Trip to Ubud: Berawal Naik Kereta Api, Berujung Mengendarai Uber

Hints: Naik kereta api Mutiara Timur Malam jurusan Surabaya - Banyuwangi, turun di stasiun Banyuwangi Baru. Jalan dikit menuju pelabuhan Ketapang. Naik bus jurusan Denpasar, turun di Terminal Mengwi. Lalu pesan Uber (secara sembunyi-sembunyi) dan diantar sampai depan hostel di Ubud.
*





















Oh my blog, how I miss you so MUCH!

Akhirnya setelah kutinggal berminggu-minggu lamanya, bisa posting lagi huhu kusenang. Maafkan kesibukan anak kuliah semester 3 ini ya. Duh apa kabar semester berikutnya nanti? *sigh*

Iya nih bulan Oktober aku lagi hectic-hecticnya. Tugas kelompok dan makalah bejibun, bikin paspor, nyiapin apa saja buat ke Bali, volunteering di Ubud Writers & Readers Festival 2017 (yang selanjutnya aku singkat jadi UWRF 2017), trus langsung UTS JENG JENG JENG! UTS-ku 2 minggu pula, omagad. *elap keringat*

Alhamdulillah di minggu kedua UTS rada selow (meski gak selow amat, seenggaknya beban udah berkurang separo) aku bisa ngedraft. Weekend kemaren ada acara dan sisanya dimanfaatkan untuk mager. Yha, MAGER. Who doesn't love to spend weekend by goler-goler manja sambil streaming film? ME LOVE IT!

Ups, kepanjangan ya intronya. Biarin deh, blog aku. Suka-suka aku LOL.

Well, tanggal 22 Oktober 2017 lalu aku cuss ke Bali dan tinggal di sana selama seminggu, dalam rangka jadi volunteer untuk UWRF 2017. Dari tanggal 23 - 29 Oktober aku stay di Ubud, lalu 30 - 31 Oktober pindah ke Legian supaya lebih deket kalo mo ke pantai.

Kalo kamu udah baca postingan lamaku yang berjudul "Yang Dikangenin dari Ubud", pasti tau betapa lamanya aku menantikan momen ini. Lumayan dag dig dug karena terakhir kali bepergian ke Bali seorang diri itu 3 tahun lalu. Last but not least, makasih banyak deh buat suami tercinta aka Muffin yang udah ngizinin (dan ngebiayain HAHAHA) istrinya yang banyak mau ini. ๐Ÿ˜˜


Betewe, perjalanan ke Bali kali ini bikin was-was betul. Soalnya kudu dipersiapin matang-matang.

*CAUTION! THIS IS GONNA BE A LOOOOONG STORY!*

Kalo 3 tahun lalu, keberhasilanku nyebrang ke Bali itu bisa dikatakan ada faktor keberuntungan. Soalnya tiba di stasiun langsung SKSD ama gerombolan yang cuss ke Bali. Jalan kaki bareng ke pelabuhan dan naik kapal. Naik bis apa tinggal ngikut. Diarahin ini-itu. Lah kali ini mau ngulang kayak gitu jelas gabisa kan. Mau gamau harus usaha dan nyiapin skenario sendiri.

Ndilalah browsing di Google kok hasilnya pada nyeremin! ๐Ÿ˜ฑ

Banyak calo gahar!
Terminal Ubung gak aman!
Jangan coba-coba pesan transportasi online!


Alamaakkkk! Serem amat! Mending naik pesawat, cepat dan aman. Tapi mahal duh, cek di Traveloka tiket termurah harganya 375 ribu. Ato naik bus dari Surabaya ke Denpasar? Tapi aku nggak betah naik bus terlalu lama, bakal teler pasti. Yaudah pilih naik kereta api, apa pun risikonya kudu dihadapi.

Awalnya aku disaranin naik kereta api yang jurusan Denpasar.
Wait.
Kereta api nyebrang ke Bali? Emang ada ya?

Haha bukaaaan. Bukan gitu maksudnya. Kereta api ini jurusan aslinya Surabaya - Banyuwangi Baru. Trus nanti setibanya di stasiun ada bus Damri yang bakal mengantar penumpang sampai Denpasar. Tiketnya seharga 190 ribu dengan kelas kereta api bisnis.

Eh gataunya, aku nemu tiket kereta api eksekutif jurusan Banyuwangi seharga 65 ribu aja lho! *girang bukan main* Dengan waktu kedatangan pukul 04.15 WIB kalo ga salah, pokoknya waktu subuh. Pikirku aman lah untuk nyeberang ke Bali di jam-jam segitu.

Trus tau nggak sih, aku beruntung banget gak jadi pesen tiket kereta api jurusan Denpasar itu. Karena beberapa hari sebelum aku berangkat, rupanya PT KAI udah menghentikan kerjasama dengan Damri. Yang mana bisa jadi penumpang tetep turun di stasiun Banyuwangi Baru, tanpa ada bus yang mengantar ke Denpasar.

Alhamdulillah ya Allah terima kasih. :'))

๐Ÿš†Perjalanan Naik Kereta Api๐Ÿš†
Ada 1 hal yang bikin aku kurang nyaman kalo naik kereta api: kabin yang terbatas untuk bawaan segambreng ala aku! Jadi inget tiap naik kereta api, bawa-bawa koper bingung naruhnya. Udah gitu dipelototin ama penumpang segerbong ihh. VERY AWKWARD.


Eh pas naik kereta Mutiara Timur Malam ini, aku baru menyadari kalo kita nggak perlu memikirkan kabin di gerbong eksekutif! Jumlah penumpang 1 gerbong eksekutif jauh lebih sedikit dibandingkan gerbong ekonomi. Jelas hal ini turut berdampak pada banyaknya jumlah barang yang disimpan di kabin. Tentu masih tersisa banyak ruang untuk pelancong rempong macam aku.

Kereta berangkat dari stasiun Surabaya Gubeng tepat pada pukul 22.00 WIB. Penumpang sebelahku, seorang cewek berhijab, langsung bergumul di balik selimut setibanya di kursi penumpang. Sementara aku sibuk melahap martabak spesial isi daging seorang diri. Bukannya pelit gamau berbagi, tapi penumpang lain udah pada sibuk pelesir ke alam mimpi masing-masing. ๐Ÿ˜…

Oh ya ada info menarik soal tiket yang aku dapat dengan harga murah ini. Ternyata waktu itu PT KAI memang lagi ngadain tiket promo murah. Tapi aku gatau waktu itu, jadinya browsing deh kenapa bisa ada tiket murah.

Rupanya, dalam setiap kereta api itu dibagi beberapa area/subclass berdasarkan tingkat kenyamanannya. Penomoran subclass menggunakan huruf abjad. Paling tinggi tentu subclass A, biasanya berada di gerbong urutan tengah, kursinya pun jauh dari toilet, dan aksesnya paling mudah untuk naik atau turun dari kereta setibanya di stasiun.

Subclass inilah yang menentukan harga tiket kereta api. Makanya untuk tiket kereta eksekutif yang sama harganya bisa berbeda. Nah tiket murah yang aku beli ini untuk subclass O. Jumlahnya gak banyak, posisinya di deket perbatasan gerbong melulu. Deket toilet pula.

Aku ambil nomor kursi yang berjarak 3 kursi dari toilet. Pikirku cukup aman lah ya dari serbuan bau tak sedap. Ndilalah, untuk kereta sekelas eksekutif pun aroma semerbaknya tetep kecium sampe kursiku. Huhuhuhu dinikmati saja lah.


Akhirnya pukul 04.15 WIB kereta api pun tiba di stasiun Banyuwangi Baru. Aku istirahat sebentar di kursi peron sembari menunggu adzan selesai berkumandang. Sewaktu hendak menunaikan salat Subuh, aku merasakan hal yang aneh. Tuh kan, aku kedatangan tamu bulanan yang langsung disusul dengan nyeri haid yang perihnya alamakjan.

Yaudalah aku kembali beristirahat menenangkan diri, baru menyeret kaki menuju pelabuhan Ketapang 2 jam berikutnya...

๐ŸšŒPerjalanan Naik Bus๐ŸšŒ
Kalo 3 tahun lalu, cara menyebrangku begini:

Masuk pelabuhan Ketapang, bayar karcis per orangan, nunjukin KTP, lalu naik tangga menuju dek penumpang di lantai 2. Literally naik tangga kecil sambil gotong koper, padahal pundakku lagi memanggul ransel dan tanganku satunya bawa handbag. Pas turun, kudu mengulang kerempongan yang sama. Setelah turun dari kapal, baru naik bus kecil (dari Gilimanuk). Itu pun masih ngetem dan rute yang dilewati bakal lebih panjang.

Well, berkaca dari pengalamanku sebelumnya, aku jadi pengen langsung naik bus AKAP (antar provinsi) dari pelabuhan Ketapang. Biar gak perlu rempong naik turun ngangkat koper dan cepat sampai tujuan. Sayangnya, aku googling buat nyari pengalaman orang nyegat bus dari pelabuhan Ketapang kok gak nemu. Aku tanya temenku pun gabisa kasih info valid.

Pokoknya temenku dikasih tau temennya yang pernah nyegat bus di pelabuhan Ketapang, kena harga 90 ribu untuk tiba di Denpasar.

So, aku bakal naik bus yang harga tiketnya gak lebih dari 90 ribu.

Trus aku bingung dong naik bus yang apa dan di mana. Aku lihat sih orang-orang pada nyegat bus apa pun yang penting jurusan Denpasar di dekat portal jalur untuk bus. Tapi aku gak berani soalnya parno sapa tau malah dipalak? Tapi lucunya, ujung-ujungnya aku malah nurut ama calo LOL.


Iya jadi ada calo gitu di deket gerbang pelabuhan Ketapang. Mereka nyetop bus secara random kemudian koperku tiba-tiba diangkut gitu aja. Ya langsung aku tembak, "Berapa Pak tarifnya? Saya gak mau kalo mahal."

Terus dibilang, "Udah 80 ribu aja.."

Weleh yaudah aku naik aja. Kemudian bus memasuki area pelabuhan Ketapang dan naik kapal penyeberangan yang hendak berangkat. Nah sewaktu nyebrang ini lah sopir bus yang aku tumpangi berjalan-jalan di area kursi penumpang. Aku pun nggak luput diajak ngobrol.

Jujur, gegara kebanyakan baca hasil googling nyeremin, aku sempet takut ama Pak Sopir ini. Gataunya ternyata beliau baik loh, apa karena kita sama-sama orang Surabaya jadi beliau jadi lebih hangat gitu.

Dari Pak Sopir inilah aku jadi tau kalo bus AKAP sejak hari itu (24 Oktober 2017) nggak boleh turun di Terminal Ubung, melainkan Terminal Mengwi. Gara-gara ada perkelahian awu-awu (calo) yang rebutan penumpang ato apalah dan berujung ke pencopotan jabatan, elah rumit deh pokoknya kasus di Ubung. Makanya Damri juga gaboleh bawa penumpang dari Stasiun Banyuwangi ke Terminal Ubung. Yah intinya putusnya kerjasama antara PT KAI dan Damri ada hubungannya dengan ini.

Dalem hati aku cuma bisa, "Oalah.. oalah.." *speechless* *aku hanya korban*

Trus Pak Sopir tiba-tiba nanya.

"Tadi kena berapa?"
"Ha? Apanya Pak?"
"Ya bayar naik busnya.."
*masih loading, karena heran kenapa beliau nanya begitu. Sopir bus bukannya sama-sama tau?*

"Eh, kena 80 ribu Pak."
"Oh ancene arek-arek iku ndablek. Tuman."

Tak kusangka Pak Sopir menggerutu seperti itu. (yang artinya: oh dasar orang-orang ini nakal, kebiasaan).

Kemudian beliau melanjutkan, "Aku ini cuma dikasih 40 ribu Mbak (oleh mereka). Padahal kalo Mbak langsung bayar ke saya paling cuma 50 ribu."

Oh my.... geram sekali ku mendengarnya. Geram antara kesel ama orang-orang calo sekaligus meratapi kenaifanku. Tapi yaudalah. Aku lagi PMS, masih waras aja syukur alhamdulillah.

Setelah 45 menit berlalu, kapal pun mendarat di Pelabuhan Gilimanuk. Bus pun melaju keluar menuju gate pemeriksaan. Seluruh penumpang bus diwajibkan turun untuk menunjukkan kartu identitas yang berlaku (KTP/SIM/Passport) pada petugas.

Setelah beres, bus pun melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 5 jam untuk mencapai Terminal Mengwi. Subhanallah, perjalanan yang setara dengan bus jurusan Surabaya - Probolinggo.


FYI, dari Terminal Mengwi ke Ubud ini sebenernya lebih deket dibandingkan dari Terminal Ubung. Tapiiii, setiap panduan perjalanan darat (murah meriah) ke Ubud menyatakan:

'Turun di Terminal Ubung lalu cari angkot menuju Terminal Batu Bulan. Setelah itu cari angkutan yang biasa mengantar ke daerah Ubud.'

Ribet amat yha. Males kali udah sampe Mengwi malah balik ke Ubung. Yaudalah satu-satunya solusi ya naik transportasi online!

Trus aku bingung, nungguin taksi online yang aman di sekitaran mana ya? Aku sama sekali buta daerah sekitaran Mengwi. Akhirnya pasrah aja deh ampe bus yang aku tumpangi masuk ke Terminal Mengwi. Pikirku, ah ntar tinggal jalan aja keluar terminal trus nyari Indomaret/Alfamart. Nyatanya, jalan masuk ke dalem Terminal Mengwi luar binasa jauh boook!

Aku gak berani minta sopir buat nurunin aku di gerbang depan terminal tadi. Takut aja, yakali orangnya anti transportasi online. Lagipula posisiku waktu itu lemes banget nahan nyeri haid. Gak ada tenaga buat nyamperin Pak Sopir.

Gataunya, Pak Sopir ini malah ngomel kesel pas tau aku pengen naik taksi online. Diomelin kenapa gak bilang dari tadi, soalnya kalo aku bilang pasti bakal diturunin di tempat yang aman buat pesen taksi online. Yaaa maafkan dong Pak, aku kira bapak lebih suka berkonspirasi dengan para sopir angkutan di terminal. Bikin nyesel ihhh yaudalah. Bersyukur aja bisa ketemu Pak Sopir yang rupanya baik hati ini.

Turun dari bus aku bengong sebengong-bengongnya. Clueless, gatau mo ngapain. Banyak angkot seliweran sana-sini, tapi pasti mereka bakal ngetem ntar huhu. Aku pengen cepet sampai, cepet istirahat dan mandi!


Ada bus Trans Sarbagita jurusan Terminal Ubung. Awalnya mau naik itu sih buat turun di mana gitu. Eh ternyata busnya sepi banget, gak ada penumpang seorang pun. Kalo mo berangkat ya nunggu dapet penumpang. Astaga.

Untung ada Mbak-Mbak yang satu bus denganku, dianya juga bingung mau ke Badung. Awalnya mau naik ojek online tapi gajadi karena pacarnya bersedia jemput. Trus Mbak ini bersedia nemenin aku jalan kaki menjauh dari terminal buat nyari tempat berlindung dari serbuan orang-orang yang menawarkan taksi ato angkutan apa pun itu.

Masih di area terminal, ada depot kecil yang merangkap toko kelontong. Yaudah melipir ke situ buat pesen taksi online. Awalnya nyari Go-Car karena saldo Gopay masih banyak, eh gak ada satu pun. Ngecek di Grab sama Uber, tarifnya lebih murah Uber. Cuss pesen Uber dan chatting ama drivernya, diminta buat ketemuan di depan kantor pos yang berjarak sekitar 150 m dari posisiku.

Hokelah aku nurut nyamperin abang drivernya, demi keamanan dan kedamaian bersama.
*iyalah, ngeri banget kalo ketauan oknum terminal terus dikepung rame-rame lalu dipaksa turun, hiiy....

๐Ÿš˜Perjalanan Naik Uber๐Ÿš˜
Soalnya emang pernah ada kejadian seperti itu, cerita abang driverku. Waktu itu si abang dapet penumpang bule, trus ketauan. Tapi untung abang ini aktingnya berhasil buat ngaku jadi temennya si bule.

Ternyata perjalanan dari Mengwi menuju Ubud lumayan lama. Kalo berdasarkan Google Map butuh waktu 40 menit, realitanya bisa 15 - 20 menit lebih molor soalnya macet banget euy. Jadi gak tega cuma ngasih 87 ribu, jadilah aku kasih 100 ribu dong. *anaknya gak tegaan* Toh abang drivernya baik dan ramah, ikhlas deh ngasih segitu.

Finally, pukul 2 siang aku nyampe hostel yang bakal aku tinggali selama 7 hari ke depan. Penasaran seperti apa hostelnya? Tungguin aja ya postinganku berikutnya! ๐Ÿ˜—

๐Ÿ’›Hikmah dari tulisan ini:

1. Kalo bawa barang banyak, lebih enak naik kereta eksekutif. Kalo gak ada duit ya relakanlah pelototan orang segerbong menghujam jantung.

2. Kereta jurusan Surabaya - Denpasar ditiadakan, entah sampe kapan.

3. Tiap kali pengen menghindar dari orang yang menawarkan angkutan, bilang aja dengan sopan, "Saya dijemput, Pak." Bilang seyakin-yakinnya seolah kamu bakal dijemput beneran oleh babang Gong-Yoo naik elang peliharaan Raja Indo Eskrim Nusantara.

4. Kalo mau nyegat bus jurusan Denpasar di pelabuhan Ketapang, cegat aja di dekat gate masuk jalur bus. Jangan nyegat di depan pelabuhan kayak aku, banyak calo berkeliaran. Oya, bus asal mana aja selama tujuan akhir Denpasar bisa dinaiki kok.


5. Tarif normalnya berkisar antara 50 - 60 ribu. Untuk jaga-jaga, kasih aja selembar uang 50 ribu. Kalo kurang, baru kasih deh sisanya. Lebih bagus kalo gak lebih dari 60 ribu itu (berdasarkan kondisi ekonomi Oktober 2017 loh ya ini).

6. Aku lupa nggak nanya nama sang bapak sopir, bahkan nyatet nama PO bus-nya aja lupa. Hadeeeh. Yang aku ingat cuma pangkalan bus-nya berlokasi di Kedung Cowek, dan setelah aku browsing di situ ada bus PO Sinar Jaya. Ya itu kali. Kata beliau, tarif busnya Surabaya - Denpasar cuma 150 ribu. Wah ya murah dong, separo harga tiket pesawat termurah. Walau busnya gak bagus-bagus amat, tapi not bad kok.

7. Semua bus AKAP alias antar provinsi tujuan akhirnya di Terminal Mengwi. Terminal Ubung hanya berfungsi untuk bus kecil dan angkutan kota. Kalo mau ke Terminal Ubung dari Terminal Mengwi bisa naik Bus Trans Sarbagita. Bus Trans Sarbagita murah sih cuma 7 ribu tapi sepi hiks.

8. Total biaya perjalanan dari Surabaya Gubeng sampe depan hostel di Ubud:
Kereta api: 65 ribu
Bus: 80 ribu
Uber: 100 ribu
= 245 ribu
*

FIUHHH PANJANG JUGA TERNYATA HAHA. Gak apa lah, asal ini bermanfaat banget buat kamu-kamu yang butuh info nyebrang ke Bali via nyegat bus dari pelabuhan Ketapang. Well, kalo ada kesempatan buat ke Bali apakah aku bakal ngulang perjalanan ini?

Hmmm... kalo ada tiket pesawat seharga 300 ribu aku pilih naik pesawat aja bhahahak. Kecuali dapet tiket kereta api eksekutif murah lagi, aku mah hayuk-hayuk wae. ๐Ÿ˜†

Stay tune untuk cerita berikutnya ya!
-Hilda Ikka-

14 comments

  1. Kalau aku juga lebih milih naik pesawat apa kendaraan pribadi.. cuma duitnya gak mau dipilih, huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya looh kalo pesawat PP udah 700 ribuan

      Delete
  2. Aku milih naik pesawat aja kalau ada yang bayarin wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin deh taun depan ada yang bayarin ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜

      Delete
  3. The truly "perjalanan puanjang" yak sis haha... Aku kayaknya kalau jadi kamu milih naik pesawat. Haha luwih larang, yowes lah cepet sampai wkwk. tapi berarti kudu diet jajan yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha ini panjang biar detil buat para pencari info ๐Ÿ˜๐Ÿ˜
      Nah itu, biar pas budget kan kudu ada yang dikorbanin. Aku ngorbanin ini supaya ada duit buat jajan haha

      Delete
  4. mending pesawat deh, ngga capek. lebih mahal sih.. tapi worthed

    ReplyDelete
  5. Perjalanan panjang sepanjang tulisannya hehe.
    Ribet juga ya kalo ga pake pesawat. Kalo aku mending nabung agak lama lagi biar bisa beli tiket pesawat deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha ini masalah bujet aja sih Mbak, uangnya ada tapi sayang kalo keluar bujet lebih. Jadi kudu ada yang dikorbanin. Dalam hal ini aku ngorbanin kenyamanan demi bisa njajan di Bali hahaha

      Delete
  6. duh ngeri bacanya. Tp ya mending pesawatlah klo ngeri gitu. Keselamatan diutamakan, hihi

    ReplyDelete
  7. Artikel yang sangat membantu Mbak Ika. Memberikan gambaran seperti apa perjalanan ke Bali naik angkutan umum setelah Terminal Ubung "ditutup".

    ReplyDelete
  8. Hahahaha bacanya campuran dag dig dig juga, ikutan ngerasa capek ama lucu liat gbr2 GIF nya :p. Cocok banget.. Aku mah sampe skr ga berani mba jalan sendiri gitu.. Kalo pesawat msh okelah.. Tp transportasi lain, ga deh. Hrs ajak suami ato temen :D.

    ReplyDelete
  9. Pengen deh ke Bali. Seru juga ya perjalanannya hahaha.
    Makasih tulisannya. Jadi ada bayangan kalau mau perjalanan murah ke Bali mesti gimana.

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Tinggalkan komentar yang baik dan sopan ya. Maaf untuk link hidup akan otomatis terhapus. :)

I love to read all comments from you all, but sorry if I can't answer all. :)

Sexy Red Lips