Showing posts with label Romansa. Show all posts

Muffin n Pie: Suka Duka Pacaran Beda Generasi


Menurutmu, berapakah jarak usia yang ideal untuk pasangan? Tiga tahun? Lima tahun? Atau bahkan sepuluh tahun? :O

Aku sih sebenarnya gak punya kriteria khusus macam itu, asalkan si pria mampu bersikap lebih dewasa dan mampu membimbing diriku ini. Sungguh tak kusangka, cintaku malah bermuara pada lelaki berusia 28 tahun ini. :v Btw, Muffin dan Pie itu nama panggilan kesayangan kami berdua. Muffin is for him and Pie, it’s me! Hahaha, biarlah dikatain alay, yang penting kan kami berdua sama-sama tahu tempat di mana kami mempergunakannya. ;)

Setelah hubungan kami melalui 9 bulan penuh warna (kapan brojolnya? :v), aku ingin berbagi pandangan mengenai suka duka pacaran beda generasi karena kami ini merupakan produk beda dekade. Melalui kuisioner kecil-kecilan, jawaban yang kami tulis berdua merupakan asli tanpa manipulasi. Jadi kalo ada yang masih bertanya-tanya enak gak sih punya pasangan yang jarak usianya jauh dengan kita, so you better read this! :)

Wishing Another Birthday Story


Hihi, selamat bertemu kembali, Kawan! Kali ini aku jamin suasana hati sedang netral sehingga tidak akan tercipta postingan yang ‘nyampah’. Duuuh malunya diriku ketika postingan Fake a Smile yang sudah kuhapus itu terlanjur dibaca oleh orang lain yaitu mas WihikanWijna yang juga sering mampir ke blog ini. Makasih banyak atas nasihatnya di kolom komentar ya… bisa jadi masukan berharga kok. :)

Buat yang beruntung belum sempat membaca Fake a Smile, aku jabarkan sedikit intisarinya, ya. Jadi kemarin di hari ulang tahunku itu, aku sama sekali tidak bisa merasakan kebahagiaan dari apa yang diberikan oleh my hunny kemudian aku merasa amat kecewa. Tapi ternyata aku hanya menahan kekecewaan itu, bukan mengendalikannya, sehingga pada akhirnya emosiku pun meledak bagai rudal yang menyerang pesawat MH17.

Sebenarnya apa yang salah? Harusnya gak ada. Ini mungkin hanya buah kekecewaan dari apa yang kita ekspektasikan tidak berujung nyata. Padahal aku juga mengharapkan hal yang standart-standart saja tapi ternyata… untuk hal sestandart itu pun my hunny tak bisa memberikannya.

Thanksgiving for 19th


“HBD Kawaann… barakallah fii umriik. :D”
“Ika, selamat ulang tahun… semoga barokah usianya, dimudahkan jalan menuju cita-cita, selalu dalam lindungan Allah. :))”
“Happy birthday Ika… Semoga makin menjadi insan yang lebih baik di bulan yang penuh barokah ini dan tetap langgeng terus hehe”
Ucapan dan doa dari kawan, kerabat, dan orang terdekat terus membanjiri inbox sms, chat BBM, serta social media. Aku senang sekali mendapat ucapan sebegitu banyaknya karena hal itu menandakan masih ada yang peduli dengan ulang tahunku meskipun berkat reminder social media. :D Soalnya ada loh, ada orang yang kuharapkan tapi belum pernah sekalipun memberikan ucapan untukku padahal jelas-jelas ia sedang online! (╯҂ ‵□′)╯

Jurusnya: Pura-Pura Bego

Ekspresi saya saat sadar baru saja bertindak bodoh 
Aku punya sekelumit pengalaman konyol yang kualami bersama pasanganku sewaktu awal pedekate. Saking konyolnya, cerita ini amat membekas di benak kami berdua dan sukses bikin ngakak acapkali mengingatnya. (≧◡≦)

Kejadian ini bermula dari ajakan dia (panggil: Abang) untuk nonton film Comic 8 berdua. Siapa yang tak girang, pucuk dicinta ulam pun tiba. Momen jalan bersama yang kuharapkan akhirnya datang juga. Lalu kami sepakat untuk nonton di Tunjungan Plaza dan ia memintaku untuk membeli tiket terlebih dahulu. Sedikit informasi: kost-ku dekat sekali dengan TP sehingga aku bisa memesan tempat sepulang kuliah siang hari. Aku membeli tiket film Comic 8 yang diputar pada jam selepas maghrib berkat si Abang baru pulang kerja jam 5 sore.

Pukul 6 lebih kami sudah berada di Tunjungan. Film baru dimulai pukul 18.55 WIB sehingga kami memilih untuk menghabiskan waktu terlebih dahulu dengan mengitari mall dan mampir beli es krim di A&W corner. Kami juga telah berada di seat masing-masing tepat sesaat setelah pintu teater dibuka. Sembari menunggu komplitnya penonton lain, kami menikmati beragam trailer film yang masuk dalam daftar coming soon.

Kenyamananku sedikit terusik berkat munculnya sekelompok anak ABG yang sedang mencari-cari seat-nya. Suara mereka bising sekali seolah sedang meributkan sesuatu. Ternyata dua orang dari mereka kebingungan tak mendapatkan tempat. Lalu dengan ragu salah satu dari mereka menanyakan seat kami berdua. Segera kuambil tiketku dari dalam tas dan barulah kami tahu sumber masalahnya adalah seat dua orang ini sama dengan seat yang kami tempati. Kemudian terdengar gerundelan kecil, “Duh bagaimana ini… kok bisa sih seat-nya dobel? Aneh banget.”

Iya aneh banget menurutku. Akhirnya kupandangi tiketku sekali dan barulah aku tersadar waktu yang tertera pada tiket adalah pukul 16.55 WIB. Astagaaaa…. Aku SALAH BELI TIKET. Omaigad… terus bagaimana ini. Kuawasi dua anak ABG itu yang sedang mengadu pada mbak-mbak twentyone. Akhirnya dengan senter di tangan, mbak-mbak itu menghampiri kami berdua dan mengecek tiket. Kulirik si Abang di sebelah. Dari gelagatnya aku tahu, ia sepenuhnya sadar apa yang sedang terjadi dan memilih bersikap sama denganku: pura-pura bego!
Kira-kira beginilah ekspresi kami berdua begitu sadar bahwa kami sendirilah biang keroknya 
Dahi si mbak berkerut sambil bergumam, “Aneh ya, harusnya hal ini tidak mungkin terjadi.” Nah lho, gak sadar dia. Kemudian tiket kami dibawanya pergi keluar dan kembali untuk memanggil kami berdua. GAWAT! Oh tidak, rugi banget kalo kami gak jadi nonton gegara diusir. Alamak, malu-maluin. (ಥ ̯ ಥ)

Kami berdua pun digiring menuju lokasi pembelian tiket. Si mbak penjual tiket mengenali wajahku dan berseru, “Lho, mbak kan yang tadi siang beli tiketnya, kan? Kok bisa keliru, toh?”

Aku meringis kecil sambil menerangkan bahwasanya kesalahan fatal ini terjadi berkat angka 16.55 yang tertera di display jadwal film saat membeli tiket, entah aku lagi gak fokus atau otakku waktu itu sedang korslet, bisa-bisanya kuterjemahkan pukul 18.55 WIB. Jelas saja aku menganggap jadwal film-nya selepas maghrib. Angka 6 pada pukul 16.55 lah yang meracuni konsentrasiku dan membuatku mengartikannya sebagai pukul 6 petang.

Setelah diomeli panjang lebar, beruntung kami diperbolehkan nonton film dengan syarat boleh duduk di bangku yang tersisa. Walah, tidak diusir saja aku sudah bersyukur kok. Sementara si Abang cuma bisa geleng-geleng kepala mendapati kecerobohanku yang luar biasa akut. Hehe, ampuuun….

Toh berkat kejadian konyol tersebut, masa pedekate kita jadi sedikit lebih berwarna, kan? (^o^)V

525 kata

Tulisan ini diikutsertakan dalam The Silly Moment Giveaway

In Relationship part 4


Hari berganti hari hingga tak terasa bilangan kalender berposisi di awal bulan Juli. Ini artinya hubunganku dengan my sweetheart-Radik sedang menjajaki bulan kelima. Syukur Alhamdulillah hubungan kami baik-baik saja (aku sih merasa begitu, gatau lagi apa yang dia rasakan. Lho? :D) Sungguh aku tak menyangka, atau lebih tepatnya tidak berani menyangka, akan punya hubungan sejauh ini meski teman-teman sebayaku banyak yang bertahan lebih lama dariku. Maklum, aku belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun sebelumnya. Hubungan yang berdasarkan komitmen lo ya, bukan yang berdasarkan ngarep. :3 Soalnya aku pernah punya hubungan di pernyataan kedua.

Piece of Birthday Moment


Wah, tak terasa waktu telah berlalu begitu cepat. Bahkan terlalu cepat untuk berbagi kisah momen ulang tahun yang telah lewat dua bulan lalu! :D Niat hati bermaksud membikin postingan spesial kok jadinya mundur begitu lama. *keplak*

Tanggal 27 April lalu, my hunny berulang tahun yang ke... *sensor. Biar gak ketauan tuwirnya. Wkwkwk* Beberapa hari sebelum hari-H aku udah kalang kabut, bingung mo ngasih kado apaan. Inilah hal yang kubenci dari pria, sulit banget nyari kado ekonomis. :D Gak kayak barang cewek yang bertaburan di mana-mana. :P Jadilah aku kasih dia kemeja pendek, soalnya dia sendiri bilang kalo jarang punya kemeja. Nah, kalo aku kasih kemeja yang bagus jadi gak bingung lagi kan buat dipake ke acara-acara formal dengan gaya santai.

In Relationship part 3

Cinta itu sederhana. Yaitu ketika kau senang dan merasa nyaman. –Hilda Ikka

Ya, simple saja sih menurutku. Quote di atas merupakan rumus pribadi dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis yang kuanggap spesial. Di postingan ini, aku ingin membidik kata ‘nyaman’ yang tercantum dalam quote tersebut. Rasa nyaman yang bagaimanakah? Kan banyak sekali jenisnya. Mulai dari perhatian yang diberikan, perlakuan istimewa yang tak pernah ditunjukkannya pada orang lain, sampai ibarat dua dunia berbeda yang entah bagaimana caranya bisa menyatu seolah ada formula khusus untuk mengemulsikannya.

Dan kali ini aku membahas rasa nyaman tersebut dari sisi persamaan yang dimiliki. Bagaimana kita merasa cocok dengannya saat-saat menyambung obrolan, selera kesukaan, atau bahkan visi misi hidup di masa depan.

In Relationship part 2


Ini lanjutan dari postingan In Relationship.

Jadi ceritanya, aku terakhir kali pacaran itu ya pas kelas 6 SD (pertama kalinya juga sih. :D ) dan baru pacaran lagi ya sekarang ini, abis lulus SMA. Luar biasa jaraknya. Terus enam taun selama SMP-SMA itu ngapain aja? *belajar :p* Ato mungkin cinta monyet yang terlalu berkesan? :D

Haha, gak lah. Cinta monyet ya cinta monyet. Udah. Gak bakal bertumbuh sampe segede brontosaurus, bagiku. Kalo pas SMP tuh gak pernah bener-bener jatuh cinta ya, cuma sekadar kagum. Baru deh pas kelas 3-nya aku ngerasain cinta pertama (cieeeh, yang katanya kan terkenang selamanya…) dan mencintai dalam diam sampe kelas 3 SMA. Sebenernya udah ketauan si do’i sih pas aku kelas 2, tapi masih kuterusin aja. Begitu aku sadar kalo perasaan ini gak bisa diperjuangkan lagi, akhirnya aku move on dan sempet ada ehem-ehem gitu sama temen seangkatan. Gitu doang terus buyar gara-gara ujung-ujungnya aku di-PHP.

In Relationship


One day I woke up and realize… that I’ve taken already.

Ini tak sealay bayanganku, di mana saat momen itu datang aku bakal berseru kegirangan gara-gara terbebas dari status jones alias jomblo ngenes dan memekik keras. “YEEEY, AKU PUNYA PACAR! Buset, masih gak percaya getooh.” No. I’ll never supposed to be this freakist one. Ini bukan soal status yang bisa dipamerin di muka umum, bukan soal akhirnya-aku-laku-juga-kirain-bakal-jomblo-seumur-hidup whatever.

Tapi ini soal komitmen.

So I stay calm, knowing if there is someone who does love me and will try to take me in better life. I trust him.

Well, sebenernya aku masih tak menyangka sih. Semuanya terasa begitu cepat dan ini.. tidak seperti kisah cintaku sebelum-sebelumnya. Sebelumnya yang gimana? Sebelumnya yang hanya mampu meraba hati, memakan jangka waktu, menafikkan diri untuk banyak hal.. dan lainnya.

Karena


Hmm, bercerita tentang Amii, hal yang sudah lama tidak aku lakukan di sini. Ya, bagaimana aku mau mengungkap kalau rasanya bagaikan mengupas luka-luka yang sedang kuusahakan mengering? Aku jadi ingat betapa dulunya aku teramat berat meninggalkan dia. Namun setelah kupahami hakikat move on, aku jadi berniat untuk save my life dari jeratan masa lalu. Dari kontak yang selama ini masih terjalin, aku menilai bahwa he’s not worth to fight. Yeah, mau gak mau aku harus rela menerima faktanya, kan?

Kamu tau, pikiran bodoh apa yang sebelumnya mengakar di benakku? Aku gak mau kontak sama dia lagi. Toh aku sudah gak ada artinya kan buat dia? Konyol. Atau, lihat ya, pokoknya aku gak mau ketemu face to face sama dia sebelum aku berhasil jadi orang sukses! Biar tau rasa dia udah nyia-nyiain orang kayak aku. Huh! Alay banget, kan?

Tapi perbuatan bodoh yang malah aku lakukan adalah mengingkarinya. Gak kontak? Preet, liat aja di inbox, thread-ku lumayan panjang tuh. Buang nomernya dari daftar kontak? Iya, tapi buktinya malah aku masukin lagi.

I do the opposite. Sebenarnya itu lho, solusi brilliant di saat-saat kritismu menjalani move on. Kenapa?
Sexy Red Lips