan plisss jangan tinggalkan link hidup dan pasti langsung aku hapus. Okey? ;)

Sekali lagi terima kasih pembaca-pembaca setiaku. Tanpa kalian, apalah arti aku dan tulisanku ini. Semoga menginspirasi. :))