[Review Film] Searching: Beneran Sebagus Itu!

Review Film Searching Bahasa Indo
Credit: Cultjer.com
Wah jarang-jarang nih ngepost tentang film! Saking membekasnya film Searching ini, aku pun nggak bisa nahan diri untuk nggak nulis di sini. Buatku, filmnya sungguh melebihi ekspektasi dan aku pengen ngeracuni kamu-kamu semua supaya nonton filmnya.

*sebenernya pengen banget nulis berbau spoiler, tapi takut yang baca malah gak kepingin nonton haha*

Awalnya aku tuh nggak tahu-menahu soal film ini. Bahkan hingga beberapa teman bilang ini bagus, aku tetep nggak tertarik nonton. Sampai salah seorang senior kampusku yang merupakan movie maker merekomendasikan Searching ini, baru aku penasaran.

Ya penasaran aja, kayak apa sih film yang menampilkan screen PC kok sampe bisa dibilang recommended oleh banyak orang?

Karena susah nyari temen nonton (suami pun lagi sibuk), aku jadinya nonton sendiri. Bodo amat, malah biasanya kalo nonton sendiri jadi lebih fokus ke filmnya ye kan.


Gara-gara bangun tidur kesorean, akhirnya aku nonton Searching yang jadwalnya pukul 21.30. Kan pulangnya bakal malem banget tuh, jadi sebelum nonton aku beli kopi supaya pulangnya masih melek. Info aja sih, aku nyetir sepeda motor sendirian lho hehe.

Banyak yang bilang, film bergenre suspense ini mirip dengan film Unfriended. Well, aku bisa bilang mirip sedikiiiiiit aja. Soalnya cuma setting-nya yang sama, tapi pengemasan dan jalan ceritanya berbeda.

Dibandingkan dengan Unfriended, film Searching ini dikemas lebih rapi, terkonsep, terstruktur, dan mendetail. Kalo di Unfriended tuh aku pusing bacain clue-nya, sementara di Searching ketika fokus menerjemahkan clue, maka layar akan berfokus di situ.

Bagusnya lagi, tanpa adegan berdarah-darah film ini udah sukses bikin aku tegang setengah mati! Jantung berdebar-debar sampe sebadan bergetar semua (eh, jangan-jangan ini efek minum kopi 😂). Tapi gatau lagi ya kalo aslinya ada adegan berdarah yang disensor KPI.

Film dibuka dengan footage yang amat menyentuh hati dan memori. Kita akan dibuat bernostalgia dengan tampilan windows dan situs-situs internet di era tahun 2000-an. Dari sini aku mulai memahami dan menikmati seninya film ‘layar komputer’. Footage tersebut dibalut dengan musik latar yang mengaduk-aduk perasaan, mengingatkanku dengan footage film animasi UP yang menyayat hati.

Source: Hypebeast

Berikutnya kita pun digiring ke premis utama; ketika David Kim (Jason Cho) kehilangan putri semata wayangnya, Margot (Michelle La). David melakukan kontak terakhir dengan Margot melalui FaceTime. Komunikasi mereka berdua tampak normal, malah aku merasa hubungan keduanya pasti dekat. Dalam kontak terakhir tersebut Margot mengaku sedang belajar kelompok dan menginap di rumah temen sekelas subjek biologinya.

Persepsiku mengenai dekatnya bapak-anak itu seketika patah tatkala David tidak dapat mengontak Margo. Ia tidak kenal teman-teman Margo. Ia mencoba mencari data teman-teman Margo di akun media sosial Margo, seluruhnya dikunci (di-setting privat). David juga menghubungi kepolisian untuk meminta bantuan. Kepolisian pun mengirim detektif Rosemary Vick (Debra Messing) untuk menyusun investigasi.


Aku suka bagaimana sang sutradara, Aneesh Chaganty, menyajikan film ber-setting teknologi in emotional way. Dalam wawancaranya dengan Huffington Post, Anesh 'sengaja ingin penonton filmnya lupa bahwa yang sedang mereka tonton adalah layar komputer'. Membuat mereka larut dalam alur dan berfokus pada ceritanya.

Ya bener, memang itu yang aku rasakan sepanjang menonton film Searching. Enggak kerasa jadinya kalo kita ini lagi nonton layar gadget lho. Malah kita merasa dekat secara emosional terhadap tokoh utamanya. Aku sampai berempati pada David Kim. Mungkin karena aplikasi yang digunakan sangat lekat di kehidupan kita. Seperti FaceTime, Facebook, Instagram, dan lain sebagainya.

Well, berikut hal-hal yang menggelitik di benakku dari film Searching.

1. Secara nggak langsung, film Searching mengajarkan kita cara melacak informasi tentang seseorang. Apalagi sebagai orang tua, penting sekali punya recovery email terhadap akun sang anak. Hal itu amat membantu David Kim menembus akun Facebook Margot dan menghubungi temannya satu per satu.

Review Film Searching Bahasa Indo
Credit: slashfilm.com

2. Sinematografinya jauh dari kesan artistik, namun betah ditonton sampai akhir. At least, for me. Mungkin bagi orang lain yang terbiasa nonton ‘film indah’, style semacam ini terasa mengganggu.

Kalo aku sih enggak ya. Namanya juga komunikasi lewat gadget, tentu framingnya harus senatural mungkin. Hal ini membuatku teringat akan prinsip “content is the king”. Yap, dari segi pengambilan gambar ya mana ada yang estetik. Namun konten filmnya sungguh juara, sarat makna dan kejutan!

3. Ada beberapa perilaku masyarakat maya alias netizen yang diangkat dalam film ini dan cukup membuatku merasa tersentil. 😆

Contoh lucu nih, sewaktu Margo dinyatakan hilang, semua orang berlomba-lomba mengupdate status bernada simpatik, seperti “Pray for Margo” dan semacamnya. Nggak asing kan dengan hal semacam ini? 😀

Salah seorang teman sekelasnya yang sewaktu diwawancara David dan mengaku tidak berteman dekat dengan Margo, malah bikin video youtube isinya nangis-nangis. Di video itu dia bilang bahwa Margo merupakan teman dekatnya dan ia berharap Margo baik-baik saja. Munafik! Huweeee panjat sosial banget ya sis! 😂

Karena kasus hilangnya Margo ramai dibicarakan, topik ini pun tidak luput dari tuduhan netijen yang menyudutkan David. Sampai-sampai tagar #DadDidIt menjadi trending topic di Twitter, menganggap bahwa pelakunya tak lain dan tak bukan adalah ayah Margo sendiri.


4. Film Searching kembali mengingatkan kita akan sisi gelap internet. Siapapun dapat ‘menjadi siapapun’. Serta perilaku oversharing di platform digital yang dapat membahayakan keselamatan diri sendiri.

5. Terakhir dan yang terpenting, di era dua dunia (nyata dan maya) orangtua perlu punya bonding yang kuat dan komunikasi yang sehat dengan anak. David mengira hubungannya dengan Margot baik-baik saja selama ini. Namun sebenarnya ia gagal menjadi pendengar yang baik untuk Margot.

If you’re an internet savvy, seriously you have to watch this! Ajak temen-temen kamu, apalagi yang punya anak/adik usia remaja. Buruan, mumpung masih ada di bioskop!

Go watch!
-Hilda Ikka-

12 comments

  1. Jadi penasaran pengen nonton juga nih, seru banget deh kayaknya, makasih yaaa info kece nya.

    ReplyDelete
  2. Wah terimakasih sudah sharing tentang filmnya, sangat bermanfaat sekali.

    ReplyDelete
  3. Jadi ingin melihat filmnya secara langsung nih :D

    ReplyDelete
  4. Film ini menceritakan tentang kecanggihan teknologi gitu ya?? Wah harus nonton nih.

    ReplyDelete
  5. Sepertinya film ini di ambil dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat di sekitar juga deh :D

    ReplyDelete
  6. Ya, saya setuju sekali kalau orangtua perlu punya bonding yang kuat dan komunikasi yang sehat dengan anak di era modern seperti ini.

    ReplyDelete
  7. Aku mau lgs buka xxi/cgv utk liat msh ada ato ga filmnya huhahahaha.. Jd penasaran kaaaaan. Kalo kamu ga bilang menarik, mungkin sampe besok2 aku blm tertarij nonton..

    ReplyDelete
  8. masih ada nggak ya di xxi ? banyak yg bilang searching ini bagus, jadi penasaran. apalagi blogku banyak cerita tentang sehari hari. waduh takutnya oversharing

    ReplyDelete
  9. Ikkaaaaa,
    Ya ampun kok bisa samaan sih aku juga nonton film ini sendirian bhahahaha
    Abisnya ribet kalo janjian kagak jadi melulu yawda lah mending sendirian aja, untunglah filmnya sepadan banget yah. Gak rugi lah udah nekad nonton sendirian hehehe.

    sang ayah sungguh berbakat jadi stalker hehehe.

    ReplyDelete
  10. Aku juga sudah nonton Unfriended...jauh bagusan Searching kemana-mana.
    Unfriended ga masuk akal bawa2 laptop kemana-mana...

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Tinggalkan komentar yang baik dan sopan ya. Maaf untuk link hidup akan otomatis terhapus. :)

I love to read all comments from you all, but sorry if I can't answer all. :)

Sexy Red Lips