[Review Film] Cek Toko Sebelah 2: Lebih Hangat dari yang Pertama

Sunday, January 1, 2023


Cek Toko Sebelah merupakan salah satu film Indonesia genre keluarga favoritku. Tema, alur, penokohan, gaya bercerita, dan humornya cocok dengan seleraku. That’s why aku bersemangat nonton sekuelnya, Cek Toko Sebelah 2. Apalagi aku lihat beberapa testimoni di medsos pada bilang film ini worth to watch.

Film ini melanjutkan kisah dari film pertama. Tapi menurutku meski kamu nggak nonton film yang pertama, tetep bakal nyambung ama ceritanya kok. Karena film pertama dan keduanya ini konflik ceritanya tidak terlalu berkaitan.

Sinopsis:
Cek Toko Sebelah 2 berfokus pada masalah kehidupan pribadi kakak beradik Yohan dan Erwin. Erwin (Ernest Prakasa) berniat menikahi pacarnya, Natalie (Laura Basuki), sebelum berencana pindah ke Singapura karena penempatan kerja namun terganjal oleh restu ibu Natalie, Bu Agnes (Maya Hasan). Sementara itu ayah Erwin, Koh Afuk (Chew Kinwah), mengungkit-ungkit soal cucu kepada Yohan (Dion Wiyoko) dan istrinya, Ayu (Adinia Wirasti) yang telah menikah selama 5 tahun dan belum dikaruniai anak.


Bu Agnes sulit memberikan restu pada Erwin dan Natalie karena ia berkaca pada pernikahannya yang gagal. Bu Agnes menceraikan suaminya karena mendapati suaminya berselingkuh.

Sedangkan Ayu sendiri merasa masih belum siap untuk memiliki anak karena trauma masa kecilnya. Masalah menjadi runyam ketika Koh Afuk menitipkan anak temannya sedang sibuk mengurus perceraian kepada Yohan dan Ayu tanpa menanyakan persetujuan keduanya. Tidak mudah bagi Ayu untuk akrab dengan Amanda (Widuri Sasono) karena ia merasa amat canggung ketika berhadapan dengan anak-anak.


***

Cek Toko Sebelah 2 membahas permasalahan yang kerap dijumpai di kehidupan sosial kita: restu orang tua dan pertanyaan seputar kapan punya keturunan.

Kesan yang paling membekas di benakku setelah menonton film Cek Toko Sebelah 2 tuh ya konflik antara Natalie dengan ibunya. Bu Agnes digambarkan sebagai sosok ibu yang merasa tahu segala hal yang terbaik untuk anaknya. Sementara Natalie merasa tidak nyaman terlalu sering diatur-atur oleh ibunya.



Buatku, salah satu hal yang paling susah ketika jadi orang tua tuh menyadari bahwa anak punya jalannya sendiri. Kita gak bisa selalu memproyeksikan kehidupan kita kepada anak sehingga merasa berhak mengatur ini-itu. Biarlah pengalaman dari kehidupan kita menjadi masukan dan bahan pertimbangan sang anak dalam memutuskan jalannya sendiri.

Namun rasanya manusiawi sekali sih ya kenapa kebanyakan orang tua berbuat seolah tahu yang terbaik untuk anaknya. Sederhana saja, tentu karena orang tua nggak mau melihat anaknya menderita ataupun berada di jalan yang salah.

Nah itu, emang berat banget kok sebagai orang tua untuk melihat anak menderita atau berbuat salah. Padahal dari kesalahan, anak dapat belajar. Emang berat sih ya sebagai orang tua untuk berlapangdada memberikan ruang berbuat salah bagi sang anak. Sebagai orang tua kebanyakan kita maunya anak kita selalu baik-baik saja sampai akhir hayat. Padahal hidup kan enggak semulus itu. :’))

Konflik antara Natalie dan ibunya menjadi pengingat bahwasanya anak merupakan manusia merdeka dan orang tua perlu memberikan kepercayaan yang cukup pada sang anak. Huwaaa, kedengarannya mudah tapi aku tau kalo praktiknya tidak semudah teori. :’)

Perihal Koh Afuk yang minta cucu dari Yohan & Ayu, ini cukup relate sih sama kehidupan pribadiku hehe. Untuk menghadapi situasi ini, suami istri emang harus kompak terlebih dahulu. Kompak dalam artian tahu apa yang dimau. Sementara di film ini, kondisi Yohan dan Ayu memang belum sependapat terkait topik punya anak. Yohan ingin punya anak sementara Ayu belum mau punya anak.


Pada akhirnya, penyelesaian konflik emang butuh individu-individu yang mau saling memahami dan berkompromi. 😊

Btw minus dari aku tentang film ini, aku agak keganggu aja ama beberapa cast. Contoh, pemeran Natalie di film pertama (Gisella Anastasia) yang diganti. Jadi agak gak nyambung gitu loh. Tapi aku juga paham sih kalo Laura Basuki emang cocok banget meranin Natalie di film ini. Cuma sebel aja jadi enggak sinkron. Terus Amanda, bapaknya keliatan kek orang keturunan Tionghoa tapi dia sendiri wajahnya Jawa abis, heuuu. :'

Buat yang belum nonton Cek Toko Sebelah 2, gih buruan tonton sebelum menghilang dari layar bioskop! Sayang banget film keluarga sebagus dan sehangat ini cuma tembus 500 ribu penonton, hikss.

Oiya, film ini bisa ditonton anak usia 13 tahun ke atas lho. Bisa ajak adik atau anak usia remaja, lalu diskusi deh terkait hal-hal yang berkaitan dengan konflik dalam filmnya. Yuk ramaikan!

Much love,
-Hilda Ikka-

2 comments

  1. Film karya Ernest yang satu ini pernah nonton yang pertama, selalu saja mengangkat kisah menarik dan related. Ernest dan Raditya, komika yang multitalenta dan jadi favorit filmnya. Jadi pengin nonton kelanjutannya, terima kasih informasinya!

    ReplyDelete
  2. film terakhir yang aku tonton di 2022 dan sangat bagus~

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Tinggalkan komentar yang baik dan sopan ya. Untuk saat ini, komentar saya moderasi dulu ya. Saya suka baca komentar kalian namun mohon maaf saya tidak selalu dapat membalasnya. Untuk berinteraksi atau butuh jawaban cepat, sapa saya di Twitter @newHildaIkka saja!