Tips Menabung Efektif Jangka Panjang dengan Investasi Reksadana Saham

Menabung Saham vs Reksadana Saham

Tips Menabung Efektif Jangka Panjang dengan Investasi Reksadana Saham - Tulisan ini merupakan seri keempat dari hasil menimba ilmu di #KopdarInvestarianMAMI.

Sedari kecil, tentu kita sudah diajarkan untuk menabung kan? Yakni dengan menyisihkan sebagian uang untuk membeli sesuatu yang kita inginkan di masa depan, baik dalam jangka waktu pendek maupun lama. Namun begitu dewasa, pola menabung sederhana seperti ini tampaknya sudah nggak relevan lagi. Lho, kenapa?

Aku udah pernah menyinggung soal inflasi beberapa kali sebelumnya. Yes, hambatan kita dalam menabung untuk masa depan itu inflasi. Soalnya inflasi menyebabkan nilai tukar kita menurun di masa depan.

Misalkan nih, kamu ngincer oven listrik. Di tahun ini harganya 700 ribu. Kamu berniat nabung selama 3 tahun. Eh ternyata 3 tahun kemudian harganya berubah jadi 770 ribu. Itu contoh dari dampak inflasi. Betewe, itu baru oven listrik. Biaya sekolah anak? Lebih gila lagi.

Pernah dengar kan slogan “kerja keras itu nggak cukup, perlu kerja cerdas juga”. Nah, untuk melakukan kerja cerdas, kita bisa mengubah gaya menabung kita yang konvensional menjadi dengan berinvestasi.

Salah satu program investasi untuk pemula yang paling banyak disarankan adalah reksadana. Kenapa? Karena minim risiko dan kita gak perlu memonitor setiap saat. Untuk penjelasan lengkapnya bisa kamu baca di postingan berikut ini:

Mengapa Reksadana? Karena Nabung Aja Enggak Cukup!
Reksadana Syari’ah: Aman dan Nyaman

Berinvestasi Reksadana sesuai Kebutuhan: Jangka Panjang atau Pendek?

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi, kenali dulu tujuannya. Untuk apa? Mau dipakai kapan uangnya? Dengan mengetahui tujuan dan kebutuhan, kita bisa memutuskan produk reksadana yang tepat.

Yap, ada 4 macam produk reksadana: reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana saham.


Reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap, cocok untuk jangka waktu investasi di bawah 5 tahun. Karena fluktuasi cenderung rendah sehingga potensi hasil cenderung stabil. Untuk detail lengkap kedua jenis reksadana ini udah pernah aku ulas di artikel sebelum-sebelumnya. Cuss klik link berikut ini untuk penjelasannya:

Capai Tujuan Finansial dengan Reksadana

Lalu bagaimana dengan investasi untuk jangka waktu lebih dari 5 tahun? Tentu saja lebih cocok menggunakan jenis reksadana campuran dan reksadana saham.

Menabung Saham vs Reksadana Saham

Sebelum aku jelaskan mengenai reksadana campuran, ada baiknya kita pahami reksadana saham dahulu.

Saham tentunya berbeda dengan obligasi. Kalau obligasi sifatnya pinjaman, maka saham sifatnya patungan. Hasil dari saham bisa lebih tinggi dari obligasi karena perusahaan yang sahamnya kita miliki punya potensi berkembang bagus.

Tapiiii potensi kayak gini kan nggak dimiliki semua perusahaan. Mau gak mau kita sebagai investor yang harus jeli melihat peluang dan mempertimbangkan ini-itu. Nah ini yang seringkali bikin orang ogah investasi saham: ribet euy! Apalagi kalo awam dan gak ada waktu buat belajar, rasanya udah bye duluan aja!

Apalagi saham itu kita belinya harus 1 lot ya, nggak bisa ngecer. Kalo nilai saham turun, ya rugi lah 1 lot itu. Beda dengan reksadana yang investasinya per unit.

Maka dari itu kalo belum berani berinvestasi saham langsung, ada baiknya investasi reksadana saham aja. Untuk jangka waktu 7 sampai 10 tahun, cocok banget. Lagipula reksadana itu kan dikelola manajer investasi yang tentunya profesional dan lebih memahami lika-liku dunia investasi. Kita sebagai investor bakal ngerasa aman dan nyaman.

Lalu bagaimana dengan reksadana campuran? Well, reksadana campuran itu unit yang dijual merupakan campuran dari reksadana pasar uang, pemdapatan tetap, dan saham. Ini cocok kalo kamu mau investasi lebih dari 5 tahun tapi nggak pengen semua modalnya dicemplungin ke saham.

Prosentase return dari reksadana campuran yakni 40% reksadana saham, 40% reksadana pendapatan tetap, dan 20% reksadana pasar uang.

Atau mungkin kamu bisa campur-campur sendiri. Jadi kamu beli reksadana secara terpisah. Misal beli reksadana saham 400 unit, reksadana pendapatan tetap 300 unit, dan reksadana pasar uang 300 unit. Suka-suka.


Anyway, kurang lebih udah 7 bulan aku berinvestasi reksadana di Manulife Reksadana atau MAMI. Selama ini aku cuma investasi di reksadana pasar uang. Secara return/hasil memang nggak banyak, tapi stabil. Aku jadi ngerasa percaya dan aman sehingga pengen nyoba reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham.

Portfolio Reksadana Manulife

Untung Manulife memfasilitasi investornya untuk mengalihkan/switching unit reksadana ke jenis yang lain. Jadi aku kan punya sekitar 490 unit reksadana pasar uang. Nah 150 unit-nya aku alihkan ke reksadana pendapatan tetap. Praktis dan mudah banget, serta nggak ada biaya tambahan. Mantullll.

Yuk mulai investasi dari sekarang. Kalo kamu berminat berinvestasi reksadana di Manulife, bikin akun di klikMAMI.com ya. Nanti jangan lupa masukin kode ‘HILDAF34’ di kolom referral.

Selamat mencoba! 💪💪

Salam investor,
-Hilda Ikka-

1 comment

  1. sejak tau ttg reksadana dan obligasi di bank tempat aku kerja, aku ga prnh lg menabung dlm bntuk deposito ato tabungan biasa :p. ga menguntungkan memang. skr ini utk jk panjang ya aku lbh milih reksadana dan emas. kmrn bankku menawarkan staffsnya utk beli saham kantor yg dipotong secara bulanan dari gaji, selama 2 thn, dengan hrg spesial dan harga fix selama 2 thn itu. menguntungkan sih. krn dlm 2 thn pasti hrg sahamnya naik (aku optimis krn percaya saham HSBC masih kuat wkwkwk). jd nanti bisa dapat dividen dan profit dari selisih forex nya juga :D.krn sahamnya aku beli dlm bntuk poundsterling.

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Tinggalkan komentar yang baik dan sopan ya. Maaf untuk link hidup akan otomatis terhapus. :)

I love to read all comments from you all, but sorry if I can't answer all. :)

Sexy Red Lips