[Review Film] The Mitchells vs. The Machines dan Potret Keluarga Tak Sempurna

Sunday, October 16, 2022


Siapa di sini yang suka nonton film animasi? Aku sendiri lumayan suka, tapi rada pilih-pilih alias nggak semua judul film animasi populer bisa aku nikmati. Kebanyakan film animasi favoritku sih produk keluaran Disney/Pixar dan Dreamworks. Sampai pada 2021 lalu muncul The Mitchells vs. The Machines, film animasi produksi Sony Pictures, dan nggak nyangka I LOVE IT SO MUCH!

Jujur, buatku film animasi produksi Disney/Pixar dan Dreamworks 2 tahun belakangan ini nggak menarik seleraku. Makanya kehadiran The Mitchells vs. The Machines membawa angin segar, baik dari segi cerita maupun gaya animasinya.

Film ini tayang secara eksklusif di layanan streaming Netflix. Aku baru tau kalo sebenernya film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 2020 lalu, but you know lah gara-gara merebaknya pandemi jadi batal. Ih padahal kebayang kalo film ini disaksikan di bioskop pasti bakalan pecah dan lebih memukau dari segi pengalaman menonton.

Sinopsis:

Kisah The Mitchells vs. The Machines bermula dari Katie Mitchell si anak sulung, yang berhasil diterima di kampus incarannya, California College of Film. Sejak kecil, Katie sudah memiliki ketertarikan dengan dunia film. Ia merekam & mengedit sendiri karya filmnya dengan memanfaatkan Monchi si anjing peliharaan sebagai objek ceritanya.

Minat dan bakat Katie dalam pembuatan film ini tidak dipahami maupun mendapat apresiasi dari lingkungan sekitar, bahkan orang tuanya sendiri. Itu sebabnya, ia amat bersemangat menyongsong masa kuliah di California College Film karena akan bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang sefrekuensi dengan dirinya. Ia juga tidak sabar untuk bersenang-senang dengan kawan barunya di Hari Orientasi sebelum perkuliahan dimulai.

Rupanya, rencana Katie untuk secepatnya pergi dari rumah tidak berjalan mulus. Sehari sebelum keberangkatannya ke California, ia bertengkar dengan sang ayah, Rick Mitchell. Mulanya Katie ingin menunjukkan karya-karya filmnya pada anggota keluarga, namun reaksi dari sang ayah malah memperkeruh suasana. Katie merasa tidak mendapat dukungan dari ayahnya untuk berkuliah di California, kemudian terjadilah adegan tarik-menarik laptop hingga terpental jatuh dan… rusak.

Dalam rangka dan upaya memperbaiki keadaan, Rick Mitchell mengadakan road trip keluarga untuk mengantar Katie ke California. Ia ingin menciptakan momen kebersamaan yang berkesan sebelum akhirnya si putri sulung tinggal berjauhan dalam waktu yang lama. Katie sebetulnya gondok dengan keputusan sang ayah karena akibatnya ia harus melewatkan Hari Orientasi yang telah lama ia nanti. Mau tidak mau, akhirnya perjalanan keluarga yang super canggung itu pun dimulai.

Di waktu bersamaan, rupanya terjadi invasi oleh sejumlah robot AI (Artificial Intelegency) dari sebuah perusahaan teknologi yang dimiliki pemuda bernama Mark Bowman. Robot-robot ini dikomando oleh Pal, perangkat lunak ciptaan Mark Bowman yang sakit hati karena disingkirkan penciptanya untuk diganti dengan perangkat terbaru. Pal berniat memusnahkan manusia dengan menangkap dan mengirimnya ke planet lain.

Tak disangka, keluarga Mitchell menjadi satu-satunya umat manusia yang selamat dan secara tidak langsung menjadikan mereka sebagai harapan terakhir untuk mengalahkan para robot yang berusaha menguasai dunia. Di sinilah petualangan mereka semakin seru, terlebih dengan aneka konflik keluarga yang mengiringinya sampai akhir film.


***

Bagi kalian yang (dulu atau sekarang) nggak akur sama keluarga, mungkin bakal related dengan konflik ceritanya. Hubungan orang tua dan anak yang renggang diperparah oleh gap generasi. Anak yang merasa tidak dimengerti oleh orang tua. Orang tua yang merasa paling tahu dan bisa memperbaiki semuanya. Hmmm, siapa yang pernah mengalami? 😂

Meski nggak kesemua konflik aku alami, tapi aku sangat paham dengan permasalahan yang muncul dari gap generasi. Nggak usah jauh-jauh, ketika awal-awal aku dapat duit dari ngeblog, orang tuaku tuh nggak paham sama apa yang aku lakukan. Meski sudah aku jelasin pelan-pelan, tetep nggak 100% yang dapat mereka pahami poinnya.

Anak yang merasa tidak dimengerti orang tua seringkali membuat anak termotivasi pergi dari rumah untuk menemukan lingkungan baru yang dirasa dapat menerimanya. Yang bikin sedih sih kalau sampai si anak akhirnya menganggap lingkungan baru itu jauh lebih baik daripada keluarganya. Ini yang mulanya terjadi Katie, namun road trip ajaib beserta mereka beserta konfliknya dapat mengubahnya.

Ketika orang tua merasa paling tahu dan bisa melakukan segalanya untuk anak, sebenarnya itu cara mereka menunjukkan kasih sayang. Walau yah… tau lah, nggak jarang cara mereka itu kurang tepat sehingga terkesan nyebelin dan salah dipahami oleh sang anak. Orang tua pun terkadang kurang mampu menekan ego untuk lebih memahami sang anak.

Bagusnya, film ini mampu menyajikan sudut pandang antara orang tua dan anak sehingga kita dapat memetik pelajaran dari keduanya. Dari sudut pandang orang tua, film ini secara enggak langsung mengajak kita memahami keputusan yang dibuat orang tua kepada anak yang dilandasi oleh pertimbangan tertentu.. Lalu dari sudut pandang si anak, kita didorong agar senantiasa berusaha memahami anak dan memberi rasa kepercayaan untuk menentukan langkah hidupnya.

Aku sangat merekomendasikan film ini untuk kamu tonton bersama keluarga dengan usia 8 tahun ke atas, karena konfliknya dikemas secara ringan dan dibalut dengan unsur komedi yang sungguh receh. Terlebih animasinya menggabungkan gaya 2D dan 3D, sangat unik dan berbeda dengan film animasi kebanyakan. Oya, untuk anak usia 8 - 12 perlu didampingi alias parental guidance.

Rating: 10/10

Selamat menonton!

Much love,
Hilda Ikka

2 comments

  1. Film keluarga kayak gini seru kalau ditonton sama anak apalagi memberikan edukasinya yang bagus. Jadi penasaran nonton film edukasi kartun seperti ini, terima kasih reviewnya!

    ReplyDelete
  2. Relate bangetttt ini mah 😅 . Hubungan ku Ama ortu dulu juga ga bagus mba, merekanya terlalu bossy, aku nya jadi pemberontak juga. Walo skr udh lumayan membaik, tapi itu juga Krn kami saling jauh. Jadi bisa menghindari konflik. Prinsip kami skr, Deket bau tai, jauh wangi bunga. Jadi mendingan jauhan 😅. Bedaaa banget Ama ortu mertua, aku jauuuuh lebih dekeeet Ama mama papa mertua Krn mereka open minded, mau dengerin. Makanya pas mereka meninggal itu bangettt nyeseknya 😔.

    Aku udh lama ga buka aplikasi Disney pdhl langganan. Jadi blm liat film2 di sana lagi. Ntr mau ah, buat tontonan Ama anak. Kayaknya menarik memang. Penasaran cara mereka mengatasi invasi para robot 😁

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Tinggalkan komentar yang baik dan sopan ya. Untuk saat ini, komentar saya moderasi dulu ya. Saya suka baca komentar kalian namun mohon maaf saya tidak selalu dapat membalasnya. Untuk berinteraksi atau butuh jawaban cepat, sapa saya di Twitter @hildaikka_ saja!